Mantap Menerima Lamaran Pria Pengangguran, Pernikahan Langgeng Hingga Sekarang

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Puji Khristiana Dyah Nugrahaini

Tidak menyangka, tahun ini kami merayakan anniversary pernikahan ke-7.

Meyakinkan orang tua untuk menerima lamaran laki-laki yang masih nganggur jelas bukanlah hal yang mudah. Maklum. Pengalaman orang tua yang telah menjalani pernikahan puluhan tahun dengan ekonomi sebagai faktor cobaan utama membuat mereka selektif untuk menerima calon menantu. Tidak harus kaya. Tapi juga bukan pengangguran.

"Menikah itu tidak hanya modal cinta. Kalau lapar, makan cinta saja tidak akan pernah kenyang." Itu jawaban mereka saat aku bercerita tentang calon suamiku yang baru saja lulus kuliah. Bukan lulusan kampus main-main. Dia lulusan dari Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Tapi apa mau dikata. Meski lulusan dari kampus negeri yang terkenal susah untuk bisa menerima mahasiswa, kalau baru saja lulus belum dapat kerja masih belum bisa dikatakan calon menantu idaman orang tua.

Jangankan orang tuaku. Aku sendiri sebenarnya masih galau dengan keputusanku menerima laki-laki itu. Umurku sendiri telah beranjak 26 tahun. Umur yang sudah bisa dikatakan telat untuk menikah. Bukannya tidak ada laki-laki lain yang mendekatiku. Banyak. Ada beberapa laki-laki lain yang mencoba mengambil hatiku. Tapi entahlah. Semua laki-laki itu tidak pernah membuat hatiku merasa "klik".

Ada 3 laki-laki lain yang kala itu berjuang mendekatiku. Laki-laki pertama teman sekantor. Belum mapan juga. Tapi lumayan sudah memiliki pekerjaan tetap. Aku menolaknya karena dia malas shalat lima waktu. Laki-laki kedua seorang PNS di kemetrian Pekerjaan Umum. Aku juga menolaknya. Sikapnya yang terlalu pamer harta membuatku curiga. Jangan-jangan sebagian pendapatannya bukan dari sumber yang halal. Aku tidak ingin sebagian dari nafkahnya tercampur dari sumber yang tidak halal.

Laki-laki ketiga seorang guru di sebuah sekolah swasta. Kalau ditanya kenapa aku menolaknya? Entahlah. Seperti tidak ada chemistry. Ada rasa enggan setiap bertemu dengannya. Maka kuputuskan untuk menolak dan mundur dengan baik-baik.

Terakhir, datanglah seorang mantan mahasiswa dari kampus terkenal yang baru saja lulus. Umurnya baru 25 tahun. Bisa dikatakan dia mahasiswa yang telat lulus. Karena butuh waktu 7 tahun untuk menyelesaikan program S1 nya. Telat sedikit sudah pasti kena DO dari kampusnya. Meski agak malas-malasan menyelesaikan skripsi, beruntung dia masih bisa lolos dari ancama DO.

Umurnya satu tahun di bawahku. Meski kami sama-sama tinggal di Semarang, tapi kami bukan jebolan dari kampus yang sama. Hanya saja aku dan dia teman satu organisasi di Forum Lingkar Pena Semarang. Sebuah komunitas penulis terbesar di kota ini. Kami sering bertemu. Meski tidak kenal terlalu dalam, minimal aku sudah sedikit paham tentang dirinya.

Asli dari Jakarta. Tinggal di Semarang untuk kuliah. Setelah lulus kuliah, dia kembali lagi ke Jakarta. Dan komunikasi kami intens melalui media sosial.

"Ukhti, maukah menikah denganku? Aku memang belum memiliki pekerjaan tetap. Masih menganggur. Tapi aku janji akan segera mencari kerja untuk datang ke orang tuamu."

Kalimatnya sederhana. Tidak terlalu berlebihan. Padahal jika dia mau, dia bisa menulis puisi yang indah. Secara dia adalah salah satu penulis di forum lingkar pena Semarang. Tapi dia memilih menggunakan kalimat sederhana untuk menyatakan cintanya.

Apa yang kurasakan saat itu. Galau. Itu pasti. Jelas dia adalah laki-laki idamanku secara pribadi. Hobi kita sama. Sama-sama suka menulis. Sama-sama menyukai dunia literasi. Tapi bagaimana dengan status penganggurannya? Padahal saat itu aku sendiri sudah bekerja di sebuah perusahaan Korea dengan posisi sebagai accounting.

Perjalanan Hingga Bertahan sampai Sekarang

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81

Setiap selesai shalat istikharah untuk meminta petunjuk, selalu ada keyakinan untuk menerimanya. Toh nanti setelah menikah aku bisa tetap kerja. Pengalamanku sudah banyak. Jikalaupun harus pindah ke Jakarta, aku pasti bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku.

Baiklah. Meski ragu, aku menerimanya. Itu berarti aku harus berjuang untuk meyakinkan kedua orang tuaku tentang laki-laki ini. Meski agak berbelit dan setengah terpaksa karena mungkin umurku yang memang sudah telat menikah versi tetangga, akhirnya kedua orang tuaku mengizinkan.

Acara lamaran digelar. Hari pernikahan ditentukan. Tepat dua bulan sebelum menikah suamiku mendapat pekerjaan pada sebuah perusahaan kontraktor dengan gaji jauh di bawah UMR Jakarta. Tidak masalah. Minimal itu sudah bisa menjawab pertanyaan ketika ada tetangga yang bertanya, "Suamimu kerja di mana?"

Sadar dengan kemampuan keuangan calon suamiku, aku tidak menginginkan pesta yang mewah. Pesta sederhana saja. Yang penting sah. Ketika banyak calon suami yang berlomba-lomba memberikan barang mewah sebagai lamaran, seperti motor, furnitur rumah, bahkan mobil, aku harus berpuas diri hanya dengan satu cincin yang harganya tidak seberapa.

Kasak-kusuk dari tetangga dan keluarga sempat kudengar. Mereka membicarakan pemberian calon suamiku yang tidak seberapa. Hanya sebuah cincin. Aku sendiri tidak masalah. Karena aku tahu untuk membeli cincin yang harganya tidak seberapa dan membawa keluarga dari Jakarta ke Semarang, tentu perlu usaha keras dari suamiku.

Uang gaji yang semuanya harus ditabung. Dan utang sana sini agar acara pernikahan bisa berlangsung lancar.

Tapi tidak dengan orang tuaku. Sepertinya mereka merasa malu jika ada yang membandingkan isi seserahan suamiku dengan seserahan tetangga atau saudara saat mereka menikah. Sempat terjadi konflik kecil yang diakibatkan rasa tidak percaya diri kedua orang tuaku. Tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikannya. Aku jelaskan pada orang tuaku agar tidak terlalu mendengar kata tetangga. Kalau memang kemampuan suamiku hanya segitu, ya sudah. Yang penting sah. Siapa tahu perjalanan pernikahan kita akan dapat limpahan rezeki.

Pesta pernikahan sederhana akhirnya digelar. Dan kami sah menjadi sepasang suami istri.

Lalu apa kabar dengan cincin nikah yang tidak seberapa harganya itu?

Ternyata ujian pernikahan kami memang dalam hal ekonomi. Tepat di usia pernikahan kami satu tahun, cincin itu terjual untuk biaya kelahiran anak kami. Waktu itu suamiku kena PHK. Dan aku juga memutuskan berhenti bekerja karena ingin fokus membesarkan anak kami. Suamiku berjanji akan menggan cincin itu di waktu yang lain.

Sampai usia pernikahan kami 7 tahun dan dikaruniai 2 orang anak, ekonomi kami belum juga membaik. Setiap ada rezeki, yang kami dahulukan adalah kebutuhan anak-anak. Hingga terlupa dengan cincin yang belum bisa dibeli kembali. Pernah beberaoa kali aku mencoba menabung untuk membeli cincin. Tapi lagi-lagi. Keperluan anak-anak mengalahkan segalanya.

Aku masih bisa berharap seperti layaknya seorang istri lainnya. Ada cincin nikah yang melingkar di jari mereka yang menandakan bahwa dia sudah menikah. Entah kapan aku kembali bisa punya cincin. Tapi harapan itu masih tetap ada sampai sekarang. Dan aku akan mewujudkannya. Bagaimanapun caranya.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel