Masker dan Covid-19: Di AS, beragam kebijakan masih ada

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Ketika tingkat infeksi Covid-19 di Amerika Serikat mencapai titik tertinggi sepanjang masa, seruan mewajibkan penggunaan masker secara nasional guna menggantikan tambal sulam peraturan negara bagian saat ini semakin meningkat saja.

Namun, satu orang yang belum yakin adalah Presiden Donald Trump yang konsisten menekankan obat dan vaksin masa depan sebagai cara mengakhiri pandemi.

Trump juga mengolok-olok lawannya dalam pemilihan presiden pekan depan, Joe Biden, karena mendukung pemakaian masker secara nasional, dan menuduh tokoh Demokrat ini ingin mengembalikan warga Amerika ke dalam lockdown.

Sampai detik ini, 33 dari 50 negara bagian AS, serta ibu kota Washington dan pulau Puerto Rico, telah memberlakukan kewajiban memakai masker.

Di 17 negara bagian lainnya, hal itu diserahkan kepada yurisdiksi lokal, seperti kota besar, kota kecil dan kabupaten untuk memutuskan sendiri.

Hal ini pada gilirannya telah menciptakan apa yang disebut oleh para peneliti sebagai "eksperimen alami, di mana tempat-tempat yang memiliki konstitusi serupa tetapi berbeda dalam kebijakan maskernya dapat dibandingkan.

Ambil contoh Kansas, di mana gubernur memberlakukan perintah pemakaian masker pada Juli tetapi setiap county bisa memilih untuk tidak mengikutinya.

Hasilnya adalah hanya 20 dari 105 county yang benar-benar mewajibkan masker - dan di daerah tersebut, tingkat infeksi turun 50 persen dibandingkan dengan county di mana tidak ada perintah seperti itu, menurut para peneliti di Universitas Kansas.

Masalah dengan metode yang juga digunakan di Texas dan Oklahoma itu adalah metode ini tidak memperhitungkan ukuran perilaku lain yang sering menyertai perintah pemakaian masker, seperti penutupan bar.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Health Affairs menggunakan metode statistik untuk mengontrol variabel-variabel ini dan menyimpulkan bahwa perintah pemakaian masker pada musim semi saja bisa mencegah 230.000-400.000 kasus pada 22 Mei.

Model epidemiologi dari Universitas Washington yang diterbitkan baru-baru ini di Nature bahkan memperkirakan bahwa 130.000 kematian dapat dihindari sampai akhir Februari jika 95 persen penduduk memakai masker di hadapan orang lain.

Scott Gottlieb, mantan komisioner Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, menulis opini di Wall Street Journal pada Minggu berjudul "Musim Dingin Akan Datang: Waktunya untuk Wajib Masker."

Dia berpendapat untuk perintah yang berlangsung selama dua bulan, mencatat bahwa "lebih mudah memakai masker pada musim dingin daripada musim panas."

Anthony Fauci, pejabat penyakit menular terkemuka di negara itu, sudah berbulan-bulan menyampaikan pandangan untuk solusi "berteknologi rendah" dalam melawan virus, yakni masker, menjaga jarak fisik dan berkumpul di luar daripada di dalam ruangan.

Subjek ini sebenarnya jauh lebih tidak kontroversial ketimbang apa yang tampaknya ditunjukkan oleh debat politik yang mendominasi siklus berita dan penyebaran disinformasi yang terus-menerus di media sosial.

Sebagian besar rakyat Amerika sudah menutupi wajah mereka: 78 persen pada April dan 89 persen pada Juni, menurut survei yang dilaporkan sendiri yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Jajak pendapat lebih baru menunjukkan angka yang serupa.

Tetapi ketika tingkat infeksi melonjak setinggi itu, bahkan sebagian kecil orang yang tidak mengenakan masker sudah cukup mempertahankan penyebaran virus ini.

Dan di antara mereka yang melaporkan penggunaan masker, apakah mereka mengenakannya saat berbelanja, di restoran di sela-sela kursus, atau saat berbagi tumpangan mobil dengan rekan kerja?

Dari sudut pandang hukum, bahkan tidak jelas apakah presiden memiliki kewenangan dalam memberikan kewajiban memakai masker di seluruh negeri.

"Tim hukum kami beranggapan saya bisa melakukan itu berdasarkan sejauh mana ada krisis di negara bagian itu dan seberapa buruk bagi negara," kata Biden pada September, terdengar kurang percaya diri.

Meskipun demikian, pemerintah federal memang memiliki kekuasaan yang kuat pada bidang-bidang tertentu.

CDC telah menyiapkan arahan pada September untuk menjadikan masker wajib dikenakan dalam pesawat, kereta api, bus, kereta bawah tanah dan di bandara - tetapi Gedung Putih mementahkannya, lapor New York Times.

Salah satu penasihat virus corona baru Trump, Scott Atlas - yang keahliannya sangat diperdebatkan oleh komunitas ilmiah dan kesehatan masyarakat - baru-baru ini mencuit: "Masker berfungsi? TIDAK." Twitter menyembunyikan pesan tersebut sebagai misinformasi.

Apa yang hampir pasti adalah bahwa AS akan tetap unik di antara negara-negara maju sejauh negara ini mendelegasikan langkah-langkah kesehatan publiknya setidaknya selama tiga bulan lagi.

Bahkan jika Trump kalah pada 3 November, dia akan tetap berkuasa sampai 20 Januari.