Masih Ada Anggapan Miring Soal Janda di Indonesia

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Bertin Tiara resmi bercerai di masa awal pandemi COVID-19 di Indonesia, Maret lalu. Setelah bercerai perempuan asal Bekasi, Jawa Barat ini merasakan stigma atau ancaman negatif dengan status janda saat ia hendak membuka lembaran baru, termasuk kehidupan cintanya.

"Setelah cerai, saya punya teman dekat laki-laki tetangga yang biasa nyinyir "kok baru cerai sudah dapat [pacar baru]?" kata Bertin, yang merasa seolah-olah menganggap perceraiannya akibat ia yang selingkuh.

Bertin juga merasa tetangganya seolah memperhatikan setiap kali pacarnya mengunjungi rumahnya melalui kamera CCTV yang diarahkan ke depan pintu rumahnya.

"Waktu pasang CCTV saya tidak di rumah. Pas saya pulang, saya lihat kok mengarahkannya pas banget di depan pintu?" ujarnya yang mengatakan CCTV bisa diakses secara publik.

Bertin mengaku terkejut melihat perlakuan tersebut, namun menolak untuk mempermasalahkan.

Padahal sebelum bercerai ia tidak terlalu khawatir dengan anggapan miring menjadi seorang janda akibat perceraian.

"Yang saya takutkan bukan stigma, tapi nanti ketika sudah cerai enggak kuat hidupin anak, nafkahin anak," kata Bertin yang memiliki satu anak.

Bertin bekerja sebagai seorang guru SMP untuk menyekolahkan anaknya yang berusia 3,5 tahun karena ia mengaku tidak menerima biaya tanggungan apapun dari mantan suaminya yang pernah ia nikahi selama lima tahun.

Stigma "barang bekas" mempersulit kehidupan janda

Mutiara P
Mutiara P


Pendiri Save Janda, Tiara Proehoeman mengatakan stigma terhadap janda cenderung mengarah pada objektifikasi seksual. (Foto: Ranoe Gusffi)

Stigma terhadap janda seperti yang dialami oleh Bertin sangat disadari oleh Mutiara Proehoeman, akrab disapa Tiara, yang juga sempat menjadi seorang janda.

Ia kemudian memulai gerakan "Save Janda" atau "Selamatkan Janda" di media sosial pada tahun 2016 dan menghadapi banyak tantangan.

"Saya mendapatkan, hampir setiap hari, you can call it d*ck pic ya, gambar-gambar tidak senonoh," kata ibu dari dua orang anak tersebut.

Menurut Tiara yang juga penyitas kekerasan dalam rumah tangga, stigma terhadap janda di Indonesia "berakar dari budaya patriarki dan bisa jadi menakutkan", termasuk mengarah pada objektifikasi seksual.

"Bahwa perempuan janda itu ... bekas pakai. Barang bekas, murahan, mudah diajak kencan," kata Tiara yang berpisah dengan mantan suaminya 15 tahun lalu.

"Selain [itu] ... perempuan janda yang bercerai itu [dianggap] gagal membina rumah tangga, aib keluarga, dan dibilang perempuan pembawa sial."

Nani Zulminarni, Direktur Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) mengatakan dari studi yang dilakukan PEKKA di seluruh wilayah Indonesia, terutama di wilayah pedesaan yang merupakan 40 persen dari wilayah termiskin, stigma janda masih sangat kuat dan bahkan tidak berubah setidaknya dalam 20 tahun terakhir.

Stigma yang terberat yang ditemukan PEKKA di masyarakat menurut Nani adalah stigma janda perempuan bercerai dan disebabkan budaya yang mengukur nilai keberhasilan perkawinan dari seberapa harmonis sebuah keluarga.

"Ada konstruksi tuntutan di kultur Indonesia untuk memenuhi standar yang ideal. Perempuan yang paling baik adalah perempuan yang bertahan di perkawinannya sampai maut memisahkan," katanya.

"Tapi ketika dia gagal dan kemudian mengambil keputusan yang berani, misalnya karena menolak dipukuli terus-menerus dan memutuskan bercerai, perempuan-perempuan ini dianggap melawan sistem nilai."

Tiara menambahkan, stigma terhadap janda telah menimbulkan dampak sosial dan ekonomi secara nyata dalam kehidupan para perempuan.

"Ada satu perempuan janda kehilangan pekerjaannya, karena istri dari bos-nya dia tidak mau mempekerjakan karyawan janda. Takut digodain," katanya.

Hal ini juga dibenarkan Nani, yang dalam penelusurannya menemukan hubungan yang kuat antara stigma dan kemiskinan.

"Perempuan yang bercerai ini selalu dianggap salah, perempuan nggak bener, sehingga orang membatasi untuk berinteraksi dengan dia," tuturnya.

"Akhirnya jenis-jenis pekerjaan tertentu tidak bisa ia dapatkan, misalnya pekerja rumah tangga, biasanya majikannya tanya-tanya dan kalau [calon ART-nya] janda terus jadi enggak mau [mempekerjakan] dan mengakibatkan kemiskinan."

Selain itu, menurut Nani, para janda ini juga dikucilkan dari sistem sosial, sehingga mereka tidak mendapat informasi terkait program atau bantuan yang bisa diakses untuk menopang hidupnya.

Nani
Nani


Nani Zulminarni, Direktur Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) mengatakan stigma terhadap janda yang cenderung sama di masyarakat tidak terlepas dari konstruksi sosial tentang nilai yang sangat kuat. (Supplied)

Masalah janda "diperparah" saat pandemi

Menurut Nani, pandemi COVID-19 telah membuka realita kehidupan para perempuan ini, dengan data Kementerian Desa menyatakan bahwa 31 persen penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di seluruh Indonesia dan 53 persen di Jawa adalah perempuan yang menjadi kepala keluarga.

"Ini artinya kalau pemerintah mau mengurus kemiskinan, uruslah para perempuan kepala keluarga karena ini adalah kelompok yang paling miskin," kata Nani kepada Hellena Souisa dari ABC Indonesia.

Tiara dengan gerakan "Save Janda" mengatakan jumlah pengikut media sosial organisasinya meningkat sebanyak lebih dari 50 persen.

Faktor ekonomi dan KDRT merupakan alasan perpisahan terbanyak dari para janda yang baru bergabung dengan Save Janda di masa pandemi COVID-19, di samping perselingkuhan.

"Sebenarnya masalahnya sudah ada sebelum pandemi tapi diperparah di masa pandemi karena masalah ekonomi," katanya.

"Banyak beberapa dari mereka merasa membutuhkan support lebih dan bergabung dalam kelompok Whatsapp," tutur Tiara tentang kelompok yang beranggotakan 100 orang itu.

"Secara kualitatif beberapa success story member yang awal masuk belum memiliki apa-apa sekarang sudah memiliki usaha sendiri."

Saling memberikan dukungan

Untuk membantu para perempuan yang bercerai, Tiara mengatakan hal pertama yang ia lakukan adalah memberikan dukungan moril terlebih dahulu sebelum bantuan ekonomi.

"Di Save Janda, kami benar-benar menggiatkan pemberdayaan di bagian psikososialnya," katanya kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Dukungan tersebut diberikan melalui pendampingan bagi perempuan saat masih menikah, berada dalam hubungan tidak sehat atau yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga tapi takut untuk meninggalkan hubungan.

Save Janda
Save Janda


Melalui Save Janda, Tiara berusaha memberdayakan perempuan melalui pikiran, sebelum ekonomi. (Supplied)

"Salah satu prinsip kami adalah untuk tidak encourage anggota untuk tidak feeding ... tidak memberikan uang cash kepada mereka karena pada prinsipnya kami ingin anggota berdaya dari pikiran," katanya.

"Bahwa kita bisa, kamu bisa. Kita sama-sama saling support, "ayo kita tumbuhkan kembali percaya diri kamu"."

Bertin bergabung dengan "Save Janda" bulan Mei lalu dan mengaku merasakan manfaat dari dukungan sesama anggota.

"Kalau bantuan secara materi saya tidak menerima. Kalau support iya, terus bisa curhat dan punya teman yang satu lingkungan," katanya.

"Saya merasa ternyata masalah [saya] itu sepele, ada yang lebih besar dari saya," katanya.

Sementara Nani dari PEKKA meminta masyarakat untuk tidak melihat janda dari aspek status perkawinannya.

"Ketika perempuan kehilangan suaminya, ada satu beban berat kehidupan yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga ia mempunyai kedudukan yang harusnya sangat mulia dan penting karena ia meneruskan dan menjaga keberlangsungan keluarga."

"Hanya orang-orang jahat yang menstigma janda, apapun pekerjaannya, karena janda melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk meneruskan kehidupan."