Masjid Apung dan Museum Rasulullah untuk Kepentingan Bisnis Ancol

Mohammad Arief Hidayat, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Dewan Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk membantah kabar bahwa Masjid Apung Ancol akan menjadi bagian dari bangunan yang akan didirikan di kawasan reklamasi Ancol.

Berbeda dengan Museum Internasional Sejarah Rasulullah SAW dan Peradaban Islam, Komisaris Ancol Geisz Chalifah menyatakan bahwa masjid itu masih menjadi bagian dari kawasan Ancol yang sudah ada.

"Yang dimaksud Masjid Apung itu tidak ada di lahan reklamasi. Jadi, kalau masjid itu di lahan reklamasi, saya sudah jawab, itu masjid nongkrong, bukan Masjid Apung," katanya dalam forum Indonesia Lawyers Club di tvOne, Jakarta, Selasa, 14 Juli 2020.

Baca: Reklamasi Ancol, Persatuan Alumni 212 Tegaskan Anies Tak Ingkar Janji

Terlepas dari persoalan lokasi pembangunan, Geisz menekankan bahwa pembangunan dua bangunan yang sangat identik dengan masyarakat Islam itu memang sebagai upaya Ancol untuk menarik pasar bisnis dari kalangan Islam.

Sebab, dia menganggap, kalangan Islam di Jakarta merupakan potensi bisnis yang teramat besar untuk diabaikan. Dia berkaca dari kondisi demonstrasi umat Islam yang kini dikenal dengan Persaudaraan Alumni 212 memenuhi masjid di berbagai hotel saat unjuk rasa.

"Artinya kelas menengah Islam ini gemuk. Ini pasar untuk menambah wisata religi ke Ancol. Ini pasar buat kita, ini penambahan buat kita ingin berkembang. Kalau mau tanya, jawaban benar lewat saya karena saya inisiatornya," ujarnya.

Karena itu, dia juga meminta kepada semua pihak untuk tidak berpikir bahwa pembangunan itu sebagai upaya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk politisasi agama dalam kebijakannya, terutama untuk proyek reklamasi. Sebab, itu bisnis Ancol semata.

"Ketika dia cerita Museum Rasulullah, yang memang satu cerita dengan reklamasi ini, langsung dibilang semangat keagamaan—ini mempolitisasi agama, enggak adil betul sikap kita ke Anies itu," katanya.