Masyarakat Lamongan agar tidak panik hadapi penyakit mulut-kuku hewan

Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur mengajak masyarakat setempat untuk tidak panik menghadapi penyakit mulut dan kuku yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi dan kambing di wilayah itu.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi di Lamongan, Selasa mengatakan pemkab telah melakukan berbagai upaya mengantisipasi adanya penyakit tersebut.

"Kami telah mencegah masuknya ternak baru dan keluarnya ternak yang sakit, saya harap masyarakat tetap tenang dan tidak panic selling, InsyaAllah semua akan baik-baik saja," kata Yuhronur, dalam siaran persnya.

Di Lamongan kasus ini berawal dari deteksi sapi di Dusun Pilanganom Desa Balungwangi Kecamatan Tikung.

Gejala tersebut muncul pada sapi yang baru dibeli yang nampak hipersalivasi, nafsu makan turun, panting, dan suhu tubuh agak demam.

Pemkab Lamongan, kata dia, telah melakukan pelacakan dan pengujian melalui tim Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan hingga 6 Mei, dan diperoleh hasil 4 dari 27 kecamatan di Lamongan terserang suspek PMK, yakni Kecamatan Tikung, Kembangbahu, Sarirejo, dan Turi.

"Total populasi yang terjangkit di Kabupaten Lamongan yakni 215 ekor dari 23 peternak," katanya.

Selain itu juga telah dilakukan edukasi pada peternak untuk menahan ternak yang sakit untuk tidak dijual, melakukan pengobatan simtomatik dan supportif pada kasus, serta melakukan kerjasama lintas sektoral.

"Saat ini, sementara pasar hewan dilakukan penutupan, ini dimaksudkan untuk menghindari penularan yang lebih besar lagi di Lamongan," kata Yuhronur.

Sebelumnya, dalam kunjungannya beberapa waktu lalu ke Lamongan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku bahwa pemerintah provinsi dan daerah yang terjangkit sedang melakukan koordinasi bersama dirjen peternakan dan kesehatan hewan, pusvetma (pusat veteriner farma), dan BBVET (Balai Besar Veteriner).

Serta melakukan tindakan pada hewan yang terkonfirmasi PMK dengan memberikan suntikan obat-obatan berupa analgesik, antibiotik, serta vitamin.

"Pendekatannya relatif agak mirip dengan pengendalian COVID-19, sehingga yang ditemukan positif PMK harus diisolasi. Ternak dari daerah yang terkonfirmasi PMK jangan keluar, dan yang di luar jangan masuk, sambil proses pengobatan berlangsung," kata Khofifah.

Ditambahkan Khofifah, proses penyebaran PMK melalui angin, karbon, sehingga radius angin memungkinkan penyebarannya bisa cepat.

Selain itu juga kaitannya dengan lendir, sehingga berpotensi 1 kandang tertular. Oleh karena itu, beliau menghimbau agar pasar hewan sementara harus ditutup.

Terkait vaksin virus yang pernah digunakan pada tahun 1986, pemprov telah melakukan pengajuan penetapan status outbreak (wabah) pada empat kabupaten agar dapat mengajukan permintaan vaksin melalui Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE).
Baca juga: Kementan siapkan strategi pemberantasan penyakit mulut-kuku ternak
Baca juga: Kalsel waspada ancaman penyakit mulut dan kuku hewan ternak dari Jatim
Baca juga: ID FOOD antisipasi penyakit mulut dan kuku hewan ternak

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel