Manusia Mati, Hidup, dan Pikiran Anda di Tengah COVID-19

Syahdan Nurdin, GoenardjoadiGoenawan
·Bacaan 1 menit

VIVA – Manusia mati, tentu saja. Tapi Tuhan mengajak kita untuk hidup. Tuhan tidak menginginkan, menyembunyikan, atau menghukum orang.

Pada saat kita masuk dalam lingkaran sakit, tentu saja bisa kita menyesali, merana, kenapa kok saya?

Anda bisa membuat analisa kenapa Anda, tombol lift memang terpapar. Ratusan orang pencet. Kenapa kok Anda terserang covid? Kenapa kok paru-paru penuh virus? Kenapa napas disedot tapi mampet.

Atau kita berpikir, besok ada lasagna, somay, bird nests, onde onde. Jeruk. Dan kita pun pasrah dengan tambahan Azhthromicyn, redemsivir, dll.

Tapi, melihat kenyataan kesempatan untuk hidup banyak terhalang. Pikiran kita adalah, apa yang bisa kita lakukan langkah-langkah mendapatkan pertolongan, lakukan langkah-langkah strategis. Kolaborasi dengan pihak lain yang lebih kuat.

Seperti maksudnya Tuhan, ketuklah maka dibukakan. Pada saat meniti masa kritis covid kita bisa bersama-sama bertumbuh. Percayalah, Tuhan tidak akan menbahas persoalan Anda saat meninggalkan dunia. Tuhan bermaksud memberi pertolongan kepada semua orang.

Hidup dan Pikiran Anda

Anda bisa punya pikiran, 1.500 Resto tutup. Ada 1.000 hotel tutup. Anda bisa melihat 4.5 juta penduduk termasuk Golongan miskin tambahan. Anda bisa melihat rumah sakit rujukan covid penuh tumpah. Anda bisa melihat berapa ratusan ribuan dollar anda korbankan.

Tapi kenyataan nya, bayi-bayi dilahirkan. Siswa SD sangat gembira masuk sekolah. Semuanya terus berpikir tentang pendidikan anak anaknya. Kuli bangunan pun berpikir tersebut.

Ibarat dunia berpacu dengan konsumtif, Iklan Toyota yaris, Toyota corolla Cross, Yamaha nmax, sejenak kita tunggu Sinovac.

Ayo book hotel, ke Bali, beli villa lagi. Turis Chinese bakal bedol masuk ke Indonesia. Ada 1.100 hektar kawasan industri purwakarta. Pelabuhan patimban dibuka. Tesla buka pabrik di Indonesia.