Marc Marquez Sulit Kontrol Emosi saat Comeback di Balapan MotoGP

Zulfikar Husein
·Bacaan 2 menit

VIVA – Setelah 518 hari tidak menyentuh garis finis, pembalap Repsol Honda Marc Marquez akhirnya berhasil melakukannya pada seri MotoGP Portugal 2021 di Sirkuit Algarve, Portimao, Minggu 18 April 2021. Dia finis di urutan ke-7 usai mengawali balapan dari grid kedua.

Di awal balapan atau tepatnya selepas start, posisi Marc Marquez sempat merosot ke peringkat 10. Namun, memasuki lap ke-15, The Baby Alien mampu naik ke urutan sembilan dan unggul 2,5 detik atas adik kandungnya, Alex Marquez (LCR Honda), yang berada di posisi ke-10.

Selepas itu, Marc Marquez tampak jarang melakukan manuver untuk menyalip dan cenderung bertahan agar tidak disusul. Dia pun bisa naik ke posisi ketujuh usai dua pembalap di depannya, Alex Rins (Suzuki Ecstar) dan Johann Zarco (Ducati) terjatuh di lap 18 dan 19.

Melihat hasil yang didapatkannya pada comeback di MotoGP Portugal 2021 usai 9 bulan absen, Marc Marquez mengakui, diliputi emosi yang berlebihan. Akan tetapi, dia mencoba mengontrolnya sepanjang balapan di Sirkuit Algarve tersebut.

"Tentu saja saya diliputi oleh emosi, tetapi, saya adalah orang yang suka menyimpan emosinya untuk diri saya sendiri. Namun, ketika saya kembali ke pit setelah balapan dan melihat semua mekanik saya, saya tidak bisa mengendalikan emosi saya." kata Marc Marquez, seperti dikutip Speedweek, Senin 19 April 2021.

"Itu adalah penantian yang sangat panjang, di mana saya terus bermimpi untuk finis di balapan MotoGP. Tentu saja, saya lelah dan kelelahan ini sulit untuk diadu, tapi tetap saja, ada ledakan emosi. Saya di luar kendali, karena itu adalah momen yang sulit dilupakan," ucapnya.

Lebih lanjut, Marc Marquez mengungkapkan, momen tersulitnya dalam menjalani comeback balapan di MotoGP. Menurutnya, saat-saat lap pertama dirinya merasa seperti anak baru di sekolah yang sedang bermain sepakbola melawan seniornya.

"Yang terberat (saat comeback) adalah di lap pertama. Karena, saya tidak dapat menempatkan diri saya sendiri. Saya tidak tahu di mana posisi saya akan berada," ujarnya.

"Rasanya itu seperti di sekolah ketika Anda bermain sepakbola melawan siswa yang lebih tua, yang selalu mengakali semua lawan Anda," tutur pembalap berusia 28 tahun tersebut.