Masyarakat Belum Mau Beralih ke Transportasi Umum Meski Harga BBM Naik

Merdeka.com - Merdeka.com - Masyarakat tengah ketar ketir terhadap rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang hampir dipastikan akan diumumkan pemerintah, sebab hal ini akan menambah biaya pengeluaran.

Pakar kebijakan transportasi, Djoko Setijowarno skeptis jika momentum kenaikan harga BBM akan mengubah kebiasaan masyarakat beralih ke transportasi publik.

"Tergantung pemerintah, berpikirkah ke sana?" ujar Djoko kepada merdeka.com, Rabu (31/8).

Alih-alih kenaikan harga BBM dijadikan sebagai momentum reformasi untuk transportasi publik, Djoko menyampaikan bahwa DPR bahkan berencana mengurangi subsidi transportasi publik sebesar 60 persen. Jika demikian, Djoko meyakini polemik transportasi tak akan kunjung tuntas.

Dia pun mengkritisi jumlah kendaraan sepeda motor semakin meningkat tajam. Sebab menurutnya, realita tersebut cerminan ketiadaan upaya pemerintah dalam perbaikan transportasi publik, sehingga masyarakat tidak melulu bergejolak akibat kenaikan harga BBM.

"Transportasi umum semakin berkurang, kendaraan pribadi terutama sepeda motor melesat populasinya, saatnya membenahi angkutan penumpang berbadan hukum dan angkutan barang," jelasnya.

Salah satu pengguna BBM, Nur Rahmah (37) mengakali pengeluaran atas rencana kenaikan harga BBM dengan menukar mobil. Nur sebagai pemilik toko barang kebutuhan rumah tangga dan grosir, menukar mobil berbahan bakar BBM jenis pertamax menjadi mobil berbahan bakar solar.

Mobil merupakan alat transportasi penting sebagai penunjang keberlangsungan bisnisnya. Dalam sehari, Nur menyampaikan harus menyetir ke beberapa rumah pelanggan untuk mengantarkan barang pesanan.

Pengeluaran Nur saat menggunakan pertamax yaitu Rp700.000 untuk 1 minggu. Saat menggunakan solar, pengeluarannya dapat ditekan menjadi Rp500.000.

"Hampir tidak mungkin saya tidak menggunakan mobil," kata Nur.

Ibu dari enam anak ini enggan memanfaatkan jasa ekspedisi untuk mengirimkan barang dagangannya. Alasan utamanya untuk menyenangkan konsumen, menghindari kerusakan barang, dan tak ingin memperkecil keuntungan karena terpotong biaya ongkos kirim.

Sementara Lia (37), mengakali rencana kenaikan harga BBM dengan mengurangi mobilitas. Mobil yang digunakan Lia untuk mengantar dan menjemput menggunakan bahan bakar minyak jenis pertamax. Pembelian pertamax untuk 2-3 hari sebesar Rp200.000.

Seiring rencana kenaikan harga BBM ia memutuskan memanfaatkan fasilitas bus jemputan yang disediakan oleh sekolah.

"Pilih naik jemputan karena lebih murah jika dihitung ulang. Jika terpaksa harus jalan memakai mobil ya pakai pertalite," sambungnya. [azz]