Masih Ingat Ratu Ganja Schapelle Corby? Kini Jadi Selebritas di Australia

·Bacaan 4 menit

Brisbane - Pada 2004, seorang bule muda bernama Schapelle Corby ditangkap di Bandara Ngurah Rai, Bali. Ia ketahuan membawa ganja di dalam tasnya, meski ia mengaku tidak tahu ada ganja seberat 4,2 kilogram di tasnya.

Wanita kelahiran 10 Juli 1977 di Queensland itu lantas dijebloskan ke penjara dengan vonis 20 tahun penjara pada 2005. Kasus ini menyita perhatian publik Indonesia dan Australia.

Pada 2014, Corby bebas setelah sembilan tahun di penjara. Corby si Ratu Ganja dapat menghirup udara bebas berkat grasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kini, Corby sudah berada di Australia dan menjajal dunia hiburan. Ini kisahnya, komentar WNI, serta tanggapan Corby berdasarkan laporan ABC Australia, Selasa (6/4/2021):

Dancing with Corby

Schapelle Corby pada tahun 2008  (SONNY TUMBELAKA / AFP)
Schapelle Corby pada tahun 2008 (SONNY TUMBELAKA / AFP)

Tiga tahun setelah kepulangannya ke Australia, wajah Schapelle kembali marak di televisi Australia.

Mulai pekan depan wajah Schapelle akan menghiasi layar televisi di Australia untuk berpartisipasi dalam program 'reality show' berjudul 'Dancing With the Stars'.

Sebelumnya, Schapelle tampil sebagai perserta 'reality show' SAS Australia yang disiarkan Oktober tahun lalu.

Di acara tersebut mantan pasukan khusus militer menantang para selebritas dan tokoh di Australia untuk melakukan tes fisik dan psikologis.

Kepada ABC Indonesia, Raditya Marendra, pria asal Bogor yang sudah lima tahun bermukim di Melbourne, Australia, mengaku menikmati program SAS Australia ini.

Konten ini tidak tersedia karena preferensi privasi Anda.
Perbarui pengaturan Anda di sini untuk melihatnya.

Tetapi kehadiran Schapelle Corby membuat Adit mengernyitkan keningnya.

"Saya kaget sih, karena yang lain itu adalah peserta-peserta yang backgroundnya adalah profesi-profesi tertentu, seperti atlet atau komedian, tetapi saya tahunya Corby pernah ditangkap di Bandara di Indonesia karena menyelundupkan narkoba."

"Kenapa orang yang punya latar belakang atau sejarah kriminal, jadi peserta acara reality show?"

Sudah ada sejumlah komentar dan kritik di akun resmi media sosial 'Dancing with the Stars', yang akan tayang Channel 7 dengan menampilkan Schapelle, yang pernah dijuluki 'Ratu Ganja' atau 'Queen of Marijuana' di pemberitaan internasional.

Salah satunya yang ditulis Tania Lekias Dudley, warga Perth, yang mengaku kecewa dengan 'Dancing With The Stars' yang akan menampilkan Schapelle.

"Sejujurnya, saya sudah menanti-nantikan acara ini. Saya ingin menonton sejumlah bintang yang menjadikan acara ini fantastis."

"Lalu hari ini saya melihat promo program di mana ada Schapelle Corby di sana. Ini serius? Bagaimana dia bisa dikategorikan sebagai bintang? Ini membuat saya malas menonton acara ini dan saya kecewa pada pemilihan pesertanya."

"Saya tidak tahu seperti apa dia, tapi saya tidak percaya dia memenuhi kualifikasi untuk menyandang status bintang."

Komentar senada ditulis oleh warga Australia lainnya, James Dunbier.

"Schapelle Corby bukanlah seorang bintang, dia terpidana penyelundup narkoba. Channel 7 seharusnya malu."

"Nilai-nilai apa yang diajarkan pada generasi muda melalui tayangan ini? Apakah [pesannya] boleh melawan hukum dan kemudian menjadi terkenal? Ini sungguh menghina nilai-nilai Australia."

Masalah Mental

Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pidato politik dan membuka Kongres ke V Partai Demokrat, Jakarta, Minggu (15/3/2020). SBY menyampaikan pidato politik terakhirnya sebagai ketua partai dimana posisinya akan digantikan Agus Harimurti Yudhoyono. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pidato politik dan membuka Kongres ke V Partai Demokrat, Jakarta, Minggu (15/3/2020). SBY menyampaikan pidato politik terakhirnya sebagai ketua partai dimana posisinya akan digantikan Agus Harimurti Yudhoyono. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Corby mendapatkan grasi dari Presiden SBY karena terkait kesehatan mental.

Dengan mengikuti 'reality show' SAS, Schapelle dianggap mengesampingkan kondisi kesehatan mentalnya, yang juga menjadi alasan permohonan grasinya ke presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Psikolog Jaimie Bloch dari Mind Movers Psychology seperti yang dikutip dari media 'Kidspot' mengatakan pengalaman Schapelle di SAS Australia dapat memicu kembali masalah kesehatan mentalnya di masa lalu.

“Muncul di acara seperti SAS Australia pasti akan menjadi pengalaman yang menimbulkan trauma kembali yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan psikosis,” kata Jaime.

PTSD adalah suatu kondisi kesehatan mental yang memiliki gejala khusus yang terjadi pada seseorang yang pernah mengalami peristiwa traumatis yang mereka anggap mengancam nyawa atau keselamatan orang lain di sekitarnya.

Corby: Ada banyak kebencian terhadap saya

Arsip Corby tahun 2008 (SONNY TUMBELAKA / AFP)
Arsip Corby tahun 2008 (SONNY TUMBELAKA / AFP)

Schapelle mengatakan keputusannya mengikuti program SAS adalah upayanya untuk membuka diri dan bagian dari proses pemulihan dirinya.

"Inilah alasan saya bergabung dengan program ini, untuk membuka pintu bagi diri saya sendiri dan mulai hidup dalam masyarakat lebih baik daripada sebelumnya, " tutur Corby kepada news.com.au.

“Ada banyak kebencian terhadap saya, saya mengerti,” tambahnya.

"Saya tidak mencoba mengubah persepsi mereka atau membuat mereka lebih membenci. Saya benar-benar tidak peduli apa yang orang pikirkan tentang saya.""Saya berada pada titik hidup saya sekarang di mana saya tidak menyakiti siapa pun. Ini tentang apakah saya bisa mengendalikan pikiran saya. Itu semua saya lakukan untuk diri saya sendiri, dan saya sangat bangga telah melakukannya."

Berapa jumlah uang yang diterima Schapelle untuk bisa tampil di acara televisi pernah dimuat oleh Daily Mail, yang melansir adanya rumor mengatakan Schapelle menerima bayaran fantastis sebesar A$150.000, atau lebih dari Rp1,5 miliar.

Saat menjalani pengadilan di Indonesia, Schapelle beberapa kali mengaku tidak bersalah dan bersikukuh tidak tahu-menahu soal keberadaan ganja di papan seluncurnya.

Namun Pengadilan Negeri Denpasar tetap memvonisnya dengan hukuman 20 tahun penjara di tahun 2005.

Di tahun 2012 Schapelle menerima grasi dari Susilo Bambang Yudhoyono, presiden RI saat itu, dan mendapat pengurangan lima tahun masa tahanan.

Lalu di tahun 2014, setelah sembilan tahun dalam penjara, dia mendapat pembebasan bersyarat.

Schapelle tinggal di Bali sampai pembebasan bersyaratnya berakhir tiga tahun kemudian dan terbang ke Brisbane pada 2017.

Saksikan Video Pilihan Berikut: