Medco Energi Optimistis Bisnis Migas Rebound pada 2021

Fikri Halim
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tahun 2020 terbukti jadi masa sulit di industri migas. Banyak perusahaan migas nasional bahkan dunia yang kinerjanya tertekan akibat pandemi COVID-19.

Tak terkecuali dirasakan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Hal itu diakui Presiden Direktur Medco Energi, Hilmi Panigoro. Menurutnya, selama 2020, perusahaan memang lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan karyawan.

Seluruh lini bisnis mulai dari migas, tambang, hingga ketenagalistrikan ditekankan untuk lebih mengutamakan keselamatan karyawan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Meski begitu, Hilmi mengatakan pihaknya optimis dengan ditemukannya vaksin COVID-19, ekonomi, termasuk bisnis migas akan rebound atau melambung pada 2021. Pada ujungnya harga komoditas baik tambang dan migas akan membaik serta kinerja perusahaan pun akan pulih.

"Kita optimis dengan ditemukan vaksin, maka ekonomi akan rebound pada 2021. Komoditas naik lagi dan ekonomi akan kembali lagi bergerak dan meningkatkan kerja perusahaan," kata Hilmi dalam diskusi virtual belum lama ini.

Medco yang kini telah berusia 40 tahun, lanjut dia, juga tetap siap menghadapi kemungkinan terburuk. Saat pandemi ini, investasi dilakukan dengan sangat disiplin dan portofolio yang ketat.

"Lifting cost (biaya lifting migas) kita tidak di atas 10 dolar (AS) per barrel oil equivalen per day (boepd)," kata dia.

Tahun 2020, produksi migas Medco memang dipangkas dari awalnya 115.000 boepd menjadi di kisaran 100.000-105.000 boepd. Ini dilakukan di tengah kondisi turunnya harga minyak dunia secara drastis.

Meski begitu, lanjut Hilmi, Medco memiliki tumpuan bisnis energi lainnya selain migas yaitu pertambangan dan ketenagalistrikan. Anak usaha yang bergerak di bidang tambang, PT Amman Mineral Nusa Tenggara memulai pengembangan tambang fase 7 di Sumbawa dan PT Medco Power terus mengembangkan energi bersih seperti Geothermal alias panas bumi.

Selain itu, Medco E&P tetap melakukan eksplorasi hingga pengeburan sumur, beberapa di antaranya adalah blok migas di Natuna.

Bahkan, Hilmi melanjutkan, pihaknya tetap optimistis membuka peluang bermitra atau join study untuk pengerjaan eksplorasi migas bersama perusahaan migas nasional lain, seperti Pertamina.

"Kalau ada hal hal yang bisa dilakukan bersama pertamina dan mengurangi risiko untuk eksplorasi, kita akan senang hati untuk menyambut itu," katanya.

Tetap Gencar Ekspansi

Medco mengaku akan tetap gencar melakukan ekspansi ke depannya. Sebab, Hilmi menjelaskan bahwa akuisisi, menambah cadangan migas adalah hal yang harus dalam industri migas.

Dalam bisnis migas, ada dua cara menambah cadangan, pertama adalah melalui eksplorasi dan kedua adalah akuisisi.

"Kalau harga minyak rendah, ada barang bagus, kita akuisisi. Dua-duanya kita laksanakan (eksplorasi dan akuisisi)," kata dia.

Untuk tahun 2020, dia mengungkapkan telah mengurangi belanja modal hampir separuh dari awalnya yang 340 juta dolar AS. Ke depan, rencana eksplorasi akan disesuaikan dengan harga minyak dunia.

"Kalau sampai (harga minyak) 60 dolar per barel itu eksplorasi (Medco) akan lebih galak lagi," kata Hilmi.

Dihubungi terpisah, Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menilai investasi migas khususnya sektor hulu memang diprediksi akan kembali bergerak tahun 2021 dengan asumsi bahwa pandemi COVID-19 berakhir.

"Investasi di sektor hulu akan kembali bergerak dan tetap optimis investasi di hulu migas semakin meningkat," kata Fahmy kepada VIVA.

Alasannya, lanjut dia, Return on investment (ROI) Migas memang bersifat lebih jangka panjang, sedangkan fluktuasi harga minyak dunia yang rendah hanya jangka pendek.

"Sehingga investor akan tetap melakukan investasi, meski 2021 harga minyak dunia masih tertekan. Tapi (tetap) ada ekspektasi investor terhadap kenaikan harga minyak dunia," ucap dia. (ren)