Masa Lalu yang Kelam Bukan Alasan untuk Berhenti Mencari Cinta

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Wigati

Aku pernah berpikir untuk tidak menikah. Toh aku sudah bekerja. Walau dengan gaji yang tidak seberapa. Aku juga punya banyak rekan kerja yang baik. Mereka sudah menjadi keluarga ke dua. Selain itu punya keluarga yang supportif. Rasanya sudah cukup untukku.

Namun kadang kala muncul keinginan untuk punya seseorang yang bisa jadi teman keluh kesah atau sekadar bercerita. Di usia 30, sudah banyak sahabat yang sibuk masing-masing dengan keluarga. Jadi, semuanya hanya disimpan sendiri. Lalu aku ingat sesuatu. Aku pernah baca status media sosial seseorang yang sangat kuhormati.

Kira-kira begini tulisannya, "Menjalani pernikahan itu tidak mudah. Namun jika ada pilihan menikah atau tidak, lebih baik menikah. Karena hidup sendiri itu tidak semudah yang dibayangkan."

Akhirnya aku mulai menyusun segalanya dari awal. Merawat diri lebih baik. Berusaha mencari kenalan baru. Juga minta dikenalkan atau dicarikan jodoh kepada sahabat dan rekan kerja. Dan tentunya berdoa kepada Tuhan. Memasrahkan segalanya yang terbaik kepada-Nya.

Di saat usaha-usaha itu, aku ingat lagi akan masa lalu. Apa ada yang mau menerima segala yang telah lalu itu. Jika pun ada, akankah dia sama, juga punya masa lalu yang tak mengenakkan atau bahkan hal-hal yang lebih parah. Jadi keinginan tidak menikah muncul kembali. Aku mengalami overthinking dan kehilangan semangat. Ditambah lagi orang tua mulai memintaku cari pendamping.

Menemukan Cinta

ilustrasi./Photo by Happy Together from Shutterstock
ilustrasi./Photo by Happy Together from Shutterstock

Di kala gundah gulana itu, aku ditakdirkan berkenalan dengan seseorang atas rekomendasi teman. Kesan pertama, biasa saja. Dia mengajakku berkunjung ke rumahnya seusai mengantarku pergi ke pesta. Ternyata dia sangat sopan , sayang kepada ibunya, supel dan sangat suka anak-anak. Itu adalah momen yang begitu berkesan. Keluarganya juga menyambutku sangat baik.

Malamnya aku berbicara di telepon dengannya. Aku ceritakan masa laluku yang tak mengenakkan, kepribadianku yang cenderung pendiam dan banyak lagi. Dia begitu kaget. Aku sudah pasrah jika dia tidak mau bersama lagi. Namun dia kemudian meyakinkanku bahwa dia akan menerimaku apa adanya. Semua itu sudah terjadi. Kini mari jalani episode kehidupan yang lebih baik lagi, katanya sambil menahan tangis.

Tak lama dari itu kami menikah. Sikapnya tetap sama, sopan, begitu pada sayang keluarga, perhatian pada sekitarnya dan tentunya selalu ada untukku. Aku bersyukur telah menemukan seseorang yang mau menerima segalanya tentangku. Tuhan selalu berikan yang terbaik pada hamba-Nya meski pernah punya masa silam yang kelam. Jangan berputus asa dari rahmat Tuhan.

#ElevateWomen