Masuk Zona Seismik Aktif, Kawasan Malang Pernah 5 Kali Diguncang Gempa Merusak di Masa Lalu

·Bacaan 2 menit
Potongan-potongan genteng dan puing-puing lainnya berserakan di tanah sebuah sekolah setelah gempa bumi di Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/4/2021). Gempa bumi yang kuat merusak bangunan di pulau utama Indonesia di Jawa dan mengguncang tempat wisata di Bali, kata pejabat. (AP Photo/Hendra Permana)

Liputan6.com, Jakarta - Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa untuk menguatkan struktur bangunan agar tidak mudah runtuh atau hancur ketika gempa bumi terjadi. Karena kata dia, reruntuhan gempa yang menimbulkan korban jiwa.

"Gempanya sendiri sebenarnya tidak membuat orang meninggal tapi karena tertimpa bangunan yang roboh itulah bikin orang meninggal," kata Daryono dalam konferensi pers yang disiarkan di youtube BMKG, Sabtu (10/4/2021).

Karena itu, untuk mengurangi jumlah korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan, Daryono menyarankan agar warga membangun rumah dengan bahan yang ringan, jika belum bisa menguatkan struktur bangunan yang anti gempa.

"Kami memohon kepada masyarakat agar ke depan bangunan rumah dikuatkan strukturnya dengan tulangan besi yang sesuai standar. Kalau belum bisa memenuhi, mohon membangun rumah dengan bahan ringan seperti bambu," kata dia.

Daryono mengaku sudah melihat kerusakan akibat gempa 6,1 SR itu. Sebenarnya dia merasa cukup bersyukur, karena kata dia, gempa berkedalaman 80 kilometer itu tidak menimbulkan tsunami ataupun kerusakan yang cukup parah seperti catatan sejarah gempa sebelumnya.

"Patut disukuri karena gempa kedalaman 80 kilometer. Karena kalau kita lihat ini sesar naik dan rawan tsunami," ujarnya.

"Kawasan selatan Malang memang masuk zona seismik aktif dan kompleks. Kalau lihat catatan sejarah, tahun 1986, 1937, 1962, 1963 dan 1972 itu gempanya merusak," sambungnya.

Kualitas Bangunan Pengaruhi Keselamatan

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengatakan bahwa kualitas bangunan akan mempengaruhi tingkat keparahan dari kerusakan bangunan itu sendiri.

Menurutnya, semakin bagus kuat kerangka bangunan, kerusakan semakin minim. Bukan hanya itu, kerusakan bangunan juga dipengaruhi oleh letak geologis bangunan tersebut.

"Tingkat kerusakan dipengaruhi kualitas bangunan. Kalau kualitasnya bagus, tidak terlalu berdampak," ujarnya.

"Kerusakan bangunan juga sanget dipengaruhi kondisi geologisnya," imbuhnya.

Terkait gempa di koordinat 8,83 LS dan 112,5 BT itu, Bambang memprediksi akan ada banyak bangunan yang rusak. Karena berdasarkan pemantauannya, banyak bangunan yang tidak sesuai standar.

"Pasti bangunan (di lokasi gempa) rusak karena banyak bangunan yang tidak sesuai standar. Namun saya pikir memang pasti ada kerusakan karena gempa 6,1 SR itu sampai membuat banyak orang terbangun dan kaget," ujarnya.

Sebelumnya, BMKG melaporkan adanya gempabumi di dalam laut dengan jarak 96 km arah Selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Gempa terjadi pukul 14.00.16. Sampai saat ini, BMKG masih mendata kerusakan materil dan jumlah korban jiwa.

Reporter: Rifa Yusya Adilah

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: