Masih Sering Dipertanyakan, Inilah 4 Mitos Seputar Kesehatan Gigi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan gigi dan mulut tidak lepas dari mitos. Kebanyakan orang memercayai mitos dengan alasan informasi tersebut didapat secara turun temurun dari orang tua, pernah mengalami sendiri kejadian seperti yang dikatakan dalam mitos, atau karena banyak orang yang memercayainya.

Agar tidak semakin salah paham, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengadakan Instagram LIVE Q&A dengan topik Gigi Sehat di Masa Pandemi pada Rabu sore, 29 September 2021. Hadir sebagai narasumber adalah dokter spesialis konservasi gigi, drg Rio Suryantoro SpK.

Berikut penjelasan mengenai mitos dan fakta seputar kesehatan gigi dan mulut yang sesungguhnya.

1. Cabut Gigi dapat Merusak Saraf Mata

Hingga saat ini, masih banyak orang yang percaya bahwa mencabut gigi berpotensi merusak saraf mata bahkan kebutaan. Akan tetapi, kata Rio, selama Anda melakukan cabut gigi dengan dokter, hal satu ini tidak perlu dikhawatirkan.

Faktanya, mencabut gigi justru mengobati dan mencegah infeksi yang dapat meluas hingga ke beberapa organ lain, seperti mata, kepala, dan jantung.

Membiarkan gigi yang terinfeksi begitu saja di mulut dapat berakibat sangat fatal bagi kesehatan.

"Justru kalau ada gigi yang terinfeksi sampai menyerang ke sinusitis dibiarkan, perluasan infeksi itu dapat menyebar kemana-mana. baik itu ke mata, otak, hingga jantung," katanya.

Dokter gigi memiliki prosedur khusus sebelum melakukan tindakan, mulai dari wawancara medis hingga penggunaan bius untuk mengurangi risiko efek samping. Jadi, Anda tidak perlu takut untuk mencabut gigi ke dokter.

2. Gigi Ibu Hamil Mudah Keropos

Ucapan tentang bagaimana gigi ibu hamil mudah keropos karena berkurangnya kalsium pada gigi tidaklah benar.

Penyebab dari gigi ibu hamil menjadi lebih rapuh, lebih mudah berlubang dan keropos, adalah karena perubahan hormonal saat kehamilan dan kondisi mulut wanita hamil cenderung lebih asam. Kehamilan tidak pernah mempengaruhi kalsium pada gigi.

Jadi, memang harus ekstra perhatian sehingga didapati kondisi mulut yang sehat, kata Rio.

3. Gigi Sehat harus Berwarna Putih

Gigi putih memang terlihat cenderung lebih menarik dibanding gigi yang berwarna kuning. Sebagian orang pun berusaha untuk memutihkan giginya, terlebih dengan adanya tren veneer gigi yang bisa membuat gigi putih berseri.

Tak sedikit orang yang menganggap jika gigi kuning adalah pertanda kebersihan mulut yang kurang terjaga.

Menurut Rio, warna gigi sehat dipengaruhi berbagai faktor. Faktor usia, kebiasaan merokok, pola makan dan minum sehari-hari. Gigi yang sehat adalah gigi yang tidak berlubang dan tidak mengalami kegoyangan.

Umumnya, gigi memang cenderung putih kekuningan. Semakin bertambahnya usia gigi akan terus bertambah kuning karena enamelnya mulai hilang. Justru gigi yang berwarna putih atau chulky white berbahaya dan harus segera diperiksa ke dokter gigi.

4. Gigi Susu Berlubang Tidak Perlu Dirawat

Perawatan pada gigi anak sangat penting dilakukan sejak gigi susu mulai tumbuh. Gigi berperan penting dalam proses pengunyahan makanan yang berhubungan dengan asupan nutrisi anak dan mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum.

Selain itu, gigi susu yang banyak berlubang juga dapat mempengaruhi perkembangan gigi tetap penggantinya dan berdampak infeksi saraf.

Reporter: Lianna Leticia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel