Maruf Amin: Yang Anti Vaksin COVID-19 Makin Hari Makin Kecil

Syahrul Ansyari, Syaefullah
·Bacaan 2 menit

VIVA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menanggapi adanya isu sentimen penolakan terhadap vaksinasi COVID-19.

Ia menceritakan pengalamannya saat vaksinasi yang memperlihatkan kondisi kesehatan yang baik setelah dilakukan vaksin tanpa terlihat efek samping, menimbulkan animo masyarakat bahkan usia lanjut untuk divaksin.

Dari pantauannya di televisi, terjadi antrean panjang masyarakat yang ingin divaksin. Ma'ruf meyakini bahwa masyarakat mendukung program vaksinasi tersebut.

“Saya melihat yang anti vaksin ini ya kayaknya makin hari makin kecil,” kata Ma'ruf Amin di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2021.

Baca juga: Jokowi Tegaskan Semua Awak Media Dapat Vaksin COVID-19

Oleh karena itu, dia mengajak orang yang seusia dengannya untuk melakukan vaksinasi COVID-19. Dan sekarang ini malah membeludak.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa antrean panjang untuk vaksinasi juga harus dibenahi. Sebabnya menurutnya, menjaga diri sendiri dan orang lain dari wabah itu adalah wajib.

“Menjaga diri itu dengan apa? Dengan 3 M, dengan mematuhi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dan dengan vaksinasi,” tuturnya.

Ma'ruf juga menjelaskan kondisinya sebelum dilakukan penyuntikan vaksin COVID-19. Sebelum dilakukan vaksinasi, Ma'ruf terlebih dahulu menunggu informasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai efek samping vaksin pada usia lanjut, kemudian juga dipastikan kondisi kesehatannya secara keseluruhan.

“Dan saya tentu dilakukan analisa oleh Tim Dokter Kepresidenan, bahkan sebelumnya saya diperiksa dulu darahnya, dianalisa dulu jantungnya, diperiksa semua sebelumnya. Setelah ok, ya maka kemudian saya diberi tahu bisa divaksin. Tahap itu kita ikuti dengan penuh kehati-hatian,” katanya.

Dia pun mengimbau bagi mereka yang akan divaksin, harus tetap dilakukan pengecekan kondisi kesehatan, khususnya tekanan darah, tanpa melihat faktor usia.

“Semua yang mau divaksin walaupun belum orang tua harus dicek tekanan darahnya dulu, nah kalau tekanan darahnya tinggi ya tidak jadi. Walaupun yang di bawah usia 59-18,” ujarnya.

Terkait cara sosialisasi vaksinasi bagi masyarakat, pemerintah membutuhkan bantuan. Salah satunya pendekatan melalui aspek keagamaan.

“Jadi ketika vaksin ini dipertanyakan oleh masyarakat, selain efektivitasnya, kemanjurannya tapi kehalalannya, disitu kemudian Majelis Ulama Indonesia masuk dan menyatakan bahwa itu halal,” katanya.

Maka, para ulama melalui dakwah-dakwahnya, melalui khutbah-khutbah Jumatnya, dilibatkan. Selain Majelis Ulama, ada pengurus besar Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas-ormas yang lain.

Selain pendekatan melalui aspek agama, sosialisasi ini juga melibatkan semua stakeholder yaitu dari pemerintah daerah, TNI, Polri dan tenaga kesehatan.

“Bahkan juga sosialisasi ini sangat masif ya di mana-mana itu. Jadi karena itu saya bilang, sekarang ini fenomena yang kita lihat itu orang antri ingin divaksin itu,” katanya.

Meskipun ada keterbatasan jumlah vaksin secara global, Ma’ruf mengatakan Indonesia telah mempunyai 142 juta vaksin di awal waktu. Hal tersebut akan menimbulkan respons positif, sehingga kondisi ekonomi juga diharapkan akan mengalami peningkatan.

“Kita mengejar pertama itu 40 persen penduduk Indonesia sekitar 70 juta, ini tahap awal ini harus dikejar dan ini sudah bisa membuat keadaan lebih baik, situasi ekonomi juga akan lebih berkembang kalau sudah 70 juta yang divaksin. Nah kemudian kita terus mengejar sampai 182 juta itu,” katanya.