Massa anti John Kei demo, Jalan Gajah Mada macet

MERDEKA.COM, Sekitar puluhan massa anti John Kei melakukan aksi unjuk rasa di Jl. Gajah Mada No. 17, Petojo Utara, Jakarta depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Aksi itu membuat macet di sekitar jalan tersebut.

Lalu lintas dari Harmoni menuju Glodok terpantau macet. Para demonstran melakukan aksinya dengan memenuhi sebagain badan Jalan Gajah Mada. Ditambah, sebagian kendaraan parkir di bahu jalan.

Massa meneriakkan agar hakim memberikan putusan tegas. Demonstran juga meminta agar John Kei dihukum.

Hari ini, PN Pusat sedang menggelar sidang tuntutan dengan terdakwa John Kei. Sidang ini dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Untuk sidang kali ini, polisi mengerahkan 850 personel untuk mengamankan jalannya sidang.

"Ada 850 personel dari Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Pusat, dan Polsek Gambir," ujar Kapolsek Gambir AKBP Tatan Dirsan di Gedung PN Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Jakarta, Selasa (4/12).

Selain itu, kata Tatan, polisi juga menyiagakan sejumlah anggota dari satuan Brimob dan Intel Reskrim. "Terdiri dari polisi bersenjata dan tidak bersenjata," kata dia.

Sementara itu, di depan Gedung PN, terparkir satu unit Baracuda dan satu unit water canon. Di samping itu, terlihat pula dua unit mobil pengangkut anjing pelacak.

Dalam sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa terdakwa dengan ancaman hukuman pidana mati. Terdakwa dikenakan dakwaan satu yaitu Pasal 340 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1, Pasal 56 KUHP ayat (1) ke-2. Selain itu JPU juga mendakwakan pasal 338 Jo 55 ayat (1) ke -1 dan 56 (1) ke-2 KUHP sebagai dakwaan subsider terhadap terdakwa John Kei, Joachim Joseph Hungan dan Muklis B Sahab.

John Kei sendiri ditangkap pada 17 Febuari silam di Hotel C'One Pulomas, Jakarta Timur karena diduga terlibat dalam pembunuhan Tan Hary di Swiss Bell Hotel pada 26 Januari 2012. Polisi menangkap delapan orang tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut. Mereka adalah Ancola Kei, Tuce Kei, Dani Res, Kupra, Chandra Kei, John Refra Kei, Yoseph Hungan, dan Mukhlis.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.