Max Sopacua Tak Bisa Jawab Peserta KLB, Andi Mallarangeng Tertawa Geli

Hardani Triyoga
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kisruh Partai Demokrat berlanjut usai perhelatan Kongres Luar Biasa (KLB) di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara. Dua pihak yang berkonflik melempar pernyatan saling klaim yang membuat tensi memanas.

Polemik dualisme Demokrat ini jadi pembahasan dalam Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne. Dalam diskusi ini, hadir mantan Wakil Ketua Umum Demokrat Max Sopacua yang pro terhadap KLB di Sibolangit. Pun, yang kontra ada Anggota Anggota Majelis Tinggi Demokrat, Andi Mallarangeng.

Debat panas diawali paparan Max Sopacua yang merespons pernyataan Andi Mallarangeng terkait KLB di Simolangit yang dianggap abal-abal dan tak sesuai dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat.

"Itu versinya Pak Andi Mallarangeng ya. Itu karena sebuah kegalauan saja yang terjadi di Andi dan teman-teman," ujar Max dikutip VIVA pada Senin, 8 Maret 2021.

Max membanggakan bahwa KLB yang sudah terselenggara dalam waktu singkat. Hal ini bertolak belakang dengan prediksi kubu yang kontra bahwa KLB tak mungkin terealisasi.

Dia tak mau ambil pusing KLB dituduh abal-abal sampai tak sesuai AD/ART. Ia menekankan AD/ART yang dipakai dalam KLB di Sibolangit merujuk AD/ART pertama pada 2005. Bukan AD/ART yang ditetapkan Kongres V Demokrat di Jakarta pada Maret 2020.

Menurut dia, AD/ART 2005 dipakai karena paling tepat untuk internal Demokrat. Pun, ia mengatakan lagi tak ambil pusing dengan anggapan abal-abal hingga tudingan kudeta yang sudah dianggapnya bosan.

"Apapun yang terjadi kami susah selesai menggelar kongres dan terpilih ketua umum yang baru. Tinggal menerima atau tidak, ya kalau tidak menerima kita ke pengadilan atau PTUN," tutur Max.

Andi Mallarangeng giliran menyampaikan pandangannya. Namun, dalam sesi ini, ia hanya mengajukan pertanyaan kepada Max. Ia bertanya soal jumlah Ketua DPD yang hadir dalam KLB karena sebagai salah satu syarat keabsahan.

"Boleh nggak tanya, boleh nggak tanya? Sebutkan satu nama saja ketua DPD yang hadir. Satu saja ketua DPD yang hadir?" tanya Andi.

"Saya bukan urusan untuk pendaftaran," jawab Max.

Dengan tertawa keras, Andi pun menyindir Max yang tak bisa menjawab pertanyaannya. "Hahaha, nggak bisa nyebut, hahaha," ujar Andi.

Baca Juga: Andi Arief Sebut Panitia KLB Demokrat Berani Usir Kolonel Inf Azhar

Menanggapi Andi, Max bilang mempersilakan agar Andi untuk melakukan pengecekan. "Andi Mallarangeng boleh datang, ngecek, dan lain-lain," tutur Max.

"Ya sebutkan satu nama dari 34 DPD," tanya Andi lagi dengan seraya tertawa.

"Anda nggak usah banyak ngomong. Kami sudah selesai kongres. Anda tidak terima, ya kita di lembaga hukum, kita berhadapan," ujar Max dengan nada agak keras.

"Itu abal-abal," kata Andi dengan tertawa lagi.

"Anda mau bilang abal-abal, mau bilang kudeta pengkhianat, kudeta siapa, pengkhianat siapa. Silakan," ujar Max.

"Kami tetap dalam posisi kami sudah menyelenggarakan KLB dengan sukses dengan menghasilkan ketua umum yang baru. Dan, tidak bisa digugat oleh Anda. Kecuali pengadilan yang menggugat," lanjut Max.

Lagi-lagi Andi meminta agar Max menjawab pertanyaannya soal peserta di KLB."Nah, kan nggak bisa menyebutkan. Saya cuma minta satu dari 34 DPD seluruh Indonesia. Tolong sebut, satu nama saja satu Ketua DPD yang hadir di KLB yang abal-abal itu," jawab Andi.

Dengan agak kesal, Max meresponnya. "Kenapa saya harus mengikuti Anda?" tanya Max.

"Itu kan pemilik suara," jawab Andi.

"Sorry, sorry. Saya tidak perlu mengikuti yang Anda mau, Kirimkan orang-orang Anda ke panitia untuk mengecek siapa yang hadir," kata Max.

"Biar publik melihat orang-orang yang hadir di situ pemilik suara," jelas Andi lagi.