Masyarakat Perlu Paham Pentingnya 3 T di Masa Pandemi COVID-19

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 3 menit

VIVA – Selain menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 semakin meluas. Penting bagi masyarakat untuk bijak dan sadar terhadap 3 T yakni testing, tracing dan treatment.

Kasubid Tracking Satgas COVID-19 Dr Kusmedi Priharto, Sp.OT, M.Kes, menjelaskan 3T itu saling berkaitan untuk menentukan langkah apa yang harus dilakukan dalam mencegah penyebaran semakin meluas.

"Diawali trakking mencari orang-orang yang positif atau orang yang kontak dengan orang yang positif sehingga kita mendapatkan hasil positif atau negatif," kata dia dalam siaran streaming BNPB, Selasa 24 November 2020.

Dia melanjutkan, jika positif maka dia harus diisolasi mandiri atau melakukan isolasi di tempat yang sudah disiapkan pemerintah jika mereka tidak bergejala. Namun jika bergejala dan cukup berat maka akan dibawa ke rumah sakit.

"Kita mencoba menemukan orang ini dalam posisi dia masih sakit dan berharap ditemukan dalam kondisi tidak berat penyembahan lebih cepat dan efektif," tutur Kusmedi.

Namun di sisi lain, sejumlah masyarakat masih enggan untuk melakukan testing COVID-19, dengan berbagai alasan.

Tim Pakar Satgas COVID-19 Bidang Perubahan Perilaku sekaligus Kepala Demografi UI, Turro Wongkaren, Ph.D mengatakan berdasarkan temuan di lapangan alasan masyarakat enggan untuk melakukan testing lantaran alasan ekonomi..

"Di kalangan bawah karena takut ketahun positif mereka engak bisa kerja atau mereka harus nunggu dua minggu sampai isolasi mandiri selesai. Buat beberapa orang kita dua minggu sudah, tapi untuk masyarakat menengah ke bawah itu penting sekali untuk kehidupan mereka," ujar Turro Wongkaren.

Hal itu kata dia tidak mudah, namun masyarakat harus melakukannya dan perlu juga memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya testing.

"Kalau enggak mau testing kita tidak tahu sejauh mana COVID-19 menyebar atau malah memperburuk suasana," ujar dia.

Selain itu, alasan lainnya orang enggan untuk tes COVID-19 adalah karena kebingungan masyarakat akan beragamnya tes COVID-19.

"Sekarang suka membingungkan rapid dengan swab. Rapid ada bermacam. Itu yang buat masyarakat kemudian agak ragu, ditambah lagi kita tahu ini sepenuhnya salah siapa-siapa," Turro.

Tidak hanya itu saja, terkadang testing itu tidak 100 persen, lantaran selalu ada false negatif atau false positif, yang pada akhirnya membuat masyarakat mempertanyakan keakuratan tes tersebut.

"Kemudian ketika tes positif atau reaktif istilah buat masyarakat sungkan," tutur dia.

Selain itu alasan lain yang membuat masyarakat enggan untuk tes adalah kenyamanan.

"Buat orang kalangan menengah ke atas ke rumah sakit kemudian harus antre berjam-jam tempat tunggu kemudian takut kena COVID-19, gitu jadi begitu banyak yang buat enggak mau tes. Kita perlu meng-adress itu," kata Turro .

Terakhir yang juga menjadi alasan besar kenapa masyarakat enggan untuk tes adalah stigma di masyarakat.

"Itu benar salah satu kalau dia positif atau reaktif apa yang akan orang katakan. Kemudian dia takut kalau dia harus dikucilkan oleh keluarga besar atau yang lainnya," ujar Turro Wongkaren.

Seperti diketahui, jumlah kasus COVID-19 saat ini masih tinggi. Untuk itu, cara yang paling efektif dilakukan untuk mencegah penularan yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu melakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#cucitanganpakaisabun
#jagajarak