Masih #DiRumahAja, Lakukan Ini untuk Latih Tanggung Jawab Anak

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri

VIVA – Periode work from home dan learn from home saat ini membuat orangtua memiliki lebih banyak waktu di rumah bersama anak-anak. Tapi, kebanyakan orangtua bingung memberikan kegiatan untuk anaknya supaya tidak bosan di rumah. Mengajarkan tanggung jawab pada anak bisa jadi salah satu pilihan kegiatan yang seru dilakukan bersama, lho.

Imbauan Presiden yang meminta masyarakat untuk tinggal di rumah, jaga jarak, dan menjalankan perilaku hidup bersih sehat, demi mengurangi penyebaran infeksi COVID-19, menjadi kesempatan untuk Anda menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga. Ayah, ibu, dan anak-anak dapat secara intens berinteraksi dan berkomunikasi di rumah. 

Peran penting orangtua adalah menanamkan nilai-nilai baik kepada anak-anaknya. Orangtua memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai baik, adalah dengan memberi si kecil tanggung jawab dalam melakukan pekerjaan rumah. 

Tanggung jawab adalah perilaku yang menentukan bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi setiap hari, yang memerlukan beberapa keputusan yang bersifat etis atau sesuai dengan etika umum yang berlaku di tengah masyarakat. Apabila anak dapat berperilaku dan berbuat sesuai dengan norma yang diterima masyarakat, maka lingkungan di sekitar akan merasakan dan mendapatkan manfaat. Sama halnya, ketika si kecil sudah dapat bertanggung jawab, artinya ia sudah dapat membedakan mana tindakan yang baik dan kurang baik. Nantinya, ia dapat menentukan keputusannya sendiri dengan lebih bijak.

"Banyak manfaat yang dapat dirasakan anak bila ia sudah dapat bertanggung jawab atas apa yang ia kerjakan, di antaranya melatih daya juang anak, menumbuhkan kemampuan problem solving skill, dan menumbuhkan efikasi diri (self-efficacy) pada anak," ujar Psikolog RS Pondok Indah–Bintaro Jaya, Jane Cindy Linardi, M. Psi, Psi, CGA, dikutip dari siaran pers, Rabu 8 April 2020.

Anak sebenarnya sudah mulai bisa dilepas dalam menentukan keputusannya sendiri sejak kecil. Misalnya, dalam menentukan jenis mainan yang ingin ia mainkan, pakaian atau sepatu yang hendak dipakai, makanan yang ingin dikonsumsi, dan sebagainya. Namun, pendampingan orangtua masih diperlukan.

Misalnya, saat hendak melatih anak mengambil keputusan sendiri terhadap pakaian yang akan ia pakai, maka Anda dapat membantu menjabarkan bahwa tempat yang akan dikunjungi memiliki suhu atau temperatur yang dingin. Dengan itu, anak dapat bertanggung jawab dan menyesuaikan keputusannya dengan kondisi atau situasi yang akan dihadapinya.

"Sejak umur 2 atau 3 tahun, si kecil juga sudah dapat mulai dilatih untuk bertanggung jawab. Latihan dimulai dari memberi tanggung jawab yang kecil terlebih dahulu, misalnya, merapikan mainan bersama-sama setelah selesai bermain. Anda tetap dapat ikut membantu, namun perlu dipastikan anak juga turut merapikan," tambahnya.

Setelah itu, level tanggung jawab dapat ditingkatkan dengan mulai belajar tanggung jawab terhadap diri sendiri, misalnya dengan mengurus dan merapikan barang-barang pribadi yang dimiliki, seperti meletakkan pakaian kotor di keranjang setelah dipakai, meletakkan kembali sepatu di rak setelah dipakai, membuang bungkus makanan atau minuman di tempat sampah, merapikan tas sekolah. Semua dapat dilakukan dengan pendampingan orangtua, namun perlu diingat Anda perlu mengurangi peran untuk membantu anak menuntaskan tanggung jawabnya sehari-hari secara bertahap.

"Penguatan berupa pujian dan afirmasi dapat diberikan setelah anak berhasil menuntaskan tanggung jawabnya sendiri," paparnya.

Dari semua tanggung jawab yang dapat diberikan kepada anak di atas, jangan lupa untuk memberikan contoh langsung kepada si kecil agar si kecil lebih mudah menerapkannya karena sudah melihat contoh yang nyata. Misalnya, tanggung jawab anak terhadap PR dan tugas sekolah dapat diajarkan dan dilatih dengan cara menyediakan “waktu bekerja” bersama-sama antara anak dan orangtua. Dalam satu meja yang sama, anak dapat mengerjakan PR, Anda dapat menyelesaikan pekerjaan atau project. Aktivitas lainnya juga dapat dilakukan, misalnya bersama-sama merapikan dan membersihkan rumah sebagai bagian dari tanggung jawab sehari-hari. 

"Melalui aktivitas ini, anak dapat belajar secara langsung dari contoh konkret yang dipraktikkan langsung oleh orangtua," terang Jane.