Mata uang Asia menguat, RI dan Malaysia tahan suku bunga acuan

·Bacaan 2 menit

Mata uang negara-negara berkembang Asia naik tipis pada Kamis, karena penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS memangkas kenaikan dolar, sementara bank sentral di Indonesia dan Malaysia mempertahankan suku bunga acuan mereka tidak berubah menjelang pertemuan penting Federal Reserve minggu depan.

Karena kekhawatiran inflasi menandai pergeseran global menuju kebijakan moneter yang lebih ketat, terutama di negara maju, bank-bank sentral di Asia tampaknya bergerak lebih lambat untuk memastikan ekonomi mereka stabil dan pemulihan tidak terhambat.

China memangkas suku bunga acuan hipotek untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, karena data ekonomi minggu ini menunjukkan pelemahan lebih lanjut dalam sektor konsumsi dan sektor properti yang bermasalah.

Seperti yang diperkirakan, bank sentral di Indonesia dan Malaysia membiarkan suku bunga utama mereka tidak berubah. Jajak pendapat Reuters yang dilakukan menjelang pertemuan menunjukkan para ekonom memperkirakan Bank Negara Malaysia dan Bank Indonesia menunggu hingga paruh kedua untuk mulai menaikkan suku bunga.

Rupiah dan ringgit masing-masing menguat 0,1 persen, dan tetap tidak berubah setelah keputusan bank sentral masing-masing. Saham di Jakarta naik 0,4 persen, sementara Kuala Lumpur datar.

Dengan beberapa surat utang dengan imbal hasil tertinggi di pasar negara berkembang, Bank Indonesia mungkin berada di bawah tekanan untuk memulai siklus pengetatannya untuk mencegah pelemahan mata uang dan potensi arus keluar modal yang besar jika Fed mulai memberi sinyal laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat.

Minggu ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak dan investor meningkatkan spekulasi mereka bahwa Fed harus bertindak lebih agresif memperketat kebijakan moneter untuk membendung inflasi yang tidak terkendali.

Saham di Seoul menghentikan penurunan selama lima hari, naik 0,7 persen. Penjatahan publik untuk penawaran umum perdana (IPO) LG Energy Solutions senilai 10,8 miliar dolar AS berakhir pada Rabu (19/1/2022), dengan investor menawar saham senilai 114 triliun won (95,82 miliar dolar AS), mengurangi volatilitas di pasar.

Di Singapura, saham terus melayang di sekitar level tertinggi 2019, dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC) pertama di negara kota itu melakukan debut pasarnya. Vertex Venture Holdings, anak perusahaan SPAC dan Temasek, dibuka lebih tinggi dari harga penawarannya.

Baca juga: BI: Rupiah jadi salah satu mata uang terbaik di Asia
Baca juga: Pasar uang pulih dari Omicron, analis ingatkan akan banyak volatilitas
Baca juga: Mata uang Asia melemah awal pekan, namun yuan menguat atas dolar

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel