Max Allegri Buka Suara soal Keburukan Sepakbola Italia

Zaky Al-Yamani
·Bacaan 2 menit

VIVA – Max Allegri akhirnya buka suara tentang banyak hal. Dia menegaskan masa depannya belum diputuskan. Selain itu, dia juga mengkritik sepakbola Italia yang menjadikan pemain sebagai alat ukur untuk menunjukkan seorang pelatih bagus.

Mantan pelatih Juventus tersebut menjadi tamu di SkySport Italia, pekan ini. Dan ini merupakan salah satu wawancara pertamanya sejak dia dipecat dari Juventus hampir dua tahun lalu. Sejak saat itu, dia belum memilih klub dilatihnya.

Ketika dia diberhentikan Juventus, dia memenangkan lima gelar Serie A berturut-turut dan mencapai Final Liga Champions dua kali. Tapi pada akhirnya, posisi dia diganti oleh mantan manajer Chelsea, Maurizio Sarri pada 2019.

"Saya tidak berbicara selama dua tahun, saya harap tidak berbicara terlalu banyak omong kosong," kata Allegri dalam wawancara dengan SkySport Italia, seperti dilansir Football Italia, Selasa 23 Maret 2021.

Meski menganggur, Allegri telah dikaitkan dengan banyak klub top, termasuk Napoli, Roma, Manchester United, Tottenham, dan PSG. Namun dia tampaknya lebih asyik menikmati masa luangnya saat ini.

“Sejujurnya. Saya tidak bisa menonton banyak pertandingan saat saya melatih, tetapi setelah setahun tidak melatih, saya sudah mulai kembali menonton banyak pertandingan," ungkap mantan pelatih AC Milan tersebut.

Perdebatan tentang tersingkirnya semua klub Italia lebih awal dari Liga Champions, terutama Juventus oleh FC Porto, membawa kembali diskusi lama tentang pendekatan defensif Allegri dibandingkan dengan permainan sepakbola indah.

“Saya pikir, setelah mendengar semua komentar tentang eliminasi tim Italia di Eropa, kami perlu melakukan refleksi. Orang-orang dulu melihat saya sebagai semacam antagonis bagi mereka yang menyukai sepakbola indah."

"Tetapi sebenarnya perlu ada keseimbangan dalam segala hal. Tak semuanya harus dibuang ke tempat sampah. Saya mendengar semua kritik soal bermain bertahan. Tapi kami perlu belajar dari itu juga bagaimana kami lakukan saat bertahan."

Allegri juga menambahkan, dirinya sangat kecewa dengan perkembangan sepakbola Italia saat ini. Di mana pemain kini memiliki posisi sentral dalam permainan. Alhasil, kinerja pelatih kini seperti ditentukan oleh pemain.

“Apa yang saya pikirkan adalah kita perlu menempatkan pemain kembali di posisinya. Tetapi di Italia, sepertinya para pemain telah menjadi alat untuk membuktikan bahwa pelatih itu bagus," kata Allegri.

"Atau bahkan pemain menjadi instrumen yang kami bentuk untuk menciptakan nilai seorang pelatih. Seharusnya tidak seperti itu," lanjut Allegri.

Allegri juga turut mengomentari tersingkirnya mantan klubnya, Juventus oleh FC Porto di babak 16 besar Liga Champions. Menurutnya, Juventus kurang beruntung dan tidak bisa hanya mengandalkan kehebatan satu pemain saja.

“Juventus tidak beruntung melawan Porto dalam dua laga, mereka mungkin pantas lolos, tapi ini diskusi untuk keseluruhan tim. Senang melihat pemain yang berbakat secara teknik dan kita juga harus mendorongnya di akademi muda."

“Arrigo Sacchi dan saya tidak setuju dalam banyak hal. Tapi kami setuju ini olahraga tim, dan dalam olahraga tim, Anda membutuhkan 10 pemain yang pandai mengoper bola ke satu sama lain dengan cepat. Jika tidak, Anda akan mendapat masalah.”