Masyarakat Amerika akan Boleh Tak Pakai Masker, Lalu Indonesia?

Ichsan Suhendra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Salah satu protokol kesehatan yang paling utama mencegah penularan COVID-19 yaitu memakai masker. Meski begitu, Amerika Serikat (AS) mulai memberikan kebijakan baru, di mana pemakaian masker tak lagi diwajibkan. Bagaimana dengan di Indonesia?

Anggota Tim Advokasi Vaksin Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Erlina Burhan, menanggapi hal tersebut. Menurutnya, situasi di AS jauh berbeda dengan di Tanah Air. Hal ini didasari oleh tingkat kepesertaan vaksinasi COVID-19 yang relatif tinggi di AS.

"Kalau saya ingin menjelaskan kondisi Amerika dan Indonesia itu berbeda. Pertama, mereka sudah mencapai herd immunity vaksinasi sudah cukup banyak di atas 100 juta yang divaksin karena mereka punya fasilitas itu semua Pfizer dan Moderna," kata Erlina dalam acara virtual bersama Imboost, baru-baru ini.

Ketua Pokja Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tersebut menyebut, hal itu berkaitan erat dengan kemampuan AS memproduksi vaksin COVID-19 secara mandiri. Dengan adanya herd immunity hingga 70 persen pada penduduknya, diharapkan pandemi sudah mampu dikendalikan.

"Mereka fokus pada rakyatnya dulu, makanya kita belum dapat Pfizer dan Moderna mereka sudah capai herd immunity yang diharapkan terjadinya perlambatan, melandai dan ke depannya juga menjadi negara yang endemis saja," papar Ketua Asian Pacific Society of Respirology itu.

Lebih lanjut, kata Erlina, pemerintah AS pun mulai merencanakan penerapan kebijakan baru untuk memperbolehkan rakyatnya tak lagi memakai masker saat di ruang terbuka. Namun, pengecualian tetap ada saat terjadi kerumunan.

"Mungkin Amerika outbond, olahraga di luar. Tapi tidak boleh ditiru di Indonesia, karena capaian vaksinasi kita belum banyak, jadi yang punya kekebalan baru sedikit," ujarnya.

Erlina menjelaskan, kebijakan serupa bisa dilakukan di Tanah Air apabila herd immunity juga sudah memenuhi target. Sayangnya, hingga kini di Indonesia masih terus berhadapan dengan peningkatan kasus sehingga penularan COVID-19 masih harus terus diwaspadai.

"Dulu awalnya hanya yang sakit yang pakai masker. Sekarang semua orang pakai masker baik yang sakit maupun yang tidak. Jadi ini jangan buru-buru meniru," ujar Erlina.