Matching Fund PPM dampingi masyarakat mandiri dengan ekonomi sirkular

Program hibah pendanaan Matching Fund Kedaireka 2022 Kemendikbudristek yang diperoleh Sekolah Tinggi Manajemen PPM (STM PPM) dampingi masyarakat dalam mewujudkan kemandirian melalui ekonomi sirkular.

“Kami mendapatkan hibah dari Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek bekerja sama dengan WWF Indonesia, yang mana fokus utama adalah pengelolaan sampah plastik, bank sampah dan juga Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R),” ujar Ketua Tim Program Matching Fund Kedaireka Dosen STM PPM Dr Aprihatiningrum Hidayati MM, dalam acara business pitching di Jakarta, Senin.

Selama tiga bulan, pihaknya mendampingi 19 lembaga binaan yang berada di Jakarta, Bogor dan Depok dalam menentukan model bisnis ekonomi sirkular.

“PPM memiliki kapasitas intelektual dalam membimbing masyarakat, agar dapat lebih mengoptimalkan potensi dari bank sampah dan TPS3R ini,” kata dia.

Baca juga: Kemendikbudristek sebut pengusul Matching Fund Vokasi naik 300 persen

Baca juga: Program Matching Fund Kedaireka 2022 usung lima tema prioritas

STM PPM dengan kepakaran dan pengalaman di bidang manajemen dan bisnis selama 55 tahun telah mendampingi banyak lembaga atau entitas bisnis di Indonesia dalam upaya peningkatan kinerja bisnis.

Melalui program Matching Fund, STM PPM menggandeng WWF Indonesia yang juga telah berpengalaman dalam penanganan masalah pengelolaan sampah plastik sebagai implementasi dari konsep ekonomi sirkuler dan pembangunan berkelanjutan.

“Kami berkomitmen dalam menyusun model bisnis pengelolaan sampah plastik bagi 20 lembaga binaan bank sampah dan TPS 3R di kota Jakarta dan Bogor dengan cara menerapkan konsep model bisnis sirkular,” terang dia.

Luaran dari kegiatan itu yakni dihasilkannya 10 produk inovatif dari bank sampah atau TPS3R yang telah mampu mentransformasi model bisnisnya yang semula masih linear menjadi sirkuler yaitu dengan menerapkan konsep ekonomi sirkular sehingga dapat dicapai kemandirian secara ekonomi.

“Kami berkomitmen mengedukasi para pengelola sampah di lingkungan masyarakat, bahwa kegiatan memilah dan mengolah sampah yang telah dilakukan selama ini tidak hanya kegiatan yang bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan dan bumi semata, tapi juga kegiatan yang dapat mendatangkan manfaat secara ekonomi yaitu membuka lapangan kerja bagi banyak orang melalui penciptaan produk-produk inovatif dari hasil daur ulang sampah plastik,” kata dia.

Program yang mendapatkan hibah pendanaan sebesar Rp501,5 juta tersebut melibatkan sebanyak 26 dosen yang diantara nya menjadi pelatih, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan 19 lembaga bank sampah dan TPS3R.*

Baca juga: ULM kirim 170 mahasiswa bangun kemandirian ekonomi pondok pesantren

Baca juga: 23 tim dosen UB mendapatkan hibah dana pendamping Rp11,7 miliar