Mantan Menristek ajak percepat adopsi teknologi digital

·Bacaan 2 menit

Mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengimbau kepada pemerintah dan masyarakat untuk mempercepat adopsi adanya perkembangan teknologi digital terutama di tengah pandemi COVID-19.

“Pandemi yang sekarang kita alami pada dasarnya adalah trigger untuk mempercepat transformasi digital,” kata Bambang Brodjonegoro dalam diskusi bertajuk Winning The Competition in Digital Economic Era di Jakarta, Kamis.

Bambang Brodjonegoro yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama/Komisaris Independen PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menuturkan percepatan adopsi teknologi digital dapat dilakukan terhadap struktur dan ekonomi Indonesia.

Baca juga: Mantan Menristek: Startup bakal optimalkan peluang ekonomi digital RI

Menurutnya, dengan melakukan transformasi digital maka ekonomi Indonesia akan bergeser dari berbasis Sumber Daya Alam (SDA) ke inovasi sehingga mampu menangkap peluang-peluang pasar pasca pandemi.

Ia mencontohkan Korea Selatan sempat merupakan negara termiskin di Asia pada 1950-an namun melalui inovasi dan adopsi digitalisasi yang cepat, maka saat ini negara tersebut mampu menjadi negara maju.

“Itu karena usaha sendiri yang dimulai dari sumber daya manusia yang berujung pada inovasi dan product development,” ujar Bambang Brodjonegoro.

Baca juga: Mantan Menristek: Indonesia harus terapkan ekonomi berbasis inovasi

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director & Chief Operation Office PT Bank DBS Indonesia Bimo Notowidigdo mengatakan pandemi menuntut masyarakat dan industri untuk mampu mengadopsi teknologi digital secara cepat.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan nilai transaksi uang elektronik yang meningkat 41 persen yaitu dari Rp145 triliun pada 2019 menjadi Rp205 triliun pada 2020.

"Adanya physical distancing membuat nasabah yang biasanya transaksi ke cabang sekarang dibatasi. Ini adalah kesempatan mempercepat adopsi digital banking,” katanya.

Sementara itu Presiden Direktur PT Akulaku Finance Indonesia Efrinal Sinaga menambahkan digitalisasi semakin dekat dengan masyarakat termasuk dalam aspek industri pembiayaan.

Baca juga: BI perkirakan transaksi digital banking 2021 capai Rp32.206 triliun

Ia menjelaskan dari 270 juta penduduk Indonesia hanya sekitar 23,2 persen yang masuk dalam kategori banked, sedangkan 26 persen masuk kategori underbanked dan 50,8 persen di kategori unbanked.

Efrinal menyebutkan dari 23,2 persen kategori banked hanya 5 persen yang mengakses pinjaman ke perbankan sehingga ini adalah angka yang cukup rendah dan merupakan peluang bagi perusahaan pembiayaan untuk menerapkan digitalisasi.

"Key succes factor kami yaitu kami punya digital value chain dari marketplace hingga bank. Kami punya big data, kami bisa banyak melakukan AI, risk management, data analytical, ekosistem, sharing economy, dan paperless,” ujarnya.

Baca juga: Pakar: Kolaborasi bank dan fintech semakin terbuka lebar

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel