Mantan Presiden Mahmud Ahmadinejad Kritik Intelijen Iran Lantaran Mata-Matai Rakyat

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Teheran - Mantan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad, mengkritik intelijen Iran karena salah fokus. Ahmadinejad berkata intel malah memata-matai masyarakat ketimbang melindungi area vital negara.

Dilaporkan Saudi Gazette, Selasa (1/6/2021), serangan kepada fasilitas nuklir Natanz yang terjadi baru-baru ini merugikan negara hingga US$ 10 miliar. Ahmadinejad berkata hal itu harusnya bisa dicegah.

Serangan terbaru pada Natanz terjadi pada April 2021. Diduga dalangnya adalah Israel.

Ahmadinejad berkata, intelijen harusnya fokus pada fasilitas tersebut ketimbang ikut campur di urusan domestik dan memata-matai masyarakat.

Mantan presiden Iran itu membahas isu-isu tersebut dalam wawancara selama dua jam dan tayang di YouTube. Menurut Iran International, wawancara itu dilakukan beberapa hari sebelum pencalonan Iran di pilpres Iran ditolak.

Ia juga membahas pencurian dokumen arsip nuklir oleh Israel pada 2018, serta untuk pertama kalinya pencurian dokumen di pusat antariksa Iran, namun ia tak mengelaborasi mengenai kasus tersebut.

Lebih Akrab dengan Dunia Arab

Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)
Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)

Ahmadinejad menjabat sebagai presiden Iran pada 2005-2013. Ia mengklaim hubungan Iran dan negara-negara Arab lebih dekat di masa pemerintahannya.

Tiga negara yang ia sebut tak ragu membantu Iran adalah Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar, demikian laporan Iran International.

Selain itu, Ahmadinejad meminta agar ada reformasi-reformasi di institusi Iran. Ia menyebut lembaga-lembaga itu harus bersikap bahwa mereka adalah milik rakyat. Kurangnya kepercayaan rakyat kepada lembaga pemerintah dianggap akibat sikap lembaga itu sendiri

Ahmadinejad turut menyayangkan adanya pihak-pihak yang tidak mengizinkan unjuk rasa damai, serta membawa negara menuju kekerasan demi kepentingannya sendiri.