Masyarakat Diminta Tak Termakan Doktrin Sesat Kelompok Radikal Intoleran

Merdeka.com - Merdeka.com - Perbedaan suku, ras, dan agama dapat merekatkan hubungan sesama anak bangsa dalam bingkai toleransi. Terhadap mereka yang berbeda keyakinan bukan berarti bermusuhan.

"Kita memang harus loyal kepada agama kita, tetapi dalam arti bukan kita harus memusuhi yang lain," ujar Direktur Damar Institute, Muhammad Suaib Tahir dalam keterangannya, Jumat (15/9).

Suaib mengatakan, sejatinya manusia memiliki hubungan hak dan kewajiban dengan manusia lainnya, terlebih dalam hal yang bersifat kepentingan umum. Menurutnya, di era sekarang ini manusia hidup dalam satu negara, hidup dalam satu komunitas yang tentunya tidak boleh membatasi diri dalam bergaul hanya sesama muslim.

"Karena membentuk perbedaan-perbedaan sosial itu tidak bagus. Termasuk dalam kasus penolakan pembangunan rumah ibadah umat non-muslim," tegas Sekjen Pengurus Besar Darud Da'wah Wal Irsyad ini.

Ia berharap bahwa semestinya ormas dan para tokoh-tokoh moderat dapat berperan guna meluruskan ajaran sesat kelompok radikal intoleran yang selalu berupaya menciptakan kegaduhan.

"Tentu berbahaya bagi dia sendiri dan bagi umat Islam sendiri," ungkap alumni Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini.

Tak hanya itu, ia menilai masyarakat berhak mendapatkan penjelasan benar agar tidak terjerumus kepada perilaku serta justifikasi untuk melakukan kekerasan.

"Kita harus menjelaskan makna yang sebenarnya tentang apa itu jihad, tentang apa itu hijrah, apa itu syahid. Semua itu harus dijelaskan secara proporsional. Bukan penjelasan yang dibuat atau didoktrin kelompok-kelompok radikal menyesatkan," tandasnya. [did]