Media film digunakan komunitas guru tingkatkan literasi guru

Sejumlah komunitas guru yang terdiri atas Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) dan BesiBerani menggunakan media film untuk meningkatkan literasi guru di Tanah Air melalui Program Alteraksi Pesantren.

“Alteraksi merupakan sebuah program yang menggunakan film dan metode fasilitasi sebagai alat bantu untuk membicarakan sekaligus mengalami beragam opini, pandangan, perasaan, dan pemikiran mengenai persoalan keragaman, keadilan, dan inklusi sosial dalam hidup sehari-hari,” kata pendiri KGSB, Ruth Andriani, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Dalam kegiatan literasi bagi guru yang diikuti guru jenjang PAUD hingga SMA itu, menggunakan film “Pesantren”.

Film tersebut merupakan film dokumenter panjang karya Shalahuddin Siregar yang dibuat dengan pendekatan observasional. Film itu mengajak penonton menyelami kehidupan para penghuni Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, salah satu pondok pesantren terbesar di Kabupaten Cirebon.

Institusi pendidikan tradisional yang memiliki 2.000-an santri ini dipimpin oleh seorang ulama perempuan. Santri di Pondok Kebun Jambu dididik untuk menghargai dan mengasihi semua ciptaan Allah tanpa terkecuali. Film Pesantren telah diputar perdana di Ajang International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) pada akhir 2019.

“Film ini dipilih karena salah satu pesan toleransi yang diusungnya. Hal ini sejalan dengan tiga dosa besar dalam dunia pendidikan yakni intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan yang menjadi fokus isu dari kegiatan KGSB. Melalui Alteraksi Pesantren ini, kami berharap para guru mendapatkan pengalaman baru dalam menggunakan film sebagai media pembelajaran serta pandangan mengenai keberagaman dan toleransi,” katanya.

Para penggagas Alteraksi, Suryani Liauw, mengatakan penggabungan film Pesantren dan metode fasilitasi dalam kerangka program Alteraksi Pesantren adalah sebuah pasangan yang tepat dan efektif dalam memperkuat efek riak (ripple efect) dari dampak yang disasar.

Dalam setiap kegiatan Alteraksi, eksplorasi paling besar dan cerita yang paling berharga sesungguhnya datang dari para peserta (penonton film). Dalam konteks kemasyarakatan, kesadaran (consciouness) dan makna bersama (shared meaning) merupakan faktor kunci yang menjadi perekat dan pengeras setiap hubungan sosial, baik yang menghargai keberagaman maupun sebaliknya.

Sementara pendiri Rumah Guru BK, Ana Susanti, mengatakan kegiatan itu merupakan perwujudan nyata dari The Art Full Of Pedagogy.

“Metode ini sangat mungkin bila diterapkan oleh para guru kepada para siswa dalam pengajaran sehari-hari. Metode Alteraksi bisa mengajak siswa untuk mengeluarkan pendapat dan rasanya. Dari film para siswa bisa mendapat hikmah apa yang bisa dipelajari selanjutnya. Selain itu, aktivitas dalam metode ini juga banyak dan menarik, sehingga siswa tidak mudah bosan,” katanya.

Baca juga: Bappenas: Guru harus aktif tingkatkan budaya literasi di kelas maya

Baca juga: Guru : Pojok literasi mampu tingkatkan minat baca

Baca juga: UT tingkatkan literasi digital para guru di Tangerang Selatan

Baca juga: Kemendikbudristek: Literasi digital guru meningkat saat pandemi