Ma'ruf Amin: Ekonomi Umat Islam Masih Memprihatinkan

Agus Rahmat, Reza Fajri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyebutkan, ekonomi umat Islam hingga saat ini masih memprihatinkan. Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu tantangan global yang dihadapi umat Islam dewasa ini selain tren Islamophobia.

"Tantangan besar kita adalah kondisi sosial dan ekonomi umat Islam yang masih sangat memprihatinkan," kata Ma'ruf dalam seminar daring, Selasa, 10 November 2020.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia itu membeberkan, pada tahun 2018 hanya 31 negara dari 57 anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang memiliki tingkat literasi di atas 90 persen. Negara-negara muslim, katanya, masih harus berjuang melawan kemiskinan.

Baca juga: Buntut Sikap Macron, Muslim Prancis Jadi Sasaran Kekerasan

Sebanyak 350 juta orang di negara-negara OKI dikatakan hidup di bawah US$1,25 dolar per hari. Tingkat rata-rata pengangguran di negara OKI 6 persen di tahun 2018, atau di atas rata-rata pengangguran dunia yang 5,1 persen.

"Data-data di atas saya angkat untuk menunjukkan betapa masih besarnya PR atau pekerjaan rumah kita semua untuk memajukan umat Islam," ujar Ma'ruf.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk bersama-sama menyerukan dan menjelaskan ajaran Islam yang sesungguhnya. Salah satunya melalui pendidikan pesantren.

"Yaitu ajaran Islam yang rahmatan lil aalamin, Islam yang wasathiyah dan tentu Islam yang ahlusunnah wal jama’ah, dan dalam hal ini pesantren harus mampu mengambil peran yang signifikan," katanya.