Manusia Bisa Berevolusi seperti Ular

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences telah menemukan bahwa manusia sama seperti semua mamalia dan reptil lainnya, yaitu memiliki kapasitas biologis untuk mengembangkan ludah berbisa atau memiliki racun.

Meskipun sangat tidak mungkin manusia akan mengeluarkan cairan yang berpotensi mematikan, namun penelitian tersebut mengatakan bahwa kelenjar ludah pada manusia memiliki hubungan dengan kelenjar racun pada hewan reptil seperti ular kobra.

Baca: Ular Derik Kena Mutasi, Hasilnya Bikin Terkejut

Hal ini mengarah pada teori bahwa dengan kondisi yang tepat, hewan seperti tikus mungkin bisa berevolusi menjadi berbisa, menurut situs Mashable, Sabtu, 3 April 2021.

Studi tersebut dilakukan oleh para ilmuwan dari Okinawa Institute of Science and Technology Graduate University (OIST) dan Australian National University. Mereka melibatkan studi gen tertentu yang terkait dengan kelenjar air liur dan kelenjar racun.

Kelenjar racun yang dipelajari berasal dari ular Habu. Tim mengidentifikasi lebih dari tiga ribu gen. Mereka menemukan sejumlah besar protein yang disebut kallikreins sebagai mekanisme perlindungan setiap kali sel menjadi stres.

Tim kemudian membandingkan gen ini dengan gen serupa lainnya yang ditemukan pada berbagai mamalia termasuk manusia, simpanse, dan anjing. Ilmuwan menemukan bahwa gen dari jaringan mamalia bertindak serupa dengan yang ditemukan di kelenjar racun ular.

"Ini adalah bukti nyata pertama bahwa teori kelenjar racun berevolusi dari kelenjar ludah awal. Temuan tersebut juga mengkonfirmasi sesuatu yang secara intuitif diyakini oleh para ilmuwan lain sebagai kebenaran," demikian keterangan resmi bersama ilmuwan dari Jepang dan Australia.

Saat ular merasa berada di dalam situasi yang berbahaya, hewan reptil itu memasukkan banyak racun yang berbeda dan meningkatkan jumlah gen yang terlibat dalam produksi racun. Mamalia seperti tikus menghasilkan bisa yang lebih sederhana yang memiliki kemiripan tinggi dengan air liur.

Ilmuwan Agneesh Barua juga mereferensikan eksperimen dari 1980-an, di mana tikus jantan ditemukan menghasilkan senyawa dalam air liurnya yang ketika disuntikkan ke tikus terbukti mengandung racun.

“Jika dalam kondisi ekologi tertentu, tikus yang menghasilkan lebih banyak protein beracun dalam air liurnya memiliki keberhasilan reproduksi yang lebih baik, maka dalam beberapa ribu tahun kita mungkin bertemu dengan tikus berbisa,” ungkapnya.

Manusia juga dapat berevolusi memiliki kelenjar yang berbisa. Tapi itu semua tergantung pada keadaan ekologis yang tepat, seperti bagaimana kebutuhan untuk menaklukkan mangsa yang menyebabkan banyak spesies ular secara genetik mengembangkan kelenjar racun.