‘Meeting Farewell’, Film Pendek Indonesia Menang Festival Film di Munich

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Bandung - Film pendek ‘Meeting Farewell’ besutan sutradara muda Ghafara Difa Harashta meraih penghargaan di Festival Unified Filmmakers 2021 yang berpusat di Munich, Jerman. Film asal Indonesia ini menyabet juara kedua kategori penonton terbanyak untuk durasi 5-20 menit.

Dalam kategori ini terdapat pemenang pertama yaitu The Pitch besutan sutradara asal Singapura, Ken Kwek. Sementara di peringkat ketiga diraih sutradara asal Jerman, Marianna Olmez, dengan film berjudul The Mission.

Unified Filmmakers merupakan festival bagi para pembuat film di seluruh dunia untuk menceritakan kisah pribadi mereka tentang apa yang menjadi perhatian saat ini. Pada tahun ini, festival yang digelar pertama kalinya ini mengangkat isu mengenai virus Corona (Covid-19). Dengan konsep ini, Festival Unified Filmmakers bertujuan untuk menjadi acara tahunan di kancah festival.

Adapun keikutsertaan para pembuat film di festival yang berlangsung secara daring ini dimulai sejak Maret. Semua pengiriman berlangsung secara gratis di situs mereka. Sebanyak 10-20 kontribusi terbaik bakal ditampilkan di layar lebar di Festival Film Munich tahun ini.

“Saya senang film ini bisa diputar dan ditonton oleh penonton di penjuru bumi manapun. Bahwa di waktu-waktu seperti ini (pandemi Covid-19), film tetap bisa menyatukan banyak orang. Bahkan lewat film-film yang diputar itu bisa saling menguatkan lewat memori kolektif yang kita punya,” kata Rashta kepada Liputan6.com, Sabtu (10/7/2021).

Menurut Rashta, penghargaan atas filmnya ini memberi semangat baru. Sebelumnya dia pernah mengikuti festival atau kompetisi lokal Jakarta dan Bandung. Biasanya, film-film garapannya bercerita tentang kompleksitas hubungan anak dan orang tua, juga berbicara tentang ambisi dan mimpi.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Sekilas Film Meeting Farewell

“Proses awalnya saya membaca skenario yang ditulis MF Rani tentang dua orang pasien Covid-19 yang saling menguatkan meski tidak bisa saling bertemu. Dari sana, yang terlintas di pikiran saya adalah bagaimana jika bentuk film ini adalah dua orang yang tidak pernah bertemu, berkomunikasi lewat bahasa yang paling universal, yaitu musik,” ujarnya.

“Dan ketika pencarian musik itu dilakukan, sebisa mungkin kita mencari musik seperti apa yang secara komposisi dan mood bisa membuat cerita ini utuh. Kami memilih karya musisi Indonesia untuk merepresentasikan bahwa film ini hasil karya Indonesia, dan lagu Sadness Becomes Her, musik dari Ananda Sukarlan lah yang menurut kami mampu menyuarakan adegan-adegan yang minim dialog di film ini,” cetus Rashta.

Film berdurasi 15 menit dan 36 detik ini mengisahkan seorang pria bernama Bayu (30). Dia mengira dirinya pasien Covid-19 yang terakhir di tempat karantina. Tiba-tiba, pada hari ketiga karantina, seorang perempuan Lintang (26) datang mengisi kamar di seberang ruangan Bayu.

Selama masa isolasi, Bayu mengeluarkan segala kegelisahan rasa sepinya dengan bermain biola. Sementara tanpa dia sangka musiknya menggerakkan semangat Lintang dalam menjalani hari-harinya.

Penulis naskah ‘Meeting Farewell’ MF Rani menambahkan, keputusan untuk meminimalisir dialog dalam film ini bertujuan untuk menekankan kalimat-kalimat yang dulunya dianggap basa basi. Namun sekarang kalimat itu menjadi benar-benar bermakna.

“Misalnya, bagaimana kabarnya, sehat-sehat ya, ini buat kamu. Situasi pandemi ini membuat banyak membuat orang kaget dengan perubahan yang tiba-tiba. Namun sesederhana menanyakan kabar, mungkin bisa menyelamatkan orang dari kesedihan yang dia simpan sendiri,” kata Rani.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel