AS Masuki Fase Terakhir Evakuasi, Taliban Siap Ambil Alih Bandara Kabul Afghanistan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Kabul - Amerika Serikat dan pasukannya berada di fase final untuk meninggalkan Afghanistan per 29 Agustus 2021, dua hari menjelang tenggat waktu akhir di mana mereka akan hengkang seutuhnya pada 31 Agustus mendatang.

Proses evakuasi yang dilaksanakan AS dari Bandara Kabul juga telah benar-benar berada di tahap akhir, dengan lebih dari 1,000 orang yang tersisa untuk diangkut keluar dari Afghanistan via pesawat, jelas sumber pejabat AS yang mengawasi jalannya operasi, sebagaimana diwartakan Reuters, dikutip dari MSN, Minggu (29/8/2021).

"Kami ingin memastikan agar setiap warga negara asing dan warga (Afghanistan) yang berisiko bisa dievakuasi hari ini (Minggu 29 Agustus), dan pasukan akan terbang keluar ketika proses ini selesai," jelas pejabat itu yang berbicara dalam kondisi anonimitas.

Di sisi lain, Taliban, yang kini berstatus sebagai penguasa de facto Afghanistan, menyatakan tengah bersiap untuk mengambil alih kendali Bandara Kabul dari tangan AS, lanjut pejabat itu.

Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa mereka akan tetap pada tenggat waktu Selasa 31 Agustus untuk benar-benar hengkang dari Afghanistan --menandai akhir dari 20 tahun keterlibatan militer Amerika setelah mereka menginvasi Kabul, menggulingkan Taliban dari pemerintahan, dan memburu kelompok teroris Al-Qaeda yang dituduh dilindungi oleh kelompok militan tersebut.

Pemerintah nasional yang didukung Barat dan tentara Afghanistan seutuhnya kolaps ketika Taliban memasuki ibukota pada 15 Agustus, meninggalkan kekosongan administratif yang telah meningkatkan kekhawatiran akan keruntuhan keuangan dan kelaparan yang meluas.

Berdasarkan kesepakatan dengan Amerika Serikat, Taliban mengatakan akan mengizinkan orang asing dan Afghanistan yang ingin pergi untuk terbang keluar. Amerika Serikat dan sekutunya telah membawa sekitar 113.500 orang keluar dari Afghanistan dalam dua minggu terakhir, tetapi puluhan ribu orang yang ingin pergi harus terpaksa ditinggal.

Situasi di dan sekitar bandara juga tengah diselimuti ketegangan serta ancaman gangguan keamanan, menyusul serangan teror bom yang menewaskan 13 tentara AS, lebih dari 100 warga Afghanistan, dan beberapa warga asing, pada Kamis 26 Agustus 2021. Kelompok teroris ISIS cabang Afghanistan --ISIS-KP atau ISIS Provinsi Khorasan-- mengklaim aksi itu.

Sebagai balasan, militer AS melancarkan serangan drone pada Jumat 27 Agustus, menewaskan 2 petinggi ISIS-KP dan mengklaim telah menggagalkan rencana serangan lanjutan dari kelompok itu.

Presiden Biden mengatakan bahwa operasi penumpasan ISIS di Afghanistan itu akan terus berlanjut.

Taliban Bersiap Mengambil Alih

Pasukan Taliban berjaga di pos pemeriksaan dekat gerbang Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, Sabtu (28/8/2021). Taliban menutup akses menuju Bandara Kabul bagi sebagian besar calon pengungsi untuk mencegah kerumunan setelah serangan bom bunuh diri. (AP Photo/Wali Sabawoon)
Pasukan Taliban berjaga di pos pemeriksaan dekat gerbang Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, Sabtu (28/8/2021). Taliban menutup akses menuju Bandara Kabul bagi sebagian besar calon pengungsi untuk mencegah kerumunan setelah serangan bom bunuh diri. (AP Photo/Wali Sabawoon)

Di sisi lain, pejabat Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa kelompoknya telah "menyiapkan tim insinyur dan teknisi yang dalam ancang-ancang untuk mengambil alih bandara Kabul" seketika AS mengakhiri operasinya di sana.

"Kami sedang menunggu langkah akhir dari Amerika sebelum akhirnya kami dapat mendapatkan kontrol penuh atas Bandara Kabul, di mana kedua belah pihak telah menyetujui proses serah terima yang cepat," kata Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid.

Ia juga menambahkan bahwa Taliban akan segera mengumumkan kabinet pemerintah dalam beberapa hari mendatang.

Mujahid mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok itu telah menunjuk gubernur dan kepala polisi di semua kecuali satu dari 34 provinsi Afghanistan dan akan bertindak untuk menyelesaikan masalah ekonomi negara itu.

Taliban, yang menghadapi hilangnya miliaran dolar bantuan untuk negara itu, meminta Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya untuk mempertahankan hubungan diplomatik setelah menarik diri. Inggris mengatakan itu harus terjadi hanya jika Taliban mengizinkan perjalanan yang aman bagi mereka yang ingin pergi dan menghormati hak asasi manusia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel