Mantan Lawan Sebut Jonathan Rea Pembalap Terbaik di Dunia

Sebastian Fränzschky
·Bacaan 2 menit

Pembalap Irlandia Utara tersebut memegang rekor juara dunia WSBK usai mengoleksi enam titel. Ia menorehkan 99 kemenangan di ajang tersebut. Terlepas dari pencapaian apik Rea, selalu ada noda dalam daftar prestasinya ketika menyinggung kiprahnya di MotoGP.

Di tengah pengabdian kepada Honda, antara 2008-2014, ia sempat ditawari untuk mencicipi MotoGP. Ketika itu, Rea diminta menggantikan Casey Stoner untuk dua edisi.

Ia mesti menyesuaikan diri dengan RCV213 yang menggunakan ban Bridgestone dan rem karbon. Tanpa sempat berlatih, pria kelahiran 33 tahun itu seolah melakukan misi bunuh diri.

Pada akhirnya, Rea sampai ke peringkat kedelapan di Misano dan ketujuh di Aragon. Hasil lumayan jika mengingat ia masih memberi sedikit poin untuk Honda.

Namun, pabrikan Jepang tersebut kurang puas dan tidak pernah menawarkan kontrak permanen MotoGP.

Dream-Team: Jonathan Rea mit Kawasaki-Crewchief Pere Riba

Dream-Team: Jonathan Rea mit Kawasaki-Crewchief Pere Riba<span class="copyright">Motorsport Images</span>
Dream-Team: Jonathan Rea mit Kawasaki-Crewchief Pere RibaMotorsport Images

Motorsport Images

Kepala kru Pere Riba memberikan pembelaan karena ia sangat mengenal pembalap yang kini menunggangi motor Kawasaki tersebut. Keduanya merupakan musuh di trek, sebelum jadi kolega.

“Orang selalu melihat bagaimana hasil balapan dua kali di MotoGP. Padahal dia tidak mengalami insiden, meski mendapat tekanan besar dari Honda. Meski hujan mengguyur sesi latihan, dia masih bisa mendapat hasil bagus di balapan,” ucapnya kepada Motorsport.com.

“Tentu dia tidak menang. Orang-orang yang mengharapkan itu bodoh dan tidak mengerti olahraga. Dia mendapat hasil bagus. Di MotoGP, sangat sulit mengeluarkan yang terbaik dari motor.”

Pria Spanyol tersebut menggarisbawahi tidak ada waktu bagi Jonathan Rea mengenal motor untuk kelas premier.

Seandainya hal itu didapatkan koleganya, bukan tak mungkin pembalap berpostur 176 cm itu jadi penantang juara dunia MotoGP.

“Ban sangat khusus dan itu prototype di mana Anda harus menyatukan semuanya, yang sangat sulit. Waktu dibutuhkan untuk itu,” Riba menjelaskan.

“Kalau Jonathan pindah ke MotoGP dua atau tiga tahun lalu, mendapat kontrak bagus dengan tim bagus, dia akan membalap di posisi atas. Saya tahu itu. Dalam hal detail, Jonathan impresif.”

Jonathan Rea, Repsol Honda Team

Jonathan Rea, Repsol Honda Team<span class="copyright">Repsol Media</span>
Jonathan Rea, Repsol Honda TeamRepsol Media

Repsol Media

Baca Juga:

Rea Pede Bisa Pertahankan Gelar WSBK pada Tahun Ini Tito Rabat Bertekad Hentikan Dominasi Rea

Keyakinan Riba bukan sekadar omong kosong. Rea sudah membuktikan diri mampu mengatasi situasi sulit di lintasan WSBK.

“Dia punya sensor sangat sensitif, yang bersama dengan skill-nya, menyebabkan waktu lap yang gila pada lap pertama,” ucapnya.

“Pada kondisi sulit, dia lebih cepat 3 atau 4 detik daripada pembalap lain. Melakukannya dengan tepat, itu sangat sulit. Dalam situasi seperti ini, skill pembalap terlihat.

“Johnny sekarang berkomunikasi dengan motornya seperti seorang pacar. Itu adalah relasi sangat intim. Dia mengerti segalanya dengan sangat cepat. Itu poin pertama. Poin kedua, kemampuan alaminya yang sangat mengesankan. Jonathan merupakan salah satu dari lima pembalap terbaik di dunia menurut saya, meski Anda menghitung MotoGP.”