Mark Hamill berhenti bermain Facebook karena iklan politik tidak jujur

San Francisco (AFP) - Mark Hamill, aktor yang terkenal karena perannya dalam film legendaris "Star Wars" Luke Skywalker, telah berhenti bermain Facebook karena penolakan perusahaan itu untuk hanya menyediakan iklan politik yang jujur.

"Sangat kecewa karena #MarkZuckerberg lebih menghargai keuntungan daripada kebenaran sehingga saya memutuskan untuk menghapus akun Facebook saya," cuit Hamill pada Minggu malam.

"Saya tahu ini memicu sikap 'Siapa Peduli?" untuk dunia pada umumnya, tapi saya akan tidur lebih nyenyak di malam hari. #PatriotismOverProfits. "

Pesan Hamill memicu banjir balasan, dengan banyak yang memuji keputusannya untuk menggunakan platform selebritisnya untuk membuat pernyataan tentang kejujuran dalam politik.

"Facebook, perhatikan. Anda kehilangan orang yang memerankan Luke Skywalker," komentar seorang penggemar.

"Satu-satunya hal yang lebih buruk dari itu mungkin Santa Claus mengusir Anda. Mungkin sudah waktunya untuk memikirkan kembali hal-hal itu."

Sebaliknya, cuitan lain mempertanyakan apakah itu tugas Facebook untuk menyensor politisi atau iklan mereka, dan menyarankan untuk meletakkan label pemberitahuan pada pesan yang terbukti palsu.

"Meninggalkan Facebook tidak menyelesaikan masalah," jawab pengguna Twitter itu kepada Hamill.

"Berita palsu ada di mana-mana. Apa yang terjadi selanjutnya? Meninggalkan internet?"

Facebook bulan ini memberlakukan larangan baru pada posting atau iklan yang mengganggu orang untuk ikut serta dalam sensus AS, yang akan memiliki opsi partisipasi daring tahun ini.

Kebijakan gangguan sensus melarang penipuan tentang kapan atau bagaimana ikut ambil bagian dalam sensus AS, atau pentingnya berpartisipasi, menurut titan internet yang berbasis di California itu.

Facebook, yang dikritik karena kebijakan lepas tangan pada komentar menyesatkan dari para politisi, mengatakan tidak akan mengizinkan aktor politik untuk mengirim informasi palsu tentang sensus, dalam kebijakan yang mirip dengan kebijakan "campur tangan pemilih" mereka.

Platform daring menghadapi tantangan untuk menghentikan banjir disinformasi sambil tetap terbuka untuk debat politik dan kebebasan berbicara.

Google baru-baru ini menempatkan batasan pada bagaimana pengiklan dapat menarget kelompok pemilih tertentu, sambil mengklarifikasi kebijakannya dengan menunjukkan bahwa itu tidak memungkinkan "klaim palsu" dalam periklanan, politik atau lainnya.

Twitter telah melarang sebagian besar iklan politik untuk menghindari memeriksa kebenaran klaim oleh politisi, tetapi beberapa analis mengatakan larangan itu akhirnya membantu petahana dan kandidat yang dibiayai dengan baik.