Marko Sebut Red Bull Bisa Bikin Mesin Sendiri

Christian Nimmervoll
·Bacaan 4 menit

Keputusan Honda untuk mundur dari F1 membuat tim Austria itu terguncang. Pasalnya, Red Bull sudah merasa cocok dengan mesin tersebut.

Oleh karena itu, mereka berusaha mengajukan pembekuan mesin mulai agar tetap bisa menggunakan teknologi Honda. Penghentian pengembangan mulai awal 2022 diharapkan jadi prasyarat kelayakan.

Berikut petikan wawancara pemimpin redaksi, Christian Nimmervoll, dengan konsultan Red Bull, Helmut Marko, yang dilakukan pada 22 Desember 2020.

Kesepakatan dengan Honda hanya formalitas

Setelah Anda mengklarifikasi pertanyaan pembalap, saya berasumsi bahwa sekarang mesin jadi prioritas. Ketika ide melanjutkan dengan teknologi Honda muncul beberapa pekan lalu, dikatakan bahwa FIA dan Red Bull butuh kepastian segera soal pembekuan pengembangan. Bagaimana status sekarang?

Semua berada di jalur yang tepat. Pembicaraan dengan FIA dan Liberty lebih maju. Kami berharap keputusan sesuai dicapai tahun ini.

Jelas bahwa tidak semua pabrikan setuju, tapi saya yakin sebuah kesepakatan sudah dekat. Dari perspektif akal sehat, masuk akal menolak biaya pengembangan yang sangat besar dengan mesin yang sangat rumit kalau Anda tahu bahwa mesin ini hanya akan digunakan untuk jangka waktu yang wajar.

Selain itu, ketika mesin baru tiba, itu mungkin akan datang dengan bahan bakar sintetis atau e-fuel, terserah bagaimana Anda menyebutnya, Jadi, pertama-tama, kami bicara tentang pengurangan biaya yang signifikan. Dan itu harus selalu jadi langkah logis.

Anda tidak bisa memulai pembatasan untuk casis, tapi Anda meninggalkan sisi mesin terbuka, dan sisanya seperti pembalap dan marketing juga.

Kalau Anda mendalami pernyataan para pabrikan lain beberapa pekan lalu, tak ada yang menentang ‘pembekuan’. Jadi apa yang perlu diklarifikasi?

Itu urusan internal antara FIA dan Liberty. Kami menginginkan sesuatu yang solid, yang dapat kami andalkan. Tapi ini bukan hanya tentang kami. Formula 1 pada umumnya butuh itu. Karena faktor biaya akan jadi sesuatu yang sangat menentukan di masa depan.

Fritz Enzinger, Leiter Konzern-Motorsport bei VW, ist wie Helmut Marko Steirer

Fritz Enzinger, Leiter Konzern-Motorsport bei VW, ist wie Helmut Marko Steirer<span class="copyright">Porsche</span>
Fritz Enzinger, Leiter Konzern-Motorsport bei VW, ist wie Helmut Marko SteirerPorsche

Porsche

Mari berganti topik. Berdasarkan rating pembalap keseluruhan, Lewis Hamilton pembalap terbaik 2020, diikuti Max Verstappen, Daniel Ricciardo dan Sergi Perez. Alexander Albon ada di posisi ke-13. Anda setuju dengan peringkat ini?

Ya, kami setuju. Meski saya mengukur performa Hamilton di GP Turki, dan tidak dalam 0-8-15 balapan. Karena kami tahu tak ada yang salah dengan keunggulan Mercedes.

Terakhir kali, saya mengunjungi Anda di Graz, Anda menunjukkan saya rekaman data yang seharusnya membuktikan bahwa Alexander Albon tidak seburuk yang terlihat di media. Bagaimana dia gagal?

Kurang konsistensi. Dia terlalu mudah gelisah, contohnya ketika intensitas angin meningkat atau datang dari arah berbeda. Atau saat ban mulai berkurang, kemudian dia kehilangan banyak waktu yang tidak proporsional.

Verstappen salah tanpa Drag Reduction System (DRS): tidak disadari sama sekali…

Maksud Anda itu murni dari sudut pandang pembalap. Atau maksud Anda ketika angin berbelik, tentu ada ketidakpastian, contoh dalam kritik media?

Tidak, saya membahas tentang dampak mengemudi. Kami punya mobil yang sensitif terhadap angin. Max dapat menghindari semua itu. Ambil contoh, GP Hungaria. Dia lupa menutup DRS di tikungan. Dia melaju terus dan kemudian mengatakan kalau mobil sedikit rusuh!

Kalau Anda melihat itu, tak ada seorang pembalap pun kecuali Daniel Ricciardo yang melewatinya di level sama. Semakin lama kombinasi Ricciardo dan Max, maka Max semakin mampu membedakan diri.

Secara personal, saya kira Albon seorang yang menyenangkan dan baik. Mungkin dia terlalu baik untuk pekerjaan di sebelah Max Verstappen untuk tim Formula 1 papan atas?

Tentu saja ini cerita mental juga. Kalau Anda punya rekan setim yang membalap di level top, tak peduli apa pun mobilnya, saya kira itu memainkan peran lebih rendah.

Tentu, selain mental, semua laporan dan hasil mengecewakan membuatnya gelisah. Jarak dengan Verstappen meningkat seiring berjalannya musim, bukan malah berkurang. Memang tipis, tapi dia telah berkembang.

Baca Juga:

Damon Hill: Red Bull Butuh Pengalaman Sergio Perez Red Bull Siap Pinjamkan Alexander Albon

Bagaimana reaksinya ketika Anda mengabarkan kalau dia akan kehilangan kursi di kokpit?

Christian Horner berbicara dengannya pada Jumat, sebelum pengumuman. Dia menerima kabar itu dengan tenang.

Kami meyakinkannya bahwa kami akan memanfaatkannya secara ekstensif sebagai pembalap tes. Ban untuk musim 2022 harus dites, ada tes terpisah. Dia akan banyak mengemudi di simulator. Dia juga jadi pembalap cadangan di banyak balapan. Kami punya empat mobil. Kesempatan itu akan digunakan ada.

Selain itu, kami siap meminjamkannya jika ada tim lain yang membutuhkannya dalam waktu singkat. Agar dia bisa mencapai jarak balapan. Itu bukan akhir. Kami akan melihat apakah kami menstabilkannya.