Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Kini Dijaga Tentara Perempuan Arab Saudi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Untuk pertama kalinya dalam sejarah Arab Saudi, perempuan bertugas dalam peran keamanan dan angkatan bersenjata di masjid-masjid suci, seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sejak awal tahun 2021. Hal itu sebagai bagian dari reformasi Visi 2030 baru yang diluncurkan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, pada 2016.

Dilansir dari The National, Senin (3/5/2021), ada 113 tentara perempuan yang tergabung dalam tim khusus dan dibagi dalam 18 shift. Mereka merupakan perwira terlatih militer yang sudah dibentuk sejak pertengahan tahun lalu dan diberi pelajaran antara lain bela diri, pelatihan senjata, pertolongan pertama, dan kemampuan Bahasa Inggris.

Direktur Polisi Madinah, Mayor Jenderal Abdul Rahman Al Mashhan, mengatakan tugas mereka adalah melindungi dan membantu jemaah di Masjidil Haram. Para tentara perempuan ini mengenakan seragam berwarna moka, baret hitam, dan sebagian wajah tertutup cadar.

Para perwira muda itu mengawasi bagian masjid untuk membimbing dan membantu jamaah perempuan, serta menegakkan protokol kesehatan demi mencegah transmisi Covid-19.

"Ini adalah momen emosional bagi saya. Saya telah menghabiskan 57 tahun hidup di kerajaan dan melihat seorang perempuan berseragam polisi pada tingkat yang tinggi di tempat seperti Makkah. Saya menangis terharu dan bangga," ucap Umm Al Suwad, seorang warga Arab Saudi.

"Kami telah sampai sejauh ini. Ini pencapaian yang signifikan dan langkah menuju semua yang akan kami ubah dan capai dengan Visi 2030," sambungnya.

Banyak ayah mengungkap kebanggaan atas pelayanan anak perempuan mereka. Itu menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam dan keduanya harus diberi kesempatan yang sama.

"Melihat seorang perempuan di angkatan bersenjata dan militer adalah sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan akan terjadi pada anak perempuan kami. (Pangeran Mohammed) telah membuat ini semua jadi mungkin. Saya berharap anak-anak perempuan saya suatu hari bisa mengabdi pada bangsa dengan cara yang sama," kata Abubaker, seorang warga Arab Saudi lainnya.

Era Pemberdayaan Perempuan

Seorang siswa didampingi instruktur mengikuti kursus mengemudi di kampus Effat University, di Jeddah, Arab Saudi, (6/3). Keputusan kerajaan Arab Saudi tersebut menaikkan salah satu bentuk diskriminasi terhadap wanita di Arab Saudi. (AP Photo/Amr Nabil)
Seorang siswa didampingi instruktur mengikuti kursus mengemudi di kampus Effat University, di Jeddah, Arab Saudi, (6/3). Keputusan kerajaan Arab Saudi tersebut menaikkan salah satu bentuk diskriminasi terhadap wanita di Arab Saudi. (AP Photo/Amr Nabil)

Salah seorang tentara, Hanan Al-Rashidi, yang sudah bertugas selama delapan bulan, mengatakan bahwa ia menerima pekerjaan itu karena merupakan bentuk pelayanan kemanusiaan. Ia juga bangga telah mengibarkan bendera untuk Saudi Vision 2030 dan menganggap era ini sebagai salah satu pemberdayaan perempuan.

"Saya bersyukur. Kepemimpinan kami telah memberi kami banyak kesempatan. Dari mengemudi mobil sampai bekerja di bidang apapun, perempuan setara dengan pria. Tidak ada bedanya," tutur Hanan, seperti dilansir dari Arab News.

Pemberdayaan perempuan memang jadi salah satu tujuan utama dari Visi 2030. Putra mahkota Saudi merayakan ulang tahun kelima program tersebut dalam sebuah wawancara di televisi pemerintah, pekan lalu. Keputusan mengizinkan perempuan untuk bertugas di militer dibuat tiga tahun lalu.

Kementerian Dalam Negeri Saudi merilis video yang menunjukkan pelatihan wanita dan bekerja di berbagai bidang keamanan bulan ini. Perubahan tersebut merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi wanita dan mengurangi kesenjangan gender di tempat kerja di Arab Saudi.

Perempuan Arab Saudi Bebas dari Belenggu

Infografis Perempuan Arab Saudi Bebas dari Belenggu (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Perempuan Arab Saudi Bebas dari Belenggu (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan Berikut: