Ma'ruf Amin: Penganiayaan Santri Mencoreng Dunia Pesantren

Merdeka.com - Merdeka.com - Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta aktivitas santri di pondok pesantren diawasi lebih ketat. Permintaan ini buntut kasus penganiayaan santri yang terjadi di sejumlah pondok pesantren beberapa waktu terakhir.

"Saya beberapa hari ini dikagetkan di pesantren terjadi kekerasan, ada yang meninggal di Tangerang, di beberapa tempat ada kekerasan, ini harus betul-betul diawasi karena mencoreng dunia pesantren," kata Ma'ruf dalam sambutannya pada acara Milad ke-37 Yayasan Waqaf Al Muhajirien Jakapermai di Bekasi Timur, Jawa Barat, Rabu (31/8).

Mantan Rais 'Aam Nahdlatul Ulama ini meminta Yayasan Waqaf Al Muhajirien Jakapermai selaku pengurus sekolah Al-Azhar di Bekasi memastikan tidak ada tindak kekerasan di lingkungan pendidikannya.

"Saya minta jangan sampai di sekolah Islam seperti Al-Azhar ini terjadi (kekerasan) sebab kita ingin menjadikan generasi wasathiyah," katanya.

Generasi wasathiyah adalah generasi Muslim yang moderat, toleran, bisa menghargai perbedaan dan tidak memaksakan kehendak. Ma'ruf mengingatkan generasi yang diperlukan saat ini adalah generasi muttaqin, mu'ammiriin, dan wasathiyah.

Muttaqina adalah generasi yang mematuhi perintah Allah SWT dan rasulnya tanpa menunda-nunda. Mu'ammiriin adalah generasi yang memakmurkan bumi dengan membangun perekonomian dan sumber daya manusia, serta generasi wasathiyah yang moderat dan toleran.

"Saya kira generasi yang ingin kita bangun adalah itu dan kita harap Al-Azhar menjadi salah satu kawah candradimuka untuk melahirkan generasi Muslim yang mutaqqin, mu'ammiriin tapi juga wasathiyah. Saya yakin Al-Azhar bisa melahirkan generasi seperti itu," ujarnya.

Penganiayaan Santri Ponpes di Tangerang

Seorang santri RAP (13) tewas usai dianiaya seniornya di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Quran Lantaburo, Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangerang menyampaikan rasa prihatian atas kejadian tersebut.

Kepala Kemenag Kota Tangerang Samsudin mengatakan, peristiwa kekerasan itu terjadi begitu cepat. Sebab, sebelum kejadian sekitar pukul 08.30 WIB, para santri sedang melakukan setoran hafalan ayat Alquran. Namun setelah itu, diduga korban dianiaya seniornya di lingkungan asrama di lantai 4.

"Menurut kiai sehabis setoran anak-anak naik ke lantai 4. Sementara guru-guru di lantai bawah seperti yang disampaikan Pak Kapolres," ungkap dia.

RAP dipastikan tewas karena hantaman benda tumpul berupa tendangan dan pukulan dilakukan 12 santri lain di ponpes tersebut. Polisi masih menyelidiki kasus kematian santri tersebut.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Zain Dwi Nugroho mengatakan, 12 santri diduga pengeroyok dan penganiaya korban telah ditangkap petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Tangerang.

"Autopsi di RSUD Kabupaten Tangerang dengan hasil bahwa penyebab kematian karena ada kekerasan benda tumpul. Khususnya di bagian kepala. Kepala bagian depan dan belakang," kata Zain, Minggu (28/8).

Menurut Zein, polisi tak hanya menemukan tanda bekas hantaman benda tumpul di kepala korban. Hasil autopsi juga mengidentifikasi adanya tanda bekas kekerasan di sejumlah tubuh korban.

"Termasuk juga ditemukan tanda-tanda kekerasan baik di muka, kepala dan punggung. Kekerasan benda tumpul," ujar dia. [tin]