Maradona berusia 60 tahun dalam isolasi diri

·Bacaan 4 menit

Buenos Aires (AFP) - Terkenal karena gaya hidupnya yang cenderung liar, pemain hebat Argentina Diego Maradona berulang tahun ke-60 pada Jumat dalam suasana jauh lebih tenang dalam isolasi diri untuk melindunginya dari pandemi virus corona.

Setelah menderita dua serangan jantung dalam 20 tahun terakhir dan terjangkit hepatitis, dapat dimengerti tindakan pencegahan bagi Maradona setelah seorang pengawalnya mulai menunjukkan gejala virus corona awal pekan ini.

Kehidupan yang berlebihan dengan kokain dan alkohol telah mempengaruhi kesehatan pemain yang lincah pada masa emasnya itu.

"Tidak mungkin pemain ini bisa tampil bagus," kata mantan pemain internasional dan rekan setim Boca Juniors, Hugo Perotti, mengatakan awal tahun ini.

Perotti mengacu pada ketenaran awal Maradona yang membawanya ke jalan menuju kecemerlangan, kemuliaan, tetapi juga kehidupan yang berlebihan dan sekaligus tragedi.

Lahir di lingkungan Kota Buenos Aires yang miskin pada 30 Oktober 1960, Diego Armando Maradona memperlihatkan bahwa ia memang dikarunia bakat istimewa.

Sejak itu pemain karismatik dan kontradiktif ini telah jatuh berkali-kali dan bangkit kembali dari jurang, dan selalu dengan caranya yang unik dan tak ada bandingannya.

Pemberontak dan cerdik, macho, teman setia dan sekaligus musuh yang pendendam, Maradona selalu menjadi magnet.

"Pada usia 18 tahun dia tidak bisa jalan-jalan di Afrika. Pesawat tidak bisa terbang karena landasan pacu dipenuhi penggemarnya," kata Perotti.

"Itu terjadi pada tahun 1981, ketika tidak ada internet, telepon seluler, tidak ada apa-apa. Dia melampaui setiap batasan manusia normal. Dan saya pikir dia membayar konsekuensi dari semua ini."

Ia terbang tinggi setelah membantu Boca memenangkan gelar Argentina, ia pindah ke klub raksasa Catalan Barcelona pada usia 21 tahun. Pada usia 25 dia mengantar Argentina ke kejayaan Piala Dunia di Meksiko 86.

Di perempat final melawan Inggris, dia menunjukkan sisi jahat dalam dirinya, dan kejeniusannya, pertama mencetak gol dengan tangannya - yang kemudian dia juluki "Tangan Tuhan" - dan kemudian mencetak gol dengan cara mencengangkan, memperdaya barisan pertahanan Inggris dalam salah satu gol terhebat dalam sejarah Piala Dunia.

Kembali ke tanah airnya, dia pun diidolakan bak dewa, sampai-sampai sekelompok penggemar menciptakan Gereja Maradona sebagai penghormatan kepadanya.

Tahun berikutnya ia memimpin Napoli meraih gelar Serie A pertama mereka; suatu prestasi yang diulanginya tiga tahun kemudian.

"Saya ingin selalu menonton Diego, menggiring bola untuk selama-lamanya," kata band rock Ratones Paranoicos dalam salah satu dari lusinan lagu yang didedikasikan untuk Maradona.

Tapi sinarnya pun kemudian secara perlahan mulai meredup.

Maradona meneteskan air mata pada tahun 1990 setelah ia gagal mengantar Argentina yang tidak disiplin untuk mempertahankan Piala Dunia, kalah 0-1 dari Jerman Barat di final.

Tahun berikutnya, karirnya di Napoli berakhir dengan memalukan setelah dia diganjar larangan bermain 15 bulan karena mengonsumsi kokain - sesuatu yang dikabarkan telah dilakukannya sejak masa-masa di Barcelona.

Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat seharusnya menjadi semacam kebangkitan bagi Maradona, tetapi dia malah dipulangkan dengan rasa malu setelah kembali gagal dalam tes obat bius terlarang.

"Mereka memotong kaki saya," keluh Maradona. Secara realistis, meskipun dia bermain selama beberapa tahun di Boca, karir bermainnya sudah berakhir.

Dia mencetak 346 gol dalam 679 pertandingan selama karirnya dalam rentang 21 tahun.

Sebagai seorang pelatih dia tidak pernah menikmati kesuksesan yang sama, dan tentunya tidak memiliki bakat yang sama.

Ditugaskan memimpin tim nasional dengan ujung tombak Lionel Messi yang dalam masa keemasan, pasukan Maradona tersingkir dari Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dengan kekalahan telak 0-4 perempat final oleh Jerman.

Meski punya nama besar, dia jarang mendapat tawaran, baik dari klub di Uni Emirat Arab, Meksiko atau tanah airnya, di mana dia saat ini menjadi pelatih di Gimnasia y Esgrima La Plata.

Karier kepelatihannya sering diganggu oleh serangan penyakit, yang sebagian besar akibat ulahnya sendiri.

Pada tahun 2001, empat tahun setelah pensiun, Maradona berbicara kepada Bombonera yang penuh sesak - kandang Boca Juniors - dan menyinggung kecanduannya: "Saya telah membuat kesalahan dan membayarnya, tetapi bola tidak pernah kotor."

Itu terjadi setahun setelah dia menderita serangan jantung pertamanya saat berlibur di resor tepi pantai Uruguay, Punta del Este.

Pada tahun 2004, ia kelebihan berat badan dengan bobot 100 kilogram (220 pon) meski mempunyai tinggi badan 1,65 meter (5 kaki 5 inci), dan ia juga menderita penyakit lain yang hampir membunuhnya.

Hal tersebut memicu keputusan radikal untuk menjalani operasi bypass lambung untuk menurunkan bobot tubuhnya seberat 50 kg.

Itu bukanlah akhir dari masalahnya karena penyalahgunaan alkohol membuatnya dibawa ke rumah sakit dua kali pada tahun 2007 karena menderita hepatitis, setelah itu dia dirawat di sebuah institusi psikiatri.

Tapi dia memang tidak pernah sepi dari berita, terutama karena persahabatannya dengan berbagai pemimpin sayap kiri terkemuka di Amerika Latin, seperti mendiang pemimpin revolusioner Kuba Fidel Castro, atau Hugo Chavez dari Venezuela.

Selama 25 tahun dia bersikeras bahwa dia hanya memiliki dua anak perempuan, Dalma dan Giannina, lahir pada tahun 1987 dan 1988 dari Claudia Villafane, kekasih masa kecilnya yang menjadi istrinya selama 24 tahun.

Sejak perceraian mereka, Maradona mengaku telah menjadi ayah dari setidaknya lima anak di Italia, Kuba, dan Argentina melalui hubungan di luar nikah.

Dia juga memiliki seorang anak, Diego Fernando, pada tahun 2013 dengan mantan pacarnya, Veronica Ojeda.

"Tiga anak lagi dan kamu akan memiliki tim yang terdiri dari 11 orang. Kamu bisa melakukannya!" kata Giannina dengan sinis di Instagram.