Media Vietnam Ungkap Penyebab VAR Tidak Dipakai di Piala AFF 2020: Ternyata Faktor U, Alias Uang

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Hanoi - Sejumlah kontroversi terjadi di babak semifinal Piala AFF 2020. Beberapa kali wasit keliru dalam mengambil keputusan. Dua negara merasa dirugikan, Timnas Indonesia dan Vietnam. Keduanya mengklaim seharusnya mendapatkan tendangan penalti.

Pelatih kedua negara, Shin Tae-yong dan Park Hang-seo juga kompak dalam memberikan usulan. Keduanya menyarankan penggunaan video assistant referee (VAR) untuk Piala AFF yang akan datang.

Penerapan VAR cukup darurat di Piala AFF. Selain dapat membantu wasit, pemakaian teknologi ini nantinya juga bisa menjadi pelopor VAR di kompetisi regional Asia Tenggara (ASEAN).

Media Vietnam, Zing News mengungkapkan penyebab VAR tidak digunakan di Piala AFF 2020. Kendala terbesarnya adalah faktor U alias uang yang artinya keterbatasan bujet.

"Masalah VAR telah diinformasikan oleh panitia Piala AFF kepada federasi anggota sebelum turnamen dimulai. VAR telah populer di beberapa negara dan turnamen lain namun belum dioperasikan di Piala AFF 2020," tulis Zing News dalam pemberitaannya, Jumat (24/12/2021).

"Menurut penelitian Zing, masalah terbesar penggunaan VAR adalah biaya. Meski AFF tidak memberikan angka spesifik, namun jumlah uang untuk menyelenggarakan pertandingan dengan VAR selalu datang dengan jumlah yang besar, belum lagi masalah terkait personel," bunyi narasi pemberitaan itu.

VAR Bukan Sekadar Kamera dan Peralatan

Layar raksasa memperlihatkan VAR mendiskualifikasi gol pada laga Manchester City vs AFC Bournemouth. (Laurence Griffiths/Pool via AP)
Layar raksasa memperlihatkan VAR mendiskualifikasi gol pada laga Manchester City vs AFC Bournemouth. (Laurence Griffiths/Pool via AP)

Pengadaan VAR membutuhkan anggaran yang besar. Berkaca dari rencana PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk menggunakan VAR di Liga 1 musim depan, harga satu set VAR dapat mencapai Rp6 juta dolar AS atau setara dengan Rp85 miliar.

Nominal Rp85 miliar itu untuk paket lengkap VAR, termasuk peralatan dan pelatihan untuk memakainya. Selain perangkatnya yang mahal, penggunaan VAR juga harus didukung oleh infrastruktur yang memadai dan wasit yang terlatih plus berlisensi.

"Ada banyak hal yang harus dilakukan dengan VAR, bukan hanya peralatannya. Kami harus memiliki lisensi, wasit VAR ada di ruangan dan di luar lapangan yang juga terlatih," ujar Sekjen Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT), Patit Supaphong kepada Bangkok Post disadur dari Zing News.

"Harus kita akui, tidak banyak wasit yang mengenal VAR di Asia Tenggara. Bahkan kompetisi di negara tuan rumah pun tidak menggunakan teknologi VAR," ucap Patit Supaphong.

ASEAN Cuma Punya 2 Wasit Berlisensi VAR

Wasit David Coote melihat layar VAR saat pertandingan Manchester United melawan West Bromwich Albion pada laga Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Minggu (22/11/2020). MU menang dengan skor 1-0. (Alex Livesey/Pool via AP)
Wasit David Coote melihat layar VAR saat pertandingan Manchester United melawan West Bromwich Albion pada laga Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Minggu (22/11/2020). MU menang dengan skor 1-0. (Alex Livesey/Pool via AP)

Di Piala AFF 2020, panitia menggunakan 12 wasit dengan rincian delapan berasal dari Asia Barat, dua dari Korea Selatan, dan dua dari Malaysia dan Singapura.

Sebenarnya, dua wasit dari Asia Tenggara telah mempunyai lisensi VAR. Keduanya adalah Muhammad Taqi Aljaafari dari Singapura dan wasit wanita Bui Thi Thu Trang dari Vietnam. Namun, keduanya tidak bertugas di Piala AFF 2020.

"Jika Anda ingin menerapkan teknologi VAR, Anda harus memenuhi standar FIFA. Selain itu, tergantung kepada federasi kontinental. Tidak semua turnamen memiliki VAR," papar seorang pejabat Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) kepada Zing News.

Cerita Shin Tae-yong tentang VAR

Di pemusatan latihan nanti, Indonesia akan melakukan laga uji coba untuk persiapan jelang menghadapi Piala AFF 2020. Pasukan Shin Tae-yong akan bertanding melawan Afghanistan (16/11/2021) dan Myanmar (25/11/2021) di Turki. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Di pemusatan latihan nanti, Indonesia akan melakukan laga uji coba untuk persiapan jelang menghadapi Piala AFF 2020. Pasukan Shin Tae-yong akan bertanding melawan Afghanistan (16/11/2021) dan Myanmar (25/11/2021) di Turki. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Dua hari setelah leg pertama babak semifinal Piala AFF 2020 melawan Singapura, pelatih Shin Tae-yong baru sadar bahwa Timnas Indonesia seharusnya mendapatkan tendangan penalti ketika Ricky Kambuaya dijatuhkan di kotak terlarang.

Arsitek asal Korea Selatan itu juga sepakat dengan penyataan nakhoda Vietnam, Park Hang-seo, yang menyarankan penggunaan video assistant referee (VAR) dalam Piala AFF di masa depan.

"Saya berpendapat bahwa Piala AFF sangat butuh VAR," kata Shin Tae-yong dalam konferensi pers virtual sebelum partai Timnas Indonesia kontra Singapura, Jumat (24/12/2021).

"Saya adalah pelatih yang berpengalaman di Piala Dunia. Sebagai manusia, memang kita tidak bisa melihat tepat 100 persen. Meski para pemain bermain 100 persen, bisa saja wasit menghancurkan laga."

"Singapura memang punya kelebihan sebagai tuan rumah, namun wasit harus membantu para pemain agar lebih menonjol dan menjaga sportivitas. Kami seharusnya dapat penalti ketika Kambuaya dijatuhkan," tuturnya.

Shin Tae-yong Baru Sadar Wasit Salah

Manajer pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, didampingi Indra Sjafri, saat sesi latihan di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Senin (13/1/2020). Sebanyak 51 pemain mengikuti seleksi untuk memperkuat skuat utama Timnas Indonesia U-19. (Bola.com/M Iqbal Ic
Manajer pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, didampingi Indra Sjafri, saat sesi latihan di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Senin (13/1/2020). Sebanyak 51 pemain mengikuti seleksi untuk memperkuat skuat utama Timnas Indonesia U-19. (Bola.com/M Iqbal Ic

Shin Tae-yong sempat enggan berdebat terkait keputusan wasit ketika Timnas Indonesia diimbangi Singapura 1-1 pada 22 Desember 2021. Kala itu, pelanggaran pemain Singapura atas Kambuaya terlihat jelas masih berada di zona kotak 16.

Alih-alih tendangan 12 pas, wasit Kim Hee-gon dari Korea Selatan justru memberikan Timnas Indonesia sepakan bebas di luar kotak penalti.

Shin Tae-yong juga menilai Vietnam seharusnya dihadiahi tendangan penalti tatkala berhadapan dengan Thailand dalam semifinal leg pertama pada Kamis (23/12/2021).

Dari tayangan ulang, bek Weerathep Pomphanyang menyentuh bola di kotak terlarang namun wasit Soud Ali Al-Abda bergeming. Dia tidak menyatakan pelanggaran untuk Vietnam dan pertandingan tetap berlanjut.

"Vietnam sama, mereka semestinya mendapatkan penalti. Saya bingung kenapa tidak diberikan. Apakah itu salah wasit atau tidak. Tapi, untuk meningkatkan kualitas turnamen, para pemain harus lebih bekerja keras dan wasit juga, tentu butuh VAR," jelas Shin Tae-yong.

Park Hang-seo Minta VAR

Pelatih Timnas Vietnam U-22, Park Hang-seo. (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan.
Pelatih Timnas Vietnam U-22, Park Hang-seo. (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan.

Akibat keputusan keliru dan sejumlah kepemimpinan kontroversial lainnya dari wasit, Vietnam kalah 0-2 dari Thailand.

Meski dirugikan oleh kinerja wasit, Park Hang-seo enggan menyalahkan Soud Ali Al-Abda. Namun, dia menyindir pengadil asal Qatar itu untuk introspeksi dengan menonton tayangan ulang pertandingan kedua tim.

Kompatriot Shin Tae-yong dari Korea Selatan ini juga mendesak AFF untuk menyediakan VAR di masa depan.

"Saya tidak ingin berbicara tentang wasit. Saya hanya berharap dia akan menonton ulang pertandingan jika dia punya waktu. Sulit untuk mengomentari keputusan wasit," kata Park Hang-seo dinukil dari VN Express.

"Saya hanya punya satu permintaan kepada penyelenggara, VAR sangat populer saat ini dan kita harus membawanya ke turnamen ini. Mudah-mudahan, itu akan digunakan di turnamen berikutnya untuk membantu wasit membuat keputusan yang tepat," jelasnya.

Sumber: Zing News, VN Express

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel