Media Masuknya Islam ke Indonesia

Syahdan Nurdin, Ahmadsofwan
·Bacaan 7 menit

VIVA – Dalam sejarah masuknya islam ke Indonesia, banyak pertanyaan yang saya terima terkait bagaimana masuknya Islam ke Indonesia dan bagai mana bisa Islam menjadi agama mayoritas?

Padahal secara geografi daerah awal titik keberadaan islam di Arab Saudi yang amat jauh dari wilayah Indonesia, beda Pulau dan wilayah, amat jauh butuh waktu lama orang Indonesia untuk sampai pada wilayah Arab Saudi.

Tak hanya itu, secara letak agama yang dekat dengan Indonesia adalah agama Hindu dan Budha. Namun kenapa bisa Islam berkembang dan menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Selain dari jarak tempuh yang jauh, wilayah Nusantara Indonesia sudah dimasuki agama lain seperti Hindu dan Budha, lalu kenapa agama Hindu dan Budha bisa sedikit penganutnya sementara Islam menjadi agama yang mayoritas di sini.

Sebenarnya untuk mencapai kata mayoritas di Indonesia itu amatlah sulit dan menelan waktu yang amat lama, serta tingkat kesabaran yang amat tinggi dari para muballigh Islam.

Bahkan banyak memisahkan antar satu orang dengan keluarganya atau keluarga muballigh islam dengan muballigh itu sendiri, saya akan coba jelaskan terkait cara dan media penyebaran Islam di Nusantara.

Media Perdagangan, adalah media awal yang digunakan oleh para muballigh Islam dalam proses masuknya Islam ke Nusantara.

Media ini berlanjut hingga kini, amat banyak pedagang yang memanfaatkan usaha dagang sebagai alat untuk memperkenalkan keislamannya meskipun Islam sudah menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Pada awalnya agama Islam adalah agama yang dibawa oleh para pedagang masuk ke Indonesia, pada zaman dahulu iklim dan cuaca lautan cenderung selalu dalam keadaan buruk dan sulit ditebak, sehingga para pedagang terpaksa menetap sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah tujuannya, baik sebelum menuju lokasi dagang, ataukah pulang menuju asal.

Hal ini membuat para pedagang muslim harus membangun komunikasi pada pihak kerajaan yang terdiri dari kerajaan Hindu maupun Budha, setelah mendapat izin dari pemerintahan Hindu maupun Budha, mereka membangun Bandar sebagai tempat persinggahan pada saat akan pulang maupun menuju tujuan, hal ini berjalan terus menerus dan bergantian.

Kedatangan dan menginapnya para pedang muslim tadi diterima dengan baik oleh masyarakat Nusantara sebab dari dahulunya memang mereka selalu terbuka akan pemikiran atau paham baru, komunikasi terjalin bukan hanya sebagai pedagang dengan pembeli namun juga sebagai pendengar dengan penyampai sebuah ajaran atau pemahaman.

Dalam hal penyampaian ajaran Islam para pedagang muslim tidak melakukan pemaksaan, penekanan dalam hal mengajak atau mengislamkan masyarakat pribumi Nusantara/Indonesia, mereka menyampaikan keilmuan mereka dengan lemah lembut, sopan santun yang baik, mereka memberi suri tauladan yang baik kepada masyarakat Nusantara/Indonesia.

Atas penyampaian yang lemah lembut, sopan santun dan suri tauladan tersebut dalam waktu yang singkat amat banyak kalangan masyarakat pesisir Nusantara/Indonesia yang mengikuti agama Islam, meskipun daerah – daerah tersebut adalah daerah kekuasaan kerajaan Hindu maupun Budha.

Namun karena seringnya para pedagang muslim tersebut singgah di wilayah Nusantara/Indonesia lama kelamaan masyarakat daerah tersebut menjadi masyarakat yang beragama Islam.

Media Perkawinan, pada saat para pedagang muslim singgah menjajakan dagangannya serta menetap untuk menunggu cuaca baik untuk melanjutkan perjalanan, sebab komunikasi yang baik kepada masyarakat Nusantara/Indonesia maka terjadilah perkawinan antar pedagang muslim dengan anak – anak pribumi Nusantara/Indonesia.

Para pedagang muslim tersebut hampir rata – rata dari kalangan pedagang dan sufi lalu di kalangan wanita pribumi adalah rakyat jelata dan gadis kaum bangsawan Nusantara/Indonesia.

Oleh kaum pribumi para pedagang muslim dianggap adalah orang yang terpandang dan memiliki kehormatan yang tinggi di Negara, sehingga masyarakat dan para bangsawan Nusantara/Indonesia mengizinkan anaknya dipersunting oleh parapedagang mancanegara tersebut.

Sedang di kalangan para pedagang muslim menganggap Islam tidak membedakan manusia satu dengan yang lainnnya. Membedakannya hanyalah ketakwaan dan keimanannya, dari sinilah perkawinan antar pedagang muslim dengan gadis pribumi bisa dilanjutkan bila gadis tersebut masuk ke agama islam terlebih dahulu.

Demikianlah proses islamisasi menggunakan media perkawinan dari sinilah titik tolak kemajuan dan perkembangan islam di Nusantara/Indonesia.

Media Seni dan budaya, sebelum Islam masuk ke Nusantara/Indonesia, masyarakat Nusantara/Indonesia, sudah memiliki adat istiadat dan budaya sendiri, ketika Islam masuk ke Nusantara/Indonesia hal itu tidak dihapus, melainkan di beri muatan – muatan agama dan dakwah dalam kegiatannya.

Misalnya seperti upacara pernikahan, bersih desa, panen raya, dan lain-lain. Hal itu tidak dihapus, hanya saja diberi muatan – muatan agama dan dakwah Islam di dalamnya, sehingga masyarakat senang dan tidak marah kepada para muballigh Islam yang terdiri dari kalangan sufi dan pedagang tersebut.

Dalam hal pembangunan juga seperti itu dalam hal pembangunan masjid misalnya kebanyakan masjid yang dibangun tidak menghilangkan budaya agama sebelum Islam, sehingga masyarakat tidak canggung dan bingung dalam menjalankan ibadah, dalam hal bangunan bisa di lihat seperti bangunan gapura dan kubah masjid Demak dan bangunan kubah dan menara masjid Kudus.

Dalam hal tontonan masyarakat para muballigh terdahulu juga memanfaatkannya seperti kesenian wayang yang dijalankan oleh Sunan Kalijaga.

Dalam hal kisah dan ceritannya diambil dari kisah Mahabrata dan Ramayana, mesikipun diambil dari kitab Hindu tetapi oleh Sunan Kalijaga disisipkan muatan Islam dan nilai – nilai Islam, setelah itu para dalang tidak meminta upah namun mengajak agar penonton mengucapkan dua kalimah sahadat.

Itulah penyebabnya kebanyakan dari penonton pewayangan, sebelum dia menonton wayang dia beragama hindu ataupun Buddha namun setelah keluar dia mengerti tentang Islam dan ajaran islam serta sarat masuk islam, amalan islam serta tugas dan tanggung jawab umat islam dan akhirnya masuk islam.

Media Pendidikan, Media ini digunakan pada saat Islam sudah memiliki pengikut, para guru terdiri dari kiai dan ulama yang menyampaikan ajaran keislaman baik di pesantren, surau, langgar bahkan masjid.

Mereka mencetak atau mendidik kalangan orang yang sudah beragama Islam untuk menjadi pendakwah Islam, setiap orang yang sedang belajar tentang Islam di sebut santri yang bertugas menyampaikan ilmu yang didapatnya pada keluarga dan masyarakat sekitar, setelah tamat dalam menjalani pendidikan orang tersebut boleh mendirikan pondok pesantren atau menjalankan keinginan dan cita – citanya.

Awal mula yang menggunakan media pendidikan dan mendirikan pondok pesantren adalah syaikh Maulana Malik Ibrahim, pondok pesantren adalah pendidikan yang terbuka untuk siapapun tampa ada rasa tau kasta yang memisahkan, sehingga banyak kalangan masyarakat Nusantara/Indonesia yang ingin menjadi santrii.

Setelah selesai mereka bebas ingin ke manapun, ada yang pulang ke kampung halaman ada pula yang pergi ke daerah lain dalam hal menyampaikan ajaran Islam, para guru di dalamnya juga terdiri dari banyak kalangan, baik itu nelayan, petani ataukah buruh maupun pejabat.

Santri Syaikh Malik Ibrahim yang melanjutkan media pendidika ini anatara lain, Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri) dll, dari generasi ke generasi tersebutlah melahirkan tokoh – tokoh agama yang berdakwah melalui pondok pesantren.

Melalui media pendidikan tersebut, islam berkembang dan menyentuh semua kalangan di bumi Nusantara/Indonesia, dari pusat kerajaan hingga rakyat jelata, begitu juga dengan santri – santri pondok pesantren dari dahulu hingga kini amat banyak yang mendirikan pondok pesantren, dan banyak jabatan maupun posisi yang di pegang oleh tokoh – tokoh yang lahir dari kalangan pondok pesantren.

Media Politik,media ini digunakan setelah islam mulai berkembang dan penganutnya memiliki posisi yang strategis di kalangan masyarakat, sehingga para masyarakat banyak yang mengikutinya menjadi islam bahkan setiap penguasa atau yang memiliki jabatan dari kalangan islam memiliki kewajiban untuk menyampaikan ajaran islam.

Selain itu kebiasaan dari masyarakat adalah mengikuti agama penguasanya, hal itulah yang menyebabkan para muballigh gencar mendakwahkan islam pada seluruh kalangan penguasa dan pejabat sehingga banyak dari kalangan pejabat yang masuk keislam dibarengi dengan masyarakat di wilayah kekuasaannya.

Bahkan media ini berhasil mengislamkan banyak raja, salah satunya Raja Merah Sile yang memimpin kerajaan Samudera Pasai, setelah memeluk Islam Raja Merah Sile meletakkan para tokoh yang mengerti dan paham Islam pada posisi yang terhormat, sehingga banyak masyarakat Samudera Pasai yang memeluk agama islam.

Dalam media politik ini amat penting untuk kelangsungan dakwah islam, itulah sebabnya salah seorang tokoh pondok pesantren harus terjun masuk ke dunia tersebut dengan misi dakwah dan menjaga persatuan dan kesatuan seperti Wakil President KH Ma’ruf Amin turun gunung dan berjuang untuk menduduki kursi tersebut, agar konsep islam Rahmatan Lil alamin di Indonesia terjaga ditengah tingginya kalangan yang mengaku islam namun tidak mengerti tentang apa itu Islam.

Demikianlah media – media yang digunakan pada saat mendakwahkan dan memasukkan Islam ke Indonesia.

Media – media inilah yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Setelah agama Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia, maka tugas kita selain mengajarkan keislaman pada orang Islam dan yang bukan Islam adalah menjaga persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Selain itu kita juga harus menjalankan konsep Rahmatan Lil Alamin, maksudnya “Rahmat bagi sekalian Alam” artinya bahwa Islam harus menjadi pelindung bagi orang lain.

Hal ini diwariskan para ulama – ulama kita terdahulu, bahkan Rasulullah sendiri menjaga dan melindungi mereka yang bukan islam asalkan mereka tidak mengganggu, mengancam dan melecehkan kita, sebab Islam itu agama yang ramah, baik, sopan dan santun.

“Islam Indonesia adalah Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Islam Indonesia Islam Yang rahmatan lil alamin, bukan Islam Mudoratan lil alamin”