Masa depan industri film Asia Tenggara usai pandemi

·Bacaan 2 menit

Dalam beberapa tahun terakhir industri film di Asia Tenggara telah berkembang pesat, ditandai dengan pengakuan pasar lokal dan internasional terhadap karya sineas generasi muda.

Di saat pelaku industri film menetapkan target baru serta bioskop semakin banyak dibangun untuk mewarnai dunia hiburan, kanal distribusi film alternatif seperti Netflix juga telah menjadi bagian yang terintegrasi. Ini memudahkan para sineas Asia Tenggara untuk menciptakan konten lokal bagi audiens internasional dengan latar belakang budaya yang berbeda.

Baca juga: Pengamat apresiasi sineas produktif meski di tengah pandemi

Tiga sineas ternama dari Asia Tenggara, Vanridee Pongsitisak dari Thailand, Mikhail Red dari Filipina, serta Timo Tjahjanto dari Indonesia berbagi kisah mereka dalam mewarnai industri film, dan apa tantangan yang dihadapi selama masa pandemi.

Vanridee Pongsitisak, Produser 4bia, "Bangkok Traffic (Love) Story", "Pee Mak" dan "Suckseed" mengatakan efek pandemi global memaksa banyak negara memberlakukan pembatasan kapasitas hingga penutupan bioskop, sehingga pelaku industri film harus berpikir kreatif dalam mencari alternatif baru.

"Ini menjadikan kanal distribusi film alternatif seperti Netflix sebagai menjadi bagian terintegrasi dari industri ini. Selain itu kita juga harus berhadapan dengan tantangan lain dalam mencari dukungan dana, yang tidak sebesar industri film Korea dan Jepang," kata Vanridee dalam keterangan resminya dikutip pada Selasa.

Mikhail Red, sutradara asal Filipina yang dikenal lewat filmnya seperti "Birthshot", "Eerie" dan "Dead Kids" mengungkap bahwa memproduksi film di tengah berbagai aturan terkait COVID-19 terasa sangat menantang. Di saat yang sama, pembuat film juga diuji daya tahannya untuk mencari cara baru dalam bercerita.

Baca juga: Timo Tjahjanto garap film aksi komedi pertama "The Big Four"

"Ditambah dengan persaingan menghadapi industri film Hollywood, yang memaksa kita untuk menyajikan cerita autentik dengan sentuhan budaya lokal yang kuat," ujar Mikhail.

Sementara itu, sutradara Timo Tjahjanto berpendapat selain semua batasan terkait pandemi, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah berkompetisi dalam industri film global.

"Oleh karenanya kolaborasi dengan sesama sineas Asia Tenggara, disertai dukungan dari pemerintah dan Netflix sebagai platform streaming hiburan, sangat penting bagi kami. Dukungan tanpa henti dari Netflix juga membebaskan kreativitas para sineas serta membantu kami dalam menghadapi kompetisi di dunia internasional," ujar Timo.

Malobika Banerji, Content Director, SEA, Netflix juga berbagi pendapat tentang masa depan industri film Asia Tenggara. Menurutnya, ada banyak latar belakang budaya yang menarik untuk diulas di Asia Tenggara.

"Di Netflix kami percaya bahwa cerita menarik bisa datang dari mana saja, dan disukai oleh siapapun juga. Itu sebabnya kami selalu mencari cerita terbaik dari seluruh penjuru dunia, termasuk Asia Tenggara, serta berkolaborasi dengan para sineas terbaik untuk memastikan bahwa semua kisah tersebut dapat dibawa ke panggung internasional melalui Netflix," kata Malobika.

Asia Tenggara dan Indonesia memiliki banyak sineas bertalenta yang sukses menghadirkan film berkualitas di pasar internasional. "Ali & Ratu Ratu Queens" dan "A Perfect Fit" telah menjadi beberapa contoh film buatan sineas lokal yang bisa diakses penikmat film global di Netflix.


Baca juga: Jakarta Film Week angin segar untuk pelaku industri di Indonesia

Baca juga: TikTok bahas perkembangan industri film Indonesia

Baca juga: Pemerintah siapkan Rp300 miliar untuk menggerakkan industri film

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel