Masuki Musim Kemarau, 4 Daerah di Sumsel Siaga Darurat Kahutla

Merdeka.com - Merdeka.com - Empat daerah di Sumatera Selatan (Sumsel) ditetapkan berstatus siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penetapan status ini sebagai upaya koordinasi dalam penanganan dini memasuki musim kemarau.

Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori menjelaskan, keempat daerah tersebut merupakan daerah rawan karhutla saat musim kemarau, yakni: Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Penukal Abab Lematang Ilir.

Sementara delapan daerah lain yang juga langganan karhutla masih menunggu penetapan status. Harapannya, koordinasi dan penanganan secara dini mudah dilakukan.

"Empat daerah sudah berstatus siaga darurat karhutla, delapan daerah lain masih menunggu," ungkap Ansori, Rabu (8/6).

Pencegahan Dini

Menurut dia, penanganan dini perlu dilakukan agar lokasi mudah terbakar dapat dipetakan dan api tidak semakin meluas. Langkah ini hasil dari pengalaman karhutla hebat pada 2015 dan 2019.

"Sekecil apa pun adanya api bisa segera ditanggulangi, jangan sampai keburu meluas baru dipadamkan," ujarnya.

Dengan adanya status tersebut, dibentuk juga satuan tugas mulai dari tingkat provinsi hingga desa, terlebih di kawasan yang menjadi langganan karhutla. Upaya lain juga tengah dilakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) guna membasahi lahan gambut.

"Kami usulkan 10 helikopter ke BNPB untuk patroli dan water boombing," kata dia.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Desindra Deddy Kurniawan mengatakan, musim kemarau di Sumsel mulai terjadi pada dasarian dua Juni 2022. Puncak kemarau terpadi pada Juli-September 2022 dengan intensitas hujan di bawah 50 mm.

"Kewaspadaan perlu ditekankan agar karhutla bisa dicegah, tidak meluas dan semakin sulit ditanggulangi," ujarnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel