Masalah Jati Diri hingga Eksistensi Mengintai di Balik Kemajuan Teknologi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kecanggihan teknologi seperti realitas virtual, sistem fisik siber, internet of things, big data, dan kecerdasan buatan, memang membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja di berbagai bidang.

Dengan bantuan teknologi, pekerjaan yang repetitif dan berbahaya dapat dikerjakan oleh mesin, sehingga manusia pun bisa mengerjakan hal-hal yang lebih penting.

Namun, menurut Prof. Dr. Elizabeth Kristi Poerwandari, M.Hum., Psikolog, baru-baru ini mengatakan terdapat sisi negatif dari kemajuan teknologi yaitu pada perubahan pola berpikir dan perilaku manusia.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Psikologi Klinis Universitas Indonesia (UI), Elizabeth memaparkan, penggunaan media sosial cenderung membuat pengguna mengalami permasalahan jati diri dan eksistensi.

"Ini karena pengguna media sosial cenderung membandingkan diri dengan teman sebaya yang tampil lebih cantik, kaya, lebih banyak teman, lebih keren, pandai, atau lebih internasional di media sosial," ujarnya seperti dikutip dari siaran pers UI, Kamis (21/10/2021).

Menurut Elizabeth, inilah yang membuat akhirnya cara manusia mengukur nilai diri menjadi lebih superfisial, permukaan, dan shallow.

"Penampilan, status sosial, dan kemakmuran, menjadi lebih penting daripada spiritualitas, kedamaian diri, atau pun pengetahuan," kata Elizabeth.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Rasa Sepi

Ilustrasi Depresi | unsplash.com/@anthonytran
Ilustrasi Depresi | unsplash.com/@anthonytran

Elizabeth menambahkan, rasa sepi juga menjadi salah satu dampak sosial tertinggi yang terjadi di kalangan anak muda.

Hal ini terjadi karena di era sekarang, komunikasi tidak perlu selalu dilakukan dengan tatap muka, sedangkan ada unsur-unsur komunikasi yang tidak dapat digantikan dari kegiatan bertemu langsung.

Unsur-unsur tak terganti itu seperti ikatan emosional, kehangatan, dan kemampuan membaca situasi-kondisi. Kemampuan-kemampuan ini tidak dilatih dalam interaksi maya sehingga kemampuan bersosialisasi manusia menjadi berkurang.

Selain itu, sifat anonimitas atau tanpa nama dalam interaksi maya, juga membuat manusia bisa melepaskan sisi-sisi agresifnya tanpa harus bertanggung jawab terhadap perilakunya tersebut.

Ini membuat fenomena cyber bullying sekarang kerap terjadi. Belum lagi, kecemasan kolektif juga sering terjadi karena arus informasi yang semakin cepat dan tanpa disaring atau hoaks.

Tak Bisa Membedakan Mana yang Nyata

Ilustrasi Media Sosial | unsplash.com/@benji3pr
Ilustrasi Media Sosial | unsplash.com/@benji3pr

Elizabeth mengatakan, teknologi menyebabkan saat ini, terjadi suatu kondisi di mana kita tidak bisa lagi membedakan antara mana yang nyata dan mana yang pencitraan semata.

"Ini menjadi sebuah isu tersendiri di era digital ini. Virtualitas menjadi realitas. Inilah yang kita sebut kondisi hiperrealitas," kata Elizabeth.

Kondisi ini menyebabkan banyak orang terjebak pada fiksi yang dibangun dirinya melalui pencitraan diri yang ditampilkan dalam gambar, berita-yang tampil di beranda media sosial yang terfilter karena algoritma), maupun komentar yang muncul dari unggahan.

Menurut Elizabeth, semua ini menjadikan manusia berpikir sempit, terjebak dalam pemikiran, dan "realita" dirinya sendiri.

Kehidupan yang terisolasi dan egosentris ini juga menyebabkan fenomena bunuh diri, serta keinginan untuk menyakiti diri sendiri, meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Elizabeth menjelaskan, dari semua fenomena tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa secara psikologis dan mental, manusia belum siap menerima dampak jangka panjang dari ciptaan yang dibuatnya sendiri.

Pendidikan Jadi Salah Satu Kunci

Ilustrasi Media Sosial dan Aplikasi Chat | unsplash.com/@christianw
Ilustrasi Media Sosial dan Aplikasi Chat | unsplash.com/@christianw

Maka dari itu, untuk mengatasi hal tersebut, Elizabeth menekankan bahwa pendidikan menjadi salah satu kunci.

Elizabeth mengatakan, di masa depan, perlu diperkenalkan apa yang disebut dengan "pedagogi posthumanisme."

Pedagogi posthumanisme adalah kurikulum pembelajaran yang diarahkan untuk membantu manusia menangkap dimensi filosofis dan isu kompleks dari hubungan-hubungan dalam ruang daring.

Dalam kurikulum ini, penekanan terjadi pada diskusi mengenai topik-topik khas manusia seperti autonomi, kehendak bebas, relasi antar individu, antar kelompok, dan kaitannya dengan kondisi global.

Elizabeth mengatakan, pendidikan tinggi perlu menghasilkan lulusan yang berpikir dengan bijak untuk dapat membangun dunia bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang lain dan generasi mendatang.

"Ada sifat altruisme yang harus diajarkan kepada individu, agar mereka tidak terjebak pada dunia dan realitasnya sendiri. Ini berlaku di semua bidang ilmu, termasuk ilmu psikologi," tandasnya.

(Dio/Isk)

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel