Mario Suryo Aji dan Tantangan Balapan di Era Pandemi

Scherazade Mulia Saraswati
·Bacaan 4 menit

PT Astra Honda Motor (AHM) kembali mengirimkan Mario ke CEV Moto3, feeder series yang telah sukses melahirkan pembalap muda dan bertalenta menembus kejuaraan dunia balap motor Grand Prix. Dibandingkan debutnya tahun lalu, performa Mario pada musim ini terbilang apik. Kendati sempat absen, bahkan dibekap cedera, dia mampu melakukan peningkatan.

Dalam video conference yang berlangsung pada Selasa (3/11/2020), Mario mengakui bahwa kondisi balapan memang tak sama seperti musim-musim sebelumnya. Dibatasinya aktivitas sosial turut menyebabkan perubahan jadwal latihan, di mana harus mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

“Balap di CEV tahun ini memang berbeda karena berlangsung dalam kondisi pandemi,” tutur sang pembalap berjuluk Super Mario tersebut.

“Mario juga melewatkan tes pramusim dan putaran awal di Portugal. Aktivitas lainnya juga terbatas, Mario harus menyesuaikan situasi. Tapi banyak pihak terus mendukung, dan Mario terus mempersiapkan diri untuk datang di putaran berikutnya,” ucapnya.

Dalam upaya mengejar ketertinggalan dari para rival, tantangan baru justru muncul, Mario dihantam cedera patah tulang metacarpal tangan kiri saat CEV Moto3 menyambangi Sirkuit Jerez. Alhasil, dia pun harus absen lima balapan, membuatnya kehilangan banyak poin berharga.

“Saya memiliki kecepatan yang bagus di Jerez hari Rabu dan Kamis. Tetapi sayangnya, Mario terjatuh saat kualifikasi dan cedera tangan kiri. Setelah kejadian itu, Mario justru mendapatkan pelajaran berharga. Jadi ingin berlatih lagi dengan lebih semangat dari sebelumnya,” kata pembalap berusia 17 tahun itu.

“Semua pengalaman dan pembelajaran yang Mario dapatkan semuanya positif di tahun 2020. Tentu semakin menambah semangat Mario buat berlatih, dan tampil lebih baik lagi di arena balap,” ujarnya.

Selama mengikuti CEV Moto3, Mario tinggal di kediaman Alex Baldolini, di sebuah kota kecil Barcelona bernama Sant Quirze del Valles. Bersama pembalap Thailand, Tatchakorn Buasri, Mario mengawali rutinitasnya dengan latihan ari dan bersepeda, didampingi Diego Lozano, Junior Talent Team Riders Coach.

Porsi latihan masih seperti biasa. Namun, dikarenakan cedera, Mario terpaksa latihan sepeda di rumah, sambil menjalani proses pemulihan. “Mungkin kalau untuk performa, Mario harus evaluasi setiap sesinya. Mencari tahu untuk meningkat di mana. Mungkin dari situ bisa meningkat dan bersaing di lima besar,” tuturnya.

Soal persiapan, terutama dalam hal mental, juga tidak ada kendala berarti. “Mungkin enggak sesulit yang orang lihat. Tim di sini percaya kalau Mario bisa. Mungkin itu yang membuat performa Mario bisa bagus tahun ini, walau tidak ikut dari race awal.”

Pembalap yang akrap disapa Mario SA itu lalu menambahkan, bahwa dia jauh lebih menikmati balapan tahun ini dibandingkan musim lalu. Dia pun kerap tidak sabar menantikan akhir pekan balapan setiap harinya.

Tentang upaya untuk mengimbangi barisan pembalap Eropa yang dikenal memiliki gaya balap agresif, Mario mengatakan, dibutuhkan waktu untuk meningkatkan agresivitasnya ketika berlaga di trek.

“Mungkin tahun kemarin Mario belum bisa menyalip pembalap sebanyak tahun ini, tapi Mario sudah mulai mengetahui karakter-karakter pembalap Eropa. Sudah bisa adaptasi bersaing dengan mereka, dan merasa nyaman di atas motor itu juga penting. Motor bisa diajak bersaing berarti kita bisa menyalip lebih banyak pembalap,” ucapnya.

Mario Suryo Aji, Astra Honda Racing Team

Mario Suryo Aji, Astra Honda Racing Team<span class="copyright">Astra Honda Racing Team</span>
Mario Suryo Aji, Astra Honda Racing TeamAstra Honda Racing Team

Astra Honda Racing Team

Pada kesempatan yang sama, sang pelatih Diego mengaku sangat terkesan, malah tak sungkan melontarkan pujian kepada Mario. Selain pesatnya peningkatan, juga lantaran pembalap yang dilatihnya itu punya semangat pantang menyerah. Adapun, titik kekuatannya terletak pada saat pengereman.

“Saya kira dia sangat kencang. Bagaimana dia mengerem itu luar biasa. Dia mengerem sangat terlambat. Lebih lambat dibandingkan kompetitor lainnya. Dia juga selalu yang pertama di grupnya. Cara dia bertarung dengan rivalnya itu terbaik,” ujar Diego.

“Ketika ada rival di depan, Mario hanya fokus mengejar pembalap di depannya. Fokus menyalip. Mario punya insting untuk mendahului pembalap yang ada di depannya.”

Disinggung lebih jauh tentang balap Mario, Diego menyebut mirip dengan Marc Marquez. “Saya tidak tahu. Pada pengereman, mungkin seperti Marquez. Dia mengerem sangat terlambat, juga agresif,” ucapnya.

Mario menutup musim 2020 pada peringkat ke-16 klasemen akhir CEV Moto3, dan menorehkan 23 poin. Hasil terbaiknya adalah finis keenam saat tampil di balapan pertama Valencia. Penampilan bagus berlanjut keesokan harinya. Dia berhasil finis ketujuh usai start dari baris keempat.

Lalu, ajang balapan apa yang akan diikuti Mario pada 2021? Rizky Christanto, Manajer Motorsports AHM, mengungkapkan, bahwa sebenarnya sudah ada beberapa pertimbangan yang dibuatnya. Hanya saja, pihak AHM keputusan belum diumumkan lantaran masih menunggu pengumuman resmi.

“Jadi, tahun ini sebenarnya musim baru saja selesai, ya. Cuma memang kita masih menunggu kepastian. Kita semua tahu ada Honda Team Asia di World GP (Moto2 dan Moto3). Kalau sudah pasti, nanti kita akan informasikan,” ujar Rizky Christanto, Manajer Motorsports AHM.

“(Harapan) ke depannya Mario bisa terus membanggakan Indonesia, karena secara umur dia mesih sangat muda, masih 17 tahun. Dan kita semua berharap yang terbaik untuk Mario ke depannya,” tutur dia.

Mario Suryo Aji, Astra Honda Racing Team

Mario Suryo Aji, Astra Honda Racing Team<span class="copyright">Astra Honda Racing Team</span>
Mario Suryo Aji, Astra Honda Racing TeamAstra Honda Racing Team

Astra Honda Racing Team