Mata uang "safe-haven" tetap diminati karena kekhawatiran virus corona

D.Dj. Kliwantoro

Kekhawatiran tentang kejatuhan ekonomi akibat wabah virus Corona (Koronavirus) di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) masih terus mendukung mata uang safe-haven di akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB) dengan indeks dolar AS berada di tertinggi 2 bulan dan franc Swiss di tertinggi hampir 3 tahun terhadap euro.

Meskipun pasar global telah agak stabil setelah aksi jual pada hari Senin (27/1), penghindaran risiko di pasar mata uang bertahan dengan dolar Australia mengalami pelemahan terbesar dan greenback menguat ke tertinggi delapan minggu terhadap sekeranjang enam mata uang saingan.

Yen Jepang turun dari tingkat tertinggi Senin (27/1), terakhir melemah 0,26 persen menjadi diperdagangkan pada 109,17 yen per dolar AS.

Baca juga: Rupiah terkoreksi masih terkait sentimen Virus Corona

"Penentuan posisi risk-off (penghindaran risiko) telah mendingin meskipun sentimen investor jelas tetap waspada dihadapkan pada teka-teki "risiko tak terduga" epistemologis tentang seberapa buruk dan seberapa luas dan seberapa ekonomis wabah Koronavirus akan merusak," tulis analis di Action Economics.

Presiden Xi Jinping pada hari Selasa (28/1) mengatakan bahwa RRT yakin akan mengalahkan Koronavirus "setan" yang telah menewaskan 106 orang. Namun, terlepas dari kepercayaannya, ketakutan internasional telah meningkat: Dari pemerintah Prancis hingga Jepang mengorganisasir evakuasi, sementara Hong Kong berencana untuk menangguhkan hubungan kereta api dan feri dengan daratan.

Franc Swiss, investasi safe-haven tradisional bersama dengan yen dan dolar telah menguat menjadi 1,067 franc per euro, tertinggi sejak April 2017. Franc telah mengambil kembali beberapa kenaikan tersebut dalam perdagangan Amerika Utara, dengan terakhir melemah 0,28 persen pada 1,071 franc per euro.

Pasar saham global dan harga minyak telah anjlok dalam beberapa hari terakhir di tengah kekhawatiran bahwa virus ini akan makin merusak ekonomi RRT yang sudah melemah. Itu juga secara singkat membalikkan kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 3 bulan dan 10 tahun, yang dianggap sebagai prediktor resesi cukup andal.

Namun, pergerakan mata uang lemah dengan dolar AS menambah keuntungan sebelumnya menjelang dimulainya pertemuan 2 hari Federal Reserve AS pada hari Selasa (28/1). Pembuat kebijakan Fed sebagian besar diperkirakan akan mengulangi bahwa suku bunga akan tetap ditahan pada tahun ini.

Baca juga: Rupiah masih terdampak kekhawatiran pasar atas virus Corona di China

Baca juga: Rupiah Selasa pagi melemah 27 poin

Baca juga: Dolar di kisaran paruh atas 108 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Indeks dolar terakhir naik 0,19 persen pada 98,137, tertinggi sejak awal Desember dan membawa kenaikannya sepanjang bulan ini menjadi 1,8 persen. Versus euro, dolar menguat 0,15 persen ke level tertinggi delapan minggu di 1,100 dolar per euro.

Dolar Australia, yang sangat berkorelasi dengan ekonomi RRT, pada awal sesi mencapai level terendah baru 15 minggu dan terakhir diperdagangkan 0,15 persen lebih lemah pada hari ini di 0,675 dolar AS.

Stabilitas yuan di pasar luar negeri, setelah penurunan baru-baru ini memberikan sedikit ketenangan pasar mata uang. Mata uang RRT menguat 0,19 persen terhadap dolar AS, naik dari posisi terendah 3 minggu.