Masker, layar, dan kursi kosong saat KTT Saudi berlangsung virtual

·Bacaan 3 menit

Riyadh (AFP) - Wartawan-wartawan yang mengenakan masker pada Rabu antre masuk sebuah ballroom di Riyadh yang berubah menjadi pusat media setelah menjalani wajib pemeriksaan suhu, untuk meliput secara fisik KTT G20 virtual yang awalnya dirancang sebagai pesta besar bagi tuan rumah Arab Saudi.

Ruang media di hotel Crown Plaza di ibu kota itu tadinya bakal dipenuhi oleh ratusan wartawan internasional seandainya bukan karena pandemi virus corona yang telah membuat pertemuan tahunan para pemimpin dunia itu menjadi webinar raksasa.

Saat KTT dibuka, segelintir media asing yang hadir mengarahkan kameranya ke sebuah layar besar yang berkedip-kedip di mana para pemimpin dunia muncul di beberapa jendela kecil - salah satu pemimpin mengatur kertas, yang lain terlihat meminta bantuan teknis dan satu lagi mengobrol santai dengan seorang ajudan.

Bagi Arab Saudi yang merupakan negara Arab pertama yang menjadi tuan rumah KTT, pusat media yang merupakan ruang bertabur lampu gantung besar yang dipenuhi dengan tempat kerja kosong tersebut adalah simbol dari hilangnya kesempatan memamerkan proyek modernisasi yang ambisius.

"Ini takdir Tuhan," kata Adel al-Jubeir, menteri luar negeri kerajaan, merujuk kepada pandemi yang membuat pertemuan fisik tidak mungkin dilakukan.

Kerajaan yang keras ini telah mengalami transformasi besar-besaran dalam tiga tahun terakhir, di antaranya mencabut larangan mengemudi bagi perempuan, bioskop dibuka kembali dan pencampuran gender menjadi semakin umum karena polisi syariah yang dulu ditakuti sudah tak bergigi.

"Akan sangat menyenangkan jika ribuan orang mendatangi Arab Saudi, berjalan-jalan, bertemu pria dan wanita Saudi, menyaksikan perubahan yang telah terjadi di negara ini, merasakan perubahannya," kata Jubeir.

Pertemuan puncak fisik juga akan menjadi kesempatan menyoroti potensi pariwisata negara kerajaan ini yang merupakan "minyak putih" baru yang ingin dikembangkan oleh negara-petro itu dalam mendiversifikasi pemasukannya.

Arab Saudi diberkahi dengan lanskap menakjubkan, tetapi pariwisata tetap sulit dijual di negara dengan norma sosial yang ketat dan larangan alkohol yang absolut.

Ruang media yang dihiasi oleh potret-potret destinasi Saudi itu bisa saja disangka pameran pariwisata.

Para pelayan berseragam menawarkan empat jenis kopi Arab yang masing-masing berasal dari sudut-sudut berbeda negeri kerajaan itu.

Berbagai coffee table book (buku berisi foto-foto atau gambar-gambar yang menarik dan mendominasi halaman ketimbang tulisannya) yang mempromosikan kelezatan kuliner Saudi ditempatkan di sebelah panduan destinasi wisata seperti kota bersejarah Al Ula dan resor pegunungan Abha yang merupakan tempat dengan keindahan alam yang luar biasa namun sedikit diketahui di luar negeri.

Kerajaan ini menggelar makan malam media pada malam pertemuan puncak di kota bersejarah Diriyah, dekat dengan Riyadh dan terkenal karena arsitektur bata lumpur tradisionalnya.

Mengenakan busana tradisional longgar thobe dan memegang belati, para penari meliuk-liuk dan bergoyang di tengah reruntuhan kota bersejarah itu.

Tetapi Menteri Investasi Khalid al-Falih dalam konferensi pers keesokan harinya ditanyai soal apakah berita-berita besar negatif, termasuk mengenai pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi yang mengerikan di konsulat Arab Saudi di Istanbul, telah merusak potensi investasi.

Di negara yang tak terbiasa menghadapi pertanyaan sulit dari wartawan, moderator meminta wartawan menyimpan pertanyaan itu di tempat lain.

Namun Falih bersikukuh ingin menjawabnya.

"Investor bukan jurnalis, investor mencari negara di mana mereka bisa menaruh kepercayaannya kepada pemerintahan yang efektif yang memiliki sistem pengambilan keputusan ekonomi yang tepat," kata dia sambil mengangkat bahu.


bur-ac/sls/dwo