Masih Ragu Kalau Timnas Indonesia Jadi Tim Pertama Dari Asia yang Tampil di Piala Dunia ? FIFA Sudah Akui Lho, Ini Buktinya

Bola.com, Jakarta - Keberadaan Timnas Indonesia di panggung Piala Dunia bak dongeng semata. Padahal, beberapa pernyataan sudah mengemuka, termasuk dari para pelaku momen bersejarah tersebut. Nah, jika Sahabat Bola.com ada yang belum tahu, simak beberapa kisah dan penuturan di bawah ini.

Seperti diketahui, sebagian besar publik sepak bola di Indonesia masih belum mengiyakan kalau Tim Nusantara pernah berlaga di Piala Dunia. Momen istimewa itu terjadi pada Piala Dunia 1938, ketika kontingen yang terdaftar bernama Hindia Belanda.

Jika masih ada yang ragu, sudah saatnya menutup buku kebimbangan itu. Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) menegaskan, Indonesia pernah mengikuti kejuaraan sepak bola antarnegara tersebut. Bahkan, di laman itu juga dituliskan jika Indonesia ialah negara Asia pertama yang mengikuti piala dunia

Pertama Asal Benua Kuning

Pada publikasi artikel berjudul "Dutch East Indies: Asia’s first World Cup participants" terbitan tanggal 5 Juni 2020 dijabarkan bagaimana keikutsertaan Indonesia dalam pesta sepak bola empat tahunan tersebut.

"Faktanya, tim pertama dari Asia yang ambil bagian di Piala Dunia ketiga pada tahun 1938 di Prancis, tetapi sejak itu agak memudar penampilannya. Hal itu seharusnya tidak mengejutkan karena negara yang dimaksud adalah Hindia Belanda, yang sekarang dikenal sebagai Indonesia," demikian dikutip dari laman tersebut.

Semestinya, Jepang adalah satu-satunya tim Asia lainnya yang mendaftar untuk kualifikasi Piala Dunia 1938. Namun mereka mundur sehingga, Indonesia mendapatkan tiket tersebut.

Ada Dualisme

Masih dalam artikel yang sama, dikatakan, saat itu terdapat dua asosiasi sepak bola di Indonesia. Pada periode itu ada di bawah pimpinan Belanda melalui Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU) dan PSSI milik Indonesia. Keduanya bersitegang mengenai keikutsertaan tersebut.

"Anehnya, saat itu ada dua asosiasi sepak bola di Hindia Belanda: satu untuk Belanda dan satu untuk pemain lokal. Seleksi pemain dari dua federasi akhirnya melakukan perjalanan ke Eropa, tetapi itu jauh dari pengalaman yang mulus karena sejumlah pemain asli menolak bermain untuk penguasa kolonial," tulis artikel tersebut.

Namun, perjalanan dalam kompetisi, Indonesia gagal bersinar dan harus 'pulang' lebih dahulu. "Apa pun yang terjadi, saya membela Indonesia," kata Tjaak Pattiwael, yang bermain untuk Hindia Belanda, beberapa kali kepada putranya Yohannes.

Pattiwael mencetak gol ke gawang Hongaria tetapi gol dianulir karena offside. Setelah memperoleh kemerdekaan, Indonesia adalah satu di antara anggota pendiri Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), namun belum pernah lolos ke Piala Dunia.

Naik Kapal

Banyak kisah betebaran terkait bagaimana perjalana Tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 di Prancis. Satu yang pasti, mereka berangkat menggunakan kapal laut 'Baluran'.

Mereka meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok pada 27 April 1938, dan tiba di pelabuhan Genoa, Italia sebulan kemudian. Demikian laporan surat kabar mingguan yang terbit di Batavia (Jakarta), Java Bode. Java Post merilis, rombongan Achmad Nawir dkk menuju Belanda dengan mengendarai kereta api.

"Disambut hujan gerimis serta ratusan penggemarnya, mereka tiba di stasiun Den Haag pada 18 Mei," tulis situs tersebut. Beberapa ratus orang penggemar disebutkan menyambut kedatangan mereka dengan teriakan yel-yel.

Uji Coba

Menginap selama sekitar satu bulan di Hotel Duinoord, di Kota Wassenaar, tim Hindia Belanda menggelar sejumlah laga persahabatan. Mereka bersua klub asal Den Haag (2-2) dan klub Haarlem (5-3).

Pada awal Juni, rombongan ini berangkat ke Prancis, empat hari menjelang pertandingan hidup-mati melawan tim kuat Hongaria. Setelah kalah, mereka kembali ke Belanda, lalu menggelar laga persahabatan kontra Der Oranje di Stadion Olimpiade, Amsterdam, pada 26 Juni 1938. Hasil akhirnya? Jangan kaget, 9-2 untuk timnas Belanda!

Akhirnya, setelah tiga bulan berada di Eropa, mereka melakukan perjalanan pulang pada 1 Juli. Mereka butuh waktu selama tiga pekan, sebelum akhirnya berlabuh kembali di Tanjung Priok.

Disadur dari : Merdeka.com

Tanggal : 28 Oktober 2022

Reporter : Haris Kurniawan