Maskapai diminta persiapkan armada cadangan hadapi Natal-Tahun Baru

Ahmad Wijaya

Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syarief Abdullah Alkadrie menginginkan berbagai maskapai penerbangan dapat mengantisipasi dan mempersiapkan armada pesawat cadangan dalam menghadapi lonjakan penumpang pada masa Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

"Untuk menghindari gangguan pelayanan penerbangan, diharapkan agar setiap maskapai memiliki armada cadangan untuk mengantisipasi jika terjadi gangguan yang menyebabkan armada tidak dapat diterbangkan," kata Syarief Abdullah Alkadrie dalam rilis, Rabu.

Politisi Partai Nasdem itu berpendapat, hal tersebut penting dalam rangka menjamin ketepatan jadwal untuk keberangkatan pesawat.

Syarief juga mendesak Kemenhub meningkatkan pengawasan terhadap maskapai di Indonesia, termasuk dalam rangka penyiapan armada cadangan tersebut.

"Pesawat cadangan tersebut yang secara khusus disiapkan untuk menggantikan pesawat yang bermasalah, bukan pesawat yang sedang maintenance (perawatan)," ucapnya.

Ia juga menginginkan Kemenhub dan Badan Usaha Angkutan Udara untuk membuat terobosan kebijakan terkait tarif angkutan udara, karena masyarakat juga jkerap mengeluh terkait tingginya tiket dalam periode puncak liburan seperti Natal dan Tahun Baru.

Kementerian Perhubungan memproyeksikan jumlah pemudik saat Natal dan Tahun Baru pada 2019 mencapai 16 juta jiwa dengan puncak arus mudik bakal terjadi pada 20-24 Desember 2019.

"Kita prediksikan jumlah pemudik tahun ini menjadi 16 juta orang, transportasi angkutan darat diperkirakan naik empat sampai lima persen dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Senin (2/12).

Budi Karya Sumadi menambahkan penggunaan transportasi darat diperkirakan mengalami kenaikan seiring bertambahnya ruas jalan tol, sementara transportasi udara mengalami penurunan.

"Transportasi diperkirakan yang paling banyak melalui darat karena jalan tol bertambah, transportasi yang lainnya rata, melalui udara mungkin turun sedikit," katanya.

Menhub memaparkan jumlah penumpang angkutan bus diperkirakan sebanyak 1,75 juta orang naik 3,55 persen, kereta api diperkirakan mencapai 5,91 juta orang (4,05 persen), angkutan penyeberangan 2,27 juta orang (6,57 persen), angkutan laut 1,19 juta orang (1,71 persen), dan angkutan udara 5,28 juta penumpang, menurun sekitar 8,40 persen.

Ia menambahkan jumlah armada yang tersedia yakni bus sebanyak 50 ribu unit, kapal penyeberangan 228 unit, kereta api 439 unit, kapal laut 1.293 armada, dan pesawat sebanyak 495 unit.