Mau Beli Tanah, Perhatikan Tiga Hal Ini Supaya Aman

 RumahCom – Membeli tanah harus siap lebih repot karena ada banyak legalitas yang harus diperhatikan dan diurus. Ini supaya obyek yang kita beli merupakan properti yang aman. Simak tiga tips dari property lawyer sebagai panduan kita supaya tidak terjadi penyesalan.

Di negeri yang aturannya belum tegas dan kerap lebih mudah untuk melakukan transaksi negosiasi, sebagai masyarakat konsumen kita dituntut mencari informasi sebanyak-banyaknya dan memahami apa saja hak-hak yang kita miliki.

Dalam hal membeli kavling tanah misalnya, ada banyak hal yang harus diperhatikan khususnya terkait legalitas. Sertifikat tanah yang sudah diterbitkan secara resmi saja oleh Badan Pertanahan kerap terjadi ada yang dobel sertifikatnya. Bahkan surat resmi yang kita miliki saja bisa digugat hanya dengan berbekal Salinan hak tanah yang disodorkan pihak lain.

Hal ini berbeda dengan di negara maju seperti Australia. Di sana, setiap tanah yang sudah terdaftar langsung akan tercatat di lembar negara dan masyarakat bisa mengakses seluas-luasnya dengan proses yang mudah. Jadi kalau kita mau membeli tanah, kita tinggal mendatangi kantor tanah setempat, memasukan lokasi dan nomor legaliitas tanah, akan langsung keluar keterangan detil mengenai status tanah tersebut.

Karena itu jangan mudah tergiur saat ada yang mengimingi tanah dengan harga murah. Pastikan dulu legalitasnya kalau tidak mau bersengketa atau rugi di kemudian hari. Berikut beberapa panduan supaya tanah yang ingin kita beli lebih terjamin legalitasnya sebagaimana disampaikan Erwin Kallo, Property Lawyer Erwin Kallo & Co.

Agar aman dan tenang saat membeli rumah, pahami prosedur dan biaya balik nama sertifikat rumah di video berikut ini.

Menurutnya, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan saat ingin membeli tanah supaya terhindar dari konflik maupun sengketa hukum di kemudian hari. “Hal yang pertama harus dipastikan yaitu kepastian obyek-subyek tanah, apakah tanah itu lokasinya memang benar di situ dan itu harus dipastikan dan dicek langsung ke lapangan,” katanya.

Kedua, setelah dicek langsung di lapangan harus yakin benar kepastian subyek tanah tersebut. Apakah orang yang menjual sebelumnya telah melakukan pelepasan haknya dari orang yang berwenang. Kalau tanah itu tanah waris dan ada satu atau dua ahli waris yang tidak tanda tangan bisa dipastikan transaksi yang terjadi sebelum dan ke depannya cacat hukum.

“Faktor ketiga yaitu alas haknya apa. Apakah dokumennya berupa girik, sertifikat, atau bukti kepemilikan lainnya. Kalau sudah sertifikat akan jauh lebih aman karena sudah melalui proses obyek dan subyek walaupun harus tetap dipastikan posisi tanahnya tepat di lokasi itu. Kalau belum bersertifikat harus lebih hati-hati dan cek langsung mulai kepala desa, kelurahan, kecamatan, hingga kantor pertanahan setempat kemudian langsung kita proses sertifikatnya, baru bisa aman,” bebernya.

 

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah