Masih Perlukah Pakai Masker Selama Mudik? Simak Penjelasan Ilmuwan

·Bacaan 4 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Persyaratan memakai masker di dalam pesawat terbang dan transportasi publik lainnya yang diterapkan pemerintahan Presiden Joe Biden tidak lagi berlaku setelah hakim federal di Florida memutuskan aturan itu tidak sah. Beberapa pelancong menyambut baik putusan itu, tapi beberapa orang lainnya memutuskan tetap memakai masker.

Masker memberikan perlindungan terhadap penyebaran partikel yang mengandung virus di udara. Tapi penelitian juga menyebutkan masker bisa melindungi pemakaianya, di mana masker bisa berfungsi sebagai pembatasan antara partikel dan hidung serta mulut pemakaianya.

"Saya sebenarnya bepergian menggunakan pesawat kemarin ketika persyaratan masker di angkutan umum dicabut. Saya tentunya tetap memakai masker saya selama penerbangan," kata Chris Cappa, seorang profesor teknik sipil dan lingkungan Universitas California, yang meneliti soal partikel aerosol dan masker, melalui surel pada Selasa.

Saat bepergian dari Sacramento ke San Diego, Cappa melihat sejumlah penumpang yang tetap memakai maskernya mengalami penurunan.

"Saya akan terus memakai (masker) N95 saya saat bepergian untuk sementara. Saya pribadi lebih khawatir ketika saya berada di ruangan kecil yang padat seperti pesawat dibandingkan ketika saya berada di ruangan yang luas, relatif terbuka seperti bandara," tulis Cappa, dikutip dari CNN, Kamis (21/4).

Ketika satu orang memakai masker dan yang lainnya tidak, itu disebut masker satu arah.

"Tingkat perlindungan dengan masker satu arah sangat tergantung pada dua faktor; seberapa pas masker Anda dan seberapa efektif bahan masker itu menyaring partikel yang bisa membawa virus. Masker seperti N95 dan KN95 secara umum lebih protektif daripada masker medis atau masker kain karena mereka sangat pas di wajah Anda. Dan masker medis cenderung lebih baik dalam menyaring daripada masker kain," jelasnya.

Namun, lanjutnya, masker yang berbeda juga tergantung dari bentuk wajah pemakainya. Untuk itulah penting untuk menemukan masker yang paling pas dengan wajah kita.

"Contohnya, Anda bisa menyesuaikan talinya agar masker bisa lebih ketat," sarannya.

Dia menambahkan, masker terbaik pun hanya bisa berfungsi lebih baik jika pas di wajah pemakaianya atau tidak longgar.

"Tapi N95 yang pas bisa mengurangi jumlah partikel yang berpotensi menular yang Anda hirup lebih dari 20 kali," ujarnya.

Bahkan jika seseorang di sekitar Anda tidak memakai masker, Cappa menekankan memakai masker N95 yang pas di wajah bisa mengurangi partikel menular yang Anda hiruf.

"Jika secara teori ada 100 partikel menular yang Anda hirup tanpa masker, Anda hanya akan menghirup lima atau lebih sedikit dengan N95 yang dipakai dengan baik," tulis Cappa.

Masker kain juga bisa menyaring percikapan cairan pernapasan (droplet) besar. Tapi masker yang lebih efektif seperti N95, juga bisa menyaring aerosol atau partikel yang lebih kecil yang disemburkan orang yang terinfeksi, seperti disampaikan Erin Bromage, profesor muda biologi dari Universitas Massachussets pada Desember lalu.

Masker N95 bisa menyaring sedikitnya 95 persen partikel di udara ketika digunakan dengan benar, menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC). Bromage mengatakan, masker medis atau masker sekali pakai sekitar 5 persen sampai 10 persen kurang efektif dibandingkan N95.

Penelitian CDC yang diterbitkan pada Februari menemukan bahwa orang yang selalu memakai masker di dalam ruang tertutup saat di tempat umum lebih kecil kemungkinannya positif Covid-19 daripada orang yang tidak memakai masker antara Februari dan Desember 2021.

Aturan tak perlu dicabut

Kepala pegawai kesehatan Divisi Penyakit Menular Universitas Michigan, Dr Preeti Malani, telah mengobati pasien Covid lebih dari dua tahun. Pasiennya kerap tidak memakai masker, tapi dia selalu memakai masker.

"Sepengetahuan saya, saya belum pernah terkena Covid," ujarnya.

"Jadi perlindungan personal masker sangat ampuh, khususnya ketika disertai dengan vaksinasi dan ventilasi yang bagus," lanjut Malani.

Malani menambahkan, dia merasa aman bepergian, bahkan bagi mereka yang berisiko tinggi mengalami Covid parah, khususnya jika mereka mengikuti tindakan pencegahan seperti divaksinasi, melakukan tes Covid, dan memakai masker yang pas di wajah atau masker berkualitas tinggi, walaupun di orang di sekitar mereka tidak memakai masker.

"Bukan berarti Anda tidak bisa menggunakan transportasi publik. Itu artinya Anda harus bijak soal itu," ujarnya, menambahkan dia lebih khawatir penyebaran Covid di bar yang ramai daripada di pesawat di mana ventilasi udaranya berkualitas tinggi.

Dia menambahkan, risiko infeksi Covid bisa dikendalikan ketika pemakaian masker disertai dengan vaksinasi, ventilasi yang baik, tes Covid, dan jaga jarak.

"Saya tidak ingin orang tiba-tiba takut Covid lalu mereka tidak lagi bepergian," ujarnya.

Malani juga mengatakan akan tetap memakai masker di pesawat.

Sementara itu, Dr Vivek Cherian, dokter dari Chicago mengatakan terlalu dini mencabut kewajiban memakai masker di dalam transportasi umum.

"Menurut pandangan saya, kita seharusnya tidak mencabut perintah masker di negara ini sampai setiap orang yang ingin vaksin memiliki akses dan kesempatan untuk mendapatkannya termasuk anak-anak di bawah usia lima tahun," tulisnya melalui surel pada Selasa.

"Jika Anda seseorang yang mengalami masalah imun atau memiliki anggota keluarga yang memiliki masalah imun atau tidak divaksinasi, masker satu arah masih bisa efektif. Kuncinya adalah menggunakan masker terbaik yang tersedia, sebaiknya N95 karena memberikan tingkat perlindungan yang tinggi," sarannya.

"Saya tetap memakai masker karena ketiga anak saya di bawah lima tahun dan tidak memenuhi syarat untuk vaksin saat ini," pungkasnya. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel