Media Korsel Sebut KRI Nanggala-402 Sudah 9 Tahun Tak Dirawat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kapal selam KRI Nanggala-402 telah ditemukan dan seluruh awak telah dinyatakan gugur. Indonesia pun berduka atas kejadian ini.

Berbagai dugaan penyebab telah dilontarkan atas insiden ini, mulai dari serangan kapal asing hingga hingga perubahan sistem senjata torpedo.

Terkait hal tersebut, salah satu media asing asal Korea Selatan yakni Hankook Ilbo membeberkan sejumlah fakta terkait penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402.

Dalam salah satu artikelnya, media asing tersebut meragukan bahwa kapal selam Angkatan Laut Indonesia buatan Jerman yang telah berusia tua, dirawat dengan baik dan dimobilisasi untuk pelatihan peluncuran torpedo.

"Bahkan kapal selam tersebut diketahui tidak pernah menjalani pelatihan kapal selam selama tiga tahun," tambah artikel tersebut.

Di dalamnya juga tertulis bahwa peluang kelangsungan hidup para penghuninya, yakni yang dimaksud adalah awak kapal, sangat rendah.

Kurangnya Pemeliharaan Kapal

Foto tak bertanggal yang dirilis 21 April 2021 menunjukkan kapal selam KRI Nanggala 402 berangkat dari pangkalan angkatan laut di Surabaya. Ada sebanyak 53 kru yang ikut dalam pelatihan di Kapal selam KRI Nanggala-402 dari jajaran Armada II Surabaya tersebut. (Handout/Indonesia Military/AFP)
Foto tak bertanggal yang dirilis 21 April 2021 menunjukkan kapal selam KRI Nanggala 402 berangkat dari pangkalan angkatan laut di Surabaya. Ada sebanyak 53 kru yang ikut dalam pelatihan di Kapal selam KRI Nanggala-402 dari jajaran Armada II Surabaya tersebut. (Handout/Indonesia Military/AFP)

Artikel tersebut melanjutkan bahwa pelatihan yang dilakukan pada hari tenggelamnya kapal tersebut, merupakan pelatihan simulasi untuk memeriksa fungsi sebelum peluncuran torpedo keesokan harinya.

53 orang yang berada dalam kapal tersebut, disebutkan juga melebihi dari kapasitas sebenarnya yang hanya mampu menampung 34 orang.

Seorang ahli kapal selam mengatakan, "Ada kemungkinan sejumlah besar air laut masuk saat membuka dan menutup pipa torpedo dalam proses pelatihan yang dilakukan sebelum peluncuran, atau karena kapal selam itu sangat tua, pipa sistem air laut bisa tidak tahan tekanan air."

KRI Nanggala-402 merupakan sebuah kapal selam diesel dengan bobot 1.400 ton buatan Jerman pada tahun 1980, tepatnya 41 tahun yang lalu. Biasanya, kapal selam hanya bertahan selama kurang lebih 25 tahun.

"Pemeliharaan kapal selam harus dilakukan setiap 6 tahun sekali hingga masa layannya, dan setelah itu lazim dilakukan pemendekan jangka waktu, yang artinya pemeliharaan kapal selam tersebut sudah tidak dilakukan selama 9 tahun," tulis artikel di media Hankook Ilbo.

Ditambahkan lagi, seorang sumber militer setempat yang mengatakan bahwa kapal itu sudah tidak pernah beroperasi atau menyelam sejak tahun 2018.

Media Hankook Ilbo juga menulis bahwa beberapa pihak percaya bahwa niat politik didukung oleh pelatihan non-reguler ini.

Pasalnya, belum jelas mengapa pelatihan meluncurkan torpedo dengan kapal selam Jerman lama belum masuk, dengan torpedo memasuki kapal selam dari Korea Selatan yang baru.

Penyebab Tenggelamnya KRI versi TNI AL

Panglima TNI Hadi Tjahjanto (tengah) menyampaikan keterangan dan menunjukkan puing-puing yang ditemukan dalam operasi pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 di Pangkalan Udara Militer Ngurah Rai, Bali, Sabtu (24/4/2021). KRI Nanggala 402 dinyatakan tenggelam atau subsunk. (AP Photo/Firdia Lisnawati)
Panglima TNI Hadi Tjahjanto (tengah) menyampaikan keterangan dan menunjukkan puing-puing yang ditemukan dalam operasi pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 di Pangkalan Udara Militer Ngurah Rai, Bali, Sabtu (24/4/2021). KRI Nanggala 402 dinyatakan tenggelam atau subsunk. (AP Photo/Firdia Lisnawati)

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin menduga bahwa proses perbaikan yang dilakukan oleh tim dari Korea Selatan pada tahun 1978 tidak tepat.

"Saya menduga pada hasil perbaikan ini ada hal-hal atau konstruksi yang tidak tepat sehingga KRI Nanggala 402 tenggelam. Ini sangat disayangkan," tuturnya.

Ia juga menyampaikan kekhawatirannya perihal kelebihan kapasitas saat kapal hendak berlayar.

Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono menegaskan, kondisi Kapal Selam KRI Nanggala-402 sangat prima.

"Kapal ini riwayatnya sudah menembak torpedo kepala latihan ini 15 kali dan menembak torpedo kepala perang itu 2 kali dan sasarannya kapal eks KRI dan dua-duanya tenggelam," kata Yudo saat jumpa pers di Bali yang disiarkan daring, Kamis (22/4/2021).

Atas catatan tersebut, lanjut Yudo, dipastikan KRI Nanggala-402 ada dalam kondisi prima saat melakukan latihan pada Rabu 21 April 2021.

"Jadi KRI Nanggala ini dalam kondisi siap tempur, sehingga kita kirim, libatkan untuk latihan penembakan torpedo kepala latihan maupun kepala perang," kata dia.

Selain itu, Yudo menambahkan, KRI Nanggala-402 juga terus dilakukan peremajaan berkala sesuai jadwal perawatan.

"Kita akan sesuaikan life of time dari kapal tersebut, kalau kondisi bagus dan bisa kita rawat tentu akan kita rawat dengan baik, karena di TNI AL itu perawatan kapal ada fase-fasenya," jelas Yudo.

Infografis Skenario Pengangkatan Kapal Selam KRI Nanggala-402:

Infografis Skenario Pengangkatan Kapal Selam KRI Nanggala 402. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Skenario Pengangkatan Kapal Selam KRI Nanggala 402. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: