Masihkah bibit, bebet, dan bobot relevan untuk pilih calon pasangan?

Bibit (garis keturunan), bebet (status sosial ekonomi), dan bobot (kepribadian dan pendidikan) atau 3B merupakan kriteria yang telah digunakan turun temurun untuk memilih pasangan hidup. Namun, apakah tiga kriteria itu masih relevan di zaman sekarang?

Psikolog klinis dan peneliti relasi interpersonal Pingkan Rumondor mengatakan bibit, bebet, dan bobot sesuai dengan tujuan pernikahan di zaman dahulu, yaitu untuk mengamankan harta, tanah, dan kedudukan. Ketika itu, cinta tidak masuk dalam kriteria penting dan kehidupan seseorang bergantung pada status yang dibawa sejak lahir.

"Kalau sekarang, zaman sudah modern. Banyak kemajuan teknologi, orang makin gampang tinggal di kota besar sehingga latar belakang jadi bermacam-macam dan kesempatan untuk berkembang semakin luas," tutur Pingkan dalam konferensi pers #SpeakUpForLove oleh Closeup di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Lindsay Lohan menikah di hari ulang tahun

Baca juga: Kemarin, Lindsay Lohan menikah hingga Meta tutup dompet digital Novi

Dia menambahkan, kaum dewasa muda kini punya kesempatan untuk menyampaikan perspektif tentang pasangan pilihan, sehingga diperlukan penyelerasan pandangan antara pasangan, keluarga dan masyarakat.

"Jadi kalau di zaman seperti ini, maka perlu dilihat kembali, perlu ditinjau kembali dengan keadaan zaman sekarang," imbuh Pingkan.

Melihat hal tersebut, Closeup melakukan studi yang memperlihatkan bahwa kriteria generasi muda dalam memilih pasangan telah mengalami pergeseran. Menurut Head of Marketing Oral Care Category PT Unilever Indonesia Tbk Distya Tarworo Endri, generasi muda kini lebih mendambakan chemistry secara interpersonal, pemikiran yang luas, dan visi yang sejalan.

"Usia yang sepantar, latar belakang ekonomi, dan persamaan suku atau ras kini kurang diprioritaskan," ujar Distya.

Studi kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan Closeup melibatkan lebih dari 160 responden dari berbagai wilayah Indonesia, terdiri dari mereka yang sedang menjalani hubungan unconventional, orang tua, hingga individu yang masih single.

Hasilnya, hampir seluruh responden setuju bahwa pedoman 3B pada dasarnya masih baik untuk diterapkan. Namun, hanya 2 dari 10 orang merasa bahwa definisi 3B yang sekarang berlaku masih relevan. Sementara 5 dari 10 orang menginginkan makna yang lebih fresh dari filosofi 3B.

Berdasarkan temuan tersebut, Closeup melalui kampanye #SpeakUpforLove berusaha mentransformasikan filosofi 3B menjadi "Berbeda, Bertumbuh, Bersama".

Pesan-pesan positif akan disebarluaskan melalui kampanye tersebut. Sebagai langkah awal, Closeup merilis tayangan web series di Tiktok dan Instagram @CloseupID tentang tantangan yang dihadapi tiga pasangan muda dalam menjalani hubungan unconventional. Ditonton oleh lebih dari 50 ribu orang, web series ini telah mendapatkan animo yang sangat positif.

Kemasan Closeup #SpeakUpforLove limited edition juga akan diluncurkan secara eksklusif di pertengahan Agustus mendatang, menampilkan ilustrasi dan pesan unik tentang pasangan muda yang menjalani hubungan unconventional, yang akhirnya mampu bersatu mengatasi tantangan karena persamaan tujuan.

Selain itu, Closeup juga akan memberikan dukungan melalui website yang akan menjadi hub sekaligus safe space bagi generasi muda untuk mencari dan berbagi inspirasi dalam menjalani hubungan.

“Kami harap kampanye #SpeakUpforLove dapat membantu lebih banyak pasangan muda Indonesia untuk mengeksplorasi dan memiliki hubungan yang sehat dan penuh cinta,” tutup Distya.

Baca juga: Mikaila Patritz dan Muhammad Fardhan kenang masa-masa sebelum menikah

Baca juga: Tips dapatkan restu orang tua dan calon mertua sebelum menikah

Baca juga: Menabung bersama pasangan sebelum menikah, penting kah?